@aircrashdaily: Spiraling Out of Control ✈️😰 • • ✈️: USAir Flight 427 📹: Air Crash Investigation Season 4 Episode 5 • • On 3 March 1991, a Boeing 737 operating as United Airlines Flight 585 suddenly rolls into a dive and crashes within eight seconds, killing all 25 people on board. On 8 September 1994, USAir Flight 427 also rolls and crashes within thirty seconds, killing all 132 people on board. On 9 June 1996, Eastwind Airlines Flight 517 also rolls unexpectedly in similar circumstances, but the crew successfully regains control of the aircraft and lands safely. The cause of all three incidents was a design flaw with the rudder's control system which allowed the rudder to suddenly and unexpectedly go to full deflection and jam due to thermal shock of the hydraulic control valve. • • #aircrashinvestigation #mayday #airdisaster #usair427 #pennsylvania

Air Crash Daily
Air Crash Daily
Open In TikTok:
Region: ID
Monday 15 September 2025 12:45:06 GMT
509415
12755
136
250

Music

Download

Comments

surely71134
surely71134 :
Charlie Kirk’s fault
2025-09-16 03:31:09
42
adamski996fugazi
fUgAzi :
If I recall this is the one where the hydraulic actuator which controls the rudder went into reverse, so right became left and left became right...the harder the captain was trying to bank right to correct it was actually making the plane go left! all because of ice which froze actuator!
2025-09-15 15:36:48
67
coolkidgaryy
coolkidgaryyyy :
Another reason I don't fly!
2025-09-17 15:44:34
24
mcafee330
mcafee330 :
Wrong livery. US Air 427 was in the red, white and blue color sceme. You really take commercial air travel for granted until one comes down. This day has never been forgotten in Pittsburgh.
2025-09-18 08:59:24
1
air_china_productions
The_Aviation_Expert :
This was the second Boeing 737 to spiral out of control and crash leaving no survivors, the crash was so immense that it was a biohazard...
2025-10-08 07:09:41
5
user1034669483908
user1034669483908 :
this happened to 3 planes. the first two crashed with no survivors. the captain was able to bring the 3rd one, landing in Richmond Virginia, under control at the last minute and land safely. then they figured out the rudder actuator issue.
2025-09-15 20:37:21
17
claude.taylor.hi
claude.taylor.HI :
United had same problem it was 737 hidden flaw
2025-09-19 19:51:49
2
y4648070
y :
god bless them all
2025-09-15 18:00:42
4
user1311892119
Léo :
Always 737
2025-09-16 00:08:56
2
i.sohailkhan
⚜️_𝙎𝙆_⚜️ :
movie name??
2025-09-16 18:25:18
0
sequeda93
sequeda93 :
Problème de gouverne de direction… ce qui a causé le crash de l’avion
2025-09-16 09:06:28
1
captharis747
Haris :
Boeing 🗿
2025-09-15 13:37:29
10
fldituilenvideocho
Mon phur :
Year?
2025-10-10 11:52:58
0
zaw.than03
Zaw Than :
In co
2026-03-13 14:54:12
0
giovannaantonelly04
giovannaantonelly04 :
2026-02-20 14:04:41
0
ahmdzkabd
KerennBett :
Wingsheer semengerikan itu? Tapi ga sampe pesawatnya mobat mabit kalikk
2025-09-16 04:57:23
3
vanzzkenzz7
كينزو :
ada mas amba🗿
2025-09-16 13:13:24
1
briflybribri
BriFlyBriBri :
Noooooooooooooooooooooooo
2025-09-17 02:59:42
0
0410enone
jeff :
is it a boeing
2025-10-05 06:50:01
0
abidinolimanbiiga
abidinolimanbiiga :
La suite svp
2025-09-17 20:35:09
0
usemidiwo
zacharia :
Waht happen
2025-09-18 20:51:33
0
peterchege788
Peter Chege788 :
I This why I hate flying
2025-11-13 18:41:11
0
damazoirancardeas
X D :
porque el que graba no hizo nada 🙁
2025-10-21 09:13:55
0
umx74
MX :
x_14y0
2025-09-15 14:21:15
0
To see more videos from user @aircrashdaily, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BIREUEN I ACEH INFO – Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, terletak di pusat Kota Kabupaten Bireuen. Tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 1, Dusun Kommes, Desa Bireuen Meunasah Capa, Kecamatan Kota Juang. Masjid yang dibangun sejak tahun 1965 ini, kini terus berbenah dan semakin indah. Bahkan masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen, terus diperluas. Letaknya yang sangat strategis, masjid yang mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, kini menjadi tujuan wisatawan religi. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga sering dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk melangsungkan pernikahan dan prewedding. Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tidak hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia. Sejarah Masjid Agung Bireuen Masjid Agung Bireuen ini memiliki sejarah panjang. Dulu masjid ini belum memiliki nama, atau sering dikatakan oleh jamaah dan masyarakat setempat sebagai Masjid Jamik. Sejak beberapa tahun ini, berubah nama menjadi Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh. Dr Saifullah MPd, Rektor IAI Al-Muslim Peusangan, adalah ketua panitia pelaksana penamaan Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, pada rapat pengurus masjid, akhir Maret 2017 lalu. Awalnya pada tahun 1965, di Bireuen, terbitlah sebuah kesepakatan pembangunan masjid, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya masjid. Inilah cerita singkat orang tua terdahulu yang disampaikan kembali oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Shaifuddin, yang ditemui Acehinfo.id, Jumat (4/2/2022). “Masyarakat sangat antusias dengan dua butir kelapa untuk pembangunan masjid,” tambah Tgk M Jafar (bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen), mengenang cerita indah masa lalu tersebut. Saat itu, lanjutnya, jamaah Masjid Bireuen ini meliputi wilayah Teupin Mane dan Buket Teukuh. Menurut cerita tutur orang tua terdahulu, sekitar tahun 1965 terjadi gempa besar dan sebuah masjid di Desa Pulo Ara rusak total. Satu-satunya rumah ibadah tersebut (menurut Tgk Muhammad Jafar, dulu masjid di Bireuen baru ada di Pulo Ara, imum syiknya Tgk Bullah, ayah dari mantan Bupati Bireuen Mustafa A Glanggang). Masyarakat pun duek pakat (berembuk) dan membangun masjid baru di Dusun Kommes Bireuen. Solusi kelapa sumbangan pun akhirnya menjadi rupiah untuk membeli segala sesuatu keperluan pembangunan masjid baru, yang sekarang bernama Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Cambuk Pertama di Aceh Saat Bireuen dipimpin oleh H Mustafa A Glanggang, di masjid ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu. Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan catatan sejarah bagi Aceh serta Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu. Masjid yang Megah Hari ke hari hingga berbilang tahun akhirnya Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen menjadi sebuah masjid nan megah. “Pendiri masjid waktu itu mungkin tidak pernah membayangkan masjid yang dulunya dibangun dari sumbangan kelapa, kini menjadi masjid agung atau masjid kabupaten,” kata Tgk M Jafar. Saat ini, masjid ini memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih. Kini masjid ini mulai diperluas ke bagian baratnya dan akan ditambah tiga kubah dan dua menara di bagian Utara dan Selatan. Tempat wudhuknya pun sudah dibangun baru di sebelah barat dan sebelah utara. Tempat wudhu sebelah Utara merupakan wakaf H Jamaluddin A Gani, pengusaha sekaligus pengurus Masjid Agung Sultan J
BIREUEN I ACEH INFO – Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, terletak di pusat Kota Kabupaten Bireuen. Tepatnya di lintas nasional Bireuen-Takengon, Km 1, Dusun Kommes, Desa Bireuen Meunasah Capa, Kecamatan Kota Juang. Masjid yang dibangun sejak tahun 1965 ini, kini terus berbenah dan semakin indah. Bahkan masjid kebanggaan masyarakat Kabupaten Bireuen, terus diperluas. Letaknya yang sangat strategis, masjid yang mirip dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh ini, kini menjadi tujuan wisatawan religi. Daya tariknya mungkin dari arsitektur Timur Tengah. Masjid ini juga sering dimanfaatkan oleh pengantin baru untuk melangsungkan pernikahan dan prewedding. Salah satu destinasi wisata religi di Bireuen ini, tidak hanya dikunjungi warga setempat, tapi juga dari luar kabupaten, bahkan luar negeri, khususnya Malaysia. Sejarah Masjid Agung Bireuen Masjid Agung Bireuen ini memiliki sejarah panjang. Dulu masjid ini belum memiliki nama, atau sering dikatakan oleh jamaah dan masyarakat setempat sebagai Masjid Jamik. Sejak beberapa tahun ini, berubah nama menjadi Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Tak asal ganti nama. Penabalan itu terjadi melalui seminar dan konsultasi ke ulama kharismatik Aceh. Dr Saifullah MPd, Rektor IAI Al-Muslim Peusangan, adalah ketua panitia pelaksana penamaan Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, pada rapat pengurus masjid, akhir Maret 2017 lalu. Awalnya pada tahun 1965, di Bireuen, terbitlah sebuah kesepakatan pembangunan masjid, bahwa bagi setiap pemilik pohon kelapa, apabila memanen hasil kelapa, agar menyumbangkan dua butir dari setiap pohon yang dipanen, untuk biaya masjid. Inilah cerita singkat orang tua terdahulu yang disampaikan kembali oleh Imam Besar Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Tgk Shaifuddin, yang ditemui Acehinfo.id, Jumat (4/2/2022). “Masyarakat sangat antusias dengan dua butir kelapa untuk pembangunan masjid,” tambah Tgk M Jafar (bilal Masjid Agung Sultan Jeumpa, Bireuen), mengenang cerita indah masa lalu tersebut. Saat itu, lanjutnya, jamaah Masjid Bireuen ini meliputi wilayah Teupin Mane dan Buket Teukuh. Menurut cerita tutur orang tua terdahulu, sekitar tahun 1965 terjadi gempa besar dan sebuah masjid di Desa Pulo Ara rusak total. Satu-satunya rumah ibadah tersebut (menurut Tgk Muhammad Jafar, dulu masjid di Bireuen baru ada di Pulo Ara, imum syiknya Tgk Bullah, ayah dari mantan Bupati Bireuen Mustafa A Glanggang). Masyarakat pun duek pakat (berembuk) dan membangun masjid baru di Dusun Kommes Bireuen. Solusi kelapa sumbangan pun akhirnya menjadi rupiah untuk membeli segala sesuatu keperluan pembangunan masjid baru, yang sekarang bernama Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen. Cambuk Pertama di Aceh Saat Bireuen dipimpin oleh H Mustafa A Glanggang, di masjid ini pula telah menjadi tempat pelaksanakan hukuman cambuk pertama di Aceh. Sejarah mencatat, sebanyak 26 dari 27 pelaku pelanggaran maisir (judi) di Kabupaten Bireuen, dicambuk usai shalat Jumat 24 Juni 2005 lalu. Hukuman ini merupakan pelaksanaan Undang-undang Syariat Islam di Aceh. Waktu itu, orang memadati halaman masjid, menyaksikan uqubat cambuk dan catatan sejarah bagi Aceh serta Masjid Agung Sultan Jeumpa itu sendiri. Itulah gambaran penegakan syariat Islam di Kabupaten Bireuen, kala itu. Masjid yang Megah Hari ke hari hingga berbilang tahun akhirnya Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen menjadi sebuah masjid nan megah. “Pendiri masjid waktu itu mungkin tidak pernah membayangkan masjid yang dulunya dibangun dari sumbangan kelapa, kini menjadi masjid agung atau masjid kabupaten,” kata Tgk M Jafar. Saat ini, masjid ini memiliki tiga kubah besar. Luas bagian dalam 50×30 meter, luas luarnya mencapai 60×50 meter, berdiri di areal seluas dua hektar lebih. Kini masjid ini mulai diperluas ke bagian baratnya dan akan ditambah tiga kubah dan dua menara di bagian Utara dan Selatan. Tempat wudhuknya pun sudah dibangun baru di sebelah barat dan sebelah utara. Tempat wudhu sebelah Utara merupakan wakaf H Jamaluddin A Gani, pengusaha sekaligus pengurus Masjid Agung Sultan J

About