@sh_music_7: One_Sided_Love_Mashup_2025_-_AZEEB___Uska_Hi_Banana___Heartbreak_Chillout_Mashup(M4A_128K).😭🥀🎧‼️#mashup #fullsong #tranding #1m #foryoupage

BK_MUSIC👑
BK_MUSIC👑
Open In TikTok:
Region: PK
Wednesday 24 September 2025 20:36:39 GMT
335870
21162
337
3600

Music

Download

Comments

hasnain_malik_officail0
MALIK 77 :
BRO TEMPLATE CAHYE INBOX AO 🥺 TEMPLATE DY do ♥
2025-09-25 01:41:43
7
mdtamber55
×͜×ㅤᴍᴏʜᴀᴍᴍᴀᴅ ᴛᴀɴᴠɪʀ࿐ :
ow naice
2025-11-21 16:23:27
1
farhanwazir864
Asad khan 2525 vloger :
big fan follow my account 👋
2025-10-22 16:23:51
3
alai.hossain5
alai hossain :
দুঃখ আমাকে দুঃখ দিয়ে বলে আমি দুঃখিত 😅
2025-11-11 06:16:39
1
akhirah7860
Nash(❤️❤️❤️white rose❤️❤️❤️) :
nice song🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2025-10-17 03:12:24
3
subash.loniya
bisram love :
Very nice song
2025-10-16 11:34:21
1
hktheworld2
♡𝐏𝐑𝐈𝐍𝐂𝐄࿐𝙃𝙖𝙧𝙤𝙤𝙣🦅 :
no love bro aik bar love kaya hay bas❤️‍🩹🫀
2025-11-11 10:40:20
2
md.sohail4218
⋆⃝:⎯⃝❥︎পি্ঁচ্ছি্ঁ রা্ঁজা𝄞⋆⃝:⎯ :
lovely Sonng
2025-10-27 09:03:48
3
izatullahattal11324
izatullahatal :
wow love🥰🥰🥰🥰🥰
2025-10-13 03:50:27
1
niceusernamesformysadse3
🇦 🇱 🇴 🇳 🇪 🇧 🇴 🇾 :
𝑳𝒆𝒂𝒓𝒏 𝒕𝒐 𝒂𝒑𝒑𝒓𝒆𝒄𝒊𝒂𝒕𝒆..! 𝑳𝒐𝒗𝒆 𝒅𝒐𝒆𝒔𝒏'𝒕 𝒄𝒐𝒎𝒆 𝒂𝒈𝒂𝒊𝒏 𝒂𝒏𝒅 𝒂𝒈𝒂𝒊𝒏 𝒊𝒏 𝒍𝒊𝒇𝒆.😊❤️🩹
2025-10-06 16:00:24
1
shoukat.qazi
SHOKI Bhai 57❤️‍🩹 :
Nice Song Always Favorite 😘
2025-09-26 15:46:59
2
salmoon320
style by M0oN 💈✂️ :
😳 for you song sad 😭😢 post lAr plz 😭🙏 l am heavy Dil 🤧😭
2025-10-08 15:11:18
1
faisalkhan_361
Faisal khan 🚓🚨 :
heart touching 😒
2025-10-24 07:14:14
1
kamranmughal120
🄼🄰🄻🄰🄽🄶🄸 🄷🄰🄻🄰🅃 :
nice song 🥰🥰🥰✌️✌
2025-10-11 20:31:30
0
ayaz.luck2
🚩💀🚩 :
nice song Meri 🥰
2025-09-25 06:11:37
1
ahsanali097
👑AhsanGujjar👑 :
sawab😁
2025-10-06 17:11:31
1
arif.vai395
arif.vai395 :
নাইছ
2025-10-07 08:33:11
1
h.a.l.a840
🈲🈹🈵 :
Song name
2025-10-07 14:27:01
1
m.naseem.zwak
M,Naseem,ZWAK :
she broke my💔🥺
2025-10-19 20:55:23
1
mohsingujjar179
Mohsin gujjar :
😇
2025-12-12 17:02:26
1
user3763594216771
user3763594216771 :
😁😁😁
2025-11-29 14:27:17
1
jrs.saim
Jrs Saim :
🥰🥰🥰
2025-11-16 16:27:40
2
arifislamarif6211
┈━═☆🍁গুরু🍁☆═━┈ :
@🎀..._J...💝.. 💗🖤
2025-11-11 16:21:30
3
bornboy28
it's bornboy :
🥰🥰🥰
2025-11-16 12:20:28
1
absalam518
ÆS KHÆÑ :
❤️❤️❤️
2025-12-09 02:57:41
1
To see more videos from user @sh_music_7, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : Senyuman Juhoon saat mengajakmu berkenalan hari itu adalah kehangatan pertama yang menyusup ke hatimu. Kalian dipertemukan oleh riuh karantina olimpiade nasional.  Di antara tumpukan rumus dan ketatnya jadwal, kebersamaan itu tumbuh. Kalian mulai akrab, menghabiskan malam dengan saling membantu memecahkan soal-soal rumit yang menguras pikiran. Awalnya, kamu hanya mengagumi kecerdasannya. Juhoon selalu punya cara instan untuk mengurai soal tersulit sekalipun. Namun, ketenangan dan binar matanya saat berpikir perlahan menumbuhkan sesuatu yang lain di dalam dadamu—sebuah rasa yang lebih dari sekadar kekaguman antarpesaing. Hari kompetisi matematika itu akhirnya tiba. Di ambang pembuktian terbesar hidup kalian, tidak ada persaingan toxic di antara kalian. Hanya ada genggaman tangan yang saling menguatkan, bisikan doa, dan harapan tulus agar kalian berdua bisa berdiri di podium juara yang sama, lalu melangkah bersama mewakili negara di kancah internasional. Saat pengumuman pemenang dibacakan, namanyalah yang menggema di posisi pertama. Juhoon menang. Detik itu juga, rasa bangga dan bahagia meledak di dadamu, bahkan jauh lebih besar daripada saat namamu sendiri diumumkan sebagai juara ketiga. Kamu bersorak paling keras untuknya. Sore itu penuh dengan tawa. Teman-teman sesama peserta karantina nasional ikut riuh, meledek dan menjodoh-jodohkan kalian yang berdiri bersebelahan dengan medali menggantung di leher.  Di tengah sorakan manis itu, seseorang berteriak meminta kalian mendekat untuk foto bersama. Juhoon menoleh menatapmu, tersenyum begitu lebar, lalu merangkul bahumu pelan saat kamera mengabadikan momen kebersamaan kalian. Foto itu merekam segalanya dengan sempurna: medali emas di dadanya, medali perunggu di dadamu, tawa riang teman-teman di latar belakang, dan binar cinta yang tidak bisa lagi kamu sembunyikan. Itu adalah puncak kebahagiaan tertinggi yang pernah kamu rasakan bersamanya. Kehangatan itu ternyata tidak bertahan lama. Setelah kompetisi nasional berakhir, jalan kalian tidak berhenti di sana. Kamu dan Juhoon kembali bertemu di berbagai ajang olimpiade matematika bergengsi lainnya. Namun, di sinilah garis takdir kalian mulai terasa mencekik. Setiap kali hasil papan skor diumumkan, polanya selalu sama dan tidak pernah berubah. Juhoon di posisi pertama, dan kamu tepat di bawahnya, di posisi kedua. Satu tingkat di bawahnya, namun terasa berjarak ribuan mil jauhnya. Awalnya kamu mencoba bertahan. Namun, lama-kelamaan rasa kagum itu mengikis dirimu sendiri. Kamu mulai merasa seperti bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa melampaui cahayanya. Setiap ucapan selamat yang tulus dari Juhoon justru terdengar seperti ejekan di telingamu yang sedang terluka oleh rasa ego dan lelah. Di depan piala-piala yang ia menangkan, kamu merasa sangat kecil dan tidak berarti.  Rasa tersaingi itu pelan-pelan berubah menjadi racun. Kamu mulai sengaja mengabaikan pesannya, menolak ajakan belajar bersama, dan mengambil langkah mundur setiap kali dia mencoba mendekat. Kamu memilih menjauhkan diri, mengubur perasaan yang pernah tumbuh, bukan karena kamu membencinya—tapi karena kamu membenci dirimu sendiri yang tidak pernah bisa menyusul posisinya.  Sikap dinginmu akhirnya meruntuhkan kesabaran Juhoon. Sore itu, setelah pengumuman kompetisi kesekian kalinya—di mana namanya kembali berada di puncak dan namamu di urutan kedua—dia menghadang langkahmu di koridor yang sepi. Juhoon tidak lagi tersenyum berbinar seperti biasanya. Tatapannya layu, penuh luka yang tidak kamu pahami.
POV : Senyuman Juhoon saat mengajakmu berkenalan hari itu adalah kehangatan pertama yang menyusup ke hatimu. Kalian dipertemukan oleh riuh karantina olimpiade nasional. Di antara tumpukan rumus dan ketatnya jadwal, kebersamaan itu tumbuh. Kalian mulai akrab, menghabiskan malam dengan saling membantu memecahkan soal-soal rumit yang menguras pikiran. Awalnya, kamu hanya mengagumi kecerdasannya. Juhoon selalu punya cara instan untuk mengurai soal tersulit sekalipun. Namun, ketenangan dan binar matanya saat berpikir perlahan menumbuhkan sesuatu yang lain di dalam dadamu—sebuah rasa yang lebih dari sekadar kekaguman antarpesaing. Hari kompetisi matematika itu akhirnya tiba. Di ambang pembuktian terbesar hidup kalian, tidak ada persaingan toxic di antara kalian. Hanya ada genggaman tangan yang saling menguatkan, bisikan doa, dan harapan tulus agar kalian berdua bisa berdiri di podium juara yang sama, lalu melangkah bersama mewakili negara di kancah internasional. Saat pengumuman pemenang dibacakan, namanyalah yang menggema di posisi pertama. Juhoon menang. Detik itu juga, rasa bangga dan bahagia meledak di dadamu, bahkan jauh lebih besar daripada saat namamu sendiri diumumkan sebagai juara ketiga. Kamu bersorak paling keras untuknya. Sore itu penuh dengan tawa. Teman-teman sesama peserta karantina nasional ikut riuh, meledek dan menjodoh-jodohkan kalian yang berdiri bersebelahan dengan medali menggantung di leher. Di tengah sorakan manis itu, seseorang berteriak meminta kalian mendekat untuk foto bersama. Juhoon menoleh menatapmu, tersenyum begitu lebar, lalu merangkul bahumu pelan saat kamera mengabadikan momen kebersamaan kalian. Foto itu merekam segalanya dengan sempurna: medali emas di dadanya, medali perunggu di dadamu, tawa riang teman-teman di latar belakang, dan binar cinta yang tidak bisa lagi kamu sembunyikan. Itu adalah puncak kebahagiaan tertinggi yang pernah kamu rasakan bersamanya. Kehangatan itu ternyata tidak bertahan lama. Setelah kompetisi nasional berakhir, jalan kalian tidak berhenti di sana. Kamu dan Juhoon kembali bertemu di berbagai ajang olimpiade matematika bergengsi lainnya. Namun, di sinilah garis takdir kalian mulai terasa mencekik. Setiap kali hasil papan skor diumumkan, polanya selalu sama dan tidak pernah berubah. Juhoon di posisi pertama, dan kamu tepat di bawahnya, di posisi kedua. Satu tingkat di bawahnya, namun terasa berjarak ribuan mil jauhnya. Awalnya kamu mencoba bertahan. Namun, lama-kelamaan rasa kagum itu mengikis dirimu sendiri. Kamu mulai merasa seperti bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa melampaui cahayanya. Setiap ucapan selamat yang tulus dari Juhoon justru terdengar seperti ejekan di telingamu yang sedang terluka oleh rasa ego dan lelah. Di depan piala-piala yang ia menangkan, kamu merasa sangat kecil dan tidak berarti. Rasa tersaingi itu pelan-pelan berubah menjadi racun. Kamu mulai sengaja mengabaikan pesannya, menolak ajakan belajar bersama, dan mengambil langkah mundur setiap kali dia mencoba mendekat. Kamu memilih menjauhkan diri, mengubur perasaan yang pernah tumbuh, bukan karena kamu membencinya—tapi karena kamu membenci dirimu sendiri yang tidak pernah bisa menyusul posisinya. Sikap dinginmu akhirnya meruntuhkan kesabaran Juhoon. Sore itu, setelah pengumuman kompetisi kesekian kalinya—di mana namanya kembali berada di puncak dan namamu di urutan kedua—dia menghadang langkahmu di koridor yang sepi. Juhoon tidak lagi tersenyum berbinar seperti biasanya. Tatapannya layu, penuh luka yang tidak kamu pahami. "Kenapa, sih?" tanyanya langsung, menahan pergelangan tanganmu pelan namun tegas. Suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Kamu selalu ngehindar tiap kali aku chat. Kamu selalu nolak tiap aku ajak belajar bareng. Aku ada salah apa sama kamu?" comment section! 💬 #cortis #juhoon #au #foryou #pov

About