@hawraa__issa:

Hawraa حوراء 🍉
Hawraa حوراء 🍉
Open In TikTok:
Region: LB
Sunday 28 September 2025 07:45:18 GMT
36563
434
16
5

Music

Download

Comments

banineawad
Banine Awad :
ماشالله تبارك الله شو تستعملي لشعرا
2025-09-28 14:00:58
1
oumkoki7
👑maria 🇩🇿✨ :
لاااااا تقصيه
2025-09-28 08:11:28
0
oumkoki7
👑maria 🇩🇿✨ :
امانة لا تقصيييه
2025-09-28 08:11:38
0
mmyyyth
m :
يارب هربت لاااتقصينه
2025-09-28 08:37:40
0
umnia38
مــﯾטּــاتـه‍♥️ :
لااااا ليششششششششششش
2025-09-28 10:05:55
0
alii.issaa
Ali :
😂
2025-09-28 10:37:55
0
judekmail
𝙅𝙐𝘿𝙀. :
امانة ما تققققصصيييه
2025-09-28 11:43:47
0
3n__k
✍🏻 ͜ تينــة :
ما شاء الله ❤️❤
2025-09-29 06:06:07
0
raniaahmed9727
عاشقة الأطفال 🥺💜 :
هربت طبعا😅زهقت من القص شكلة
2025-09-29 10:13:38
0
To see more videos from user @hawraa__issa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Semakin dewasa seseorang memahami Renegade Immortal, semakin terasa kalau donghua ini sebenarnya bukan cuma soal kultivasi atau menjadi kuat. Ini adalah cerita tentang manusia yang tidak bisa berdamai dengan kehilangan. Dalam banyak donghua xianxia, hampir semua tokohnya punya tujuan yang sama: “melawan langit”. Dulu saya kira itu cuma kalimat keren khas donghua kultivasi. Tapi semakin dipahami, “langit” di sana ternyata bukan sekadar langit biasa. “Langit” atau heavens (sistem kosmik/takdir alam semesta) adalah simbol dari: takdir, keterbatasan manusia, kematian, waktu, dan kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah benar benar bisa kita kendalikan. Makanya para kultivator ingin melampaui heavens. Mereka bukan sedang melawan awan atau dewa. Mereka sedang melawan rasa tidak berdaya sebagai manusia. Dan Wang Lin adalah salah satu representasi paling tragis dari itu. Dia bukan tokoh yang sejak awal haus kekuatan. Dia bukan MC yang bercita cita menguasai dunia. Dia cuma seseorang yang perlahan dihancurkan oleh kehilangan.  Keluarganya dibantai. Dia hidup dalam kesendirian. Tangannya dipenuhi pembunuhan. Dan orang yang paling ia cintai perlahan direnggut oleh takdir. Dari situlah lahir konsepsinya: “hidup dan mati”. Tapi konsep hidup dan mati milik Wang Lin bukan sekadar pemahaman kalau manusia lahir lalu mati. Itu terlalu dangkal. Yang dipahami Wang Lin adalah bahwa seluruh eksistensi manusia sebenarnya bergerak dalam lingkaran yang kejam: bertemu, mencintai, kehilangan, berharap, hancur, lalu mencoba hidup lagi. Semakin ia memahami kehidupan, semakin ia sadar kalau kematian tidak pernah benar benar selesai. Kematian melahirkan penderitaan. Penderitaan melahirkan perubahan. Perubahan melahirkan karma baru. Dan karma mengikat manusia pada siklus yang tidak berujung. Mungkin karena itu Buddha pernah mengatakan: “Attachment is the root of suffering.” (Keterikatan adalah akar penderitaan.) Karena semakin manusia mencintai sesuatu, semakin besar rasa takutnya untuk kehilangan. Dan mungkin... di situlah alasan kenapa tema “melawan langit” terasa sangat relate bagi manusia modern. Karena jujur saja, banyak manusia hari ini sebenarnya sedang lelah melawan hidup. Banyak yang terlihat tertawa, tapi diam diam kehilangan arah. Banyak yang terlihat biasa saja, padahal tiap malam berperang dengan pikirannya sendiri. Dan yang paling menyedihkan, semakin ke sini semakin banyak anak muda yang merasa: hidup terlalu berat untuk dijalani. Pelajar. Mahasiswa. Orang yang bahkan umurnya belum benar benar mulai. Kadang mereka bukan tidak ingin hidup. Mereka cuma ingin: rasa sakitnya berhenti. Karena ada titik dimana manusia merasa: doanya tidak didengar, usahanya tidak mengubah apa apa, dan masa depannya terlihat gelap. Lalu perlahan muncul pertanyaan yang sangat mengerikan: “Kalau hidup cuma tentang kehilangan dan penderitaan… lalu untuk apa bertahan?” Dan mungkin… itulah titik paling berbahaya ketika manusia mulai membenci takdirnya sendiri. Karena sebenarnya keinginan mengakhiri hidup sering kali bukan karena seseorang membenci kehidupan. Tetapi karena ia terlalu lama memikul rasa sakit sendirian. Dalam Islam, ini menarik sekali. Karena Islam tidak pernah menyangkal bahwa hidup memang berat. Allah sendiri berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4) Artinya: penderitaan bukan tanda Allah membenci manusia. Ia memang bagian dari kehidupan itu sendiri. Bahkan para nabi: kehilangan, menangis, dikhianati, lapar, dan merasakan kesedihan yang sangat dalam. Nabi Ya’qub menangis sampai matanya memutih karena kehilangan Nabi Yusuf. Namun beliau tetap berkata: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) Dan mungkin itu yang membedakan konsep “melawan langit” dengan konsep tawakal dalam Islam. (lanjut di kolom komentar)... #analisis #donghua #renegadeimmortal #filsafat #tasawuf
Semakin dewasa seseorang memahami Renegade Immortal, semakin terasa kalau donghua ini sebenarnya bukan cuma soal kultivasi atau menjadi kuat. Ini adalah cerita tentang manusia yang tidak bisa berdamai dengan kehilangan. Dalam banyak donghua xianxia, hampir semua tokohnya punya tujuan yang sama: “melawan langit”. Dulu saya kira itu cuma kalimat keren khas donghua kultivasi. Tapi semakin dipahami, “langit” di sana ternyata bukan sekadar langit biasa. “Langit” atau heavens (sistem kosmik/takdir alam semesta) adalah simbol dari: takdir, keterbatasan manusia, kematian, waktu, dan kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah benar benar bisa kita kendalikan. Makanya para kultivator ingin melampaui heavens. Mereka bukan sedang melawan awan atau dewa. Mereka sedang melawan rasa tidak berdaya sebagai manusia. Dan Wang Lin adalah salah satu representasi paling tragis dari itu. Dia bukan tokoh yang sejak awal haus kekuatan. Dia bukan MC yang bercita cita menguasai dunia. Dia cuma seseorang yang perlahan dihancurkan oleh kehilangan. Keluarganya dibantai. Dia hidup dalam kesendirian. Tangannya dipenuhi pembunuhan. Dan orang yang paling ia cintai perlahan direnggut oleh takdir. Dari situlah lahir konsepsinya: “hidup dan mati”. Tapi konsep hidup dan mati milik Wang Lin bukan sekadar pemahaman kalau manusia lahir lalu mati. Itu terlalu dangkal. Yang dipahami Wang Lin adalah bahwa seluruh eksistensi manusia sebenarnya bergerak dalam lingkaran yang kejam: bertemu, mencintai, kehilangan, berharap, hancur, lalu mencoba hidup lagi. Semakin ia memahami kehidupan, semakin ia sadar kalau kematian tidak pernah benar benar selesai. Kematian melahirkan penderitaan. Penderitaan melahirkan perubahan. Perubahan melahirkan karma baru. Dan karma mengikat manusia pada siklus yang tidak berujung. Mungkin karena itu Buddha pernah mengatakan: “Attachment is the root of suffering.” (Keterikatan adalah akar penderitaan.) Karena semakin manusia mencintai sesuatu, semakin besar rasa takutnya untuk kehilangan. Dan mungkin... di situlah alasan kenapa tema “melawan langit” terasa sangat relate bagi manusia modern. Karena jujur saja, banyak manusia hari ini sebenarnya sedang lelah melawan hidup. Banyak yang terlihat tertawa, tapi diam diam kehilangan arah. Banyak yang terlihat biasa saja, padahal tiap malam berperang dengan pikirannya sendiri. Dan yang paling menyedihkan, semakin ke sini semakin banyak anak muda yang merasa: hidup terlalu berat untuk dijalani. Pelajar. Mahasiswa. Orang yang bahkan umurnya belum benar benar mulai. Kadang mereka bukan tidak ingin hidup. Mereka cuma ingin: rasa sakitnya berhenti. Karena ada titik dimana manusia merasa: doanya tidak didengar, usahanya tidak mengubah apa apa, dan masa depannya terlihat gelap. Lalu perlahan muncul pertanyaan yang sangat mengerikan: “Kalau hidup cuma tentang kehilangan dan penderitaan… lalu untuk apa bertahan?” Dan mungkin… itulah titik paling berbahaya ketika manusia mulai membenci takdirnya sendiri. Karena sebenarnya keinginan mengakhiri hidup sering kali bukan karena seseorang membenci kehidupan. Tetapi karena ia terlalu lama memikul rasa sakit sendirian. Dalam Islam, ini menarik sekali. Karena Islam tidak pernah menyangkal bahwa hidup memang berat. Allah sendiri berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4) Artinya: penderitaan bukan tanda Allah membenci manusia. Ia memang bagian dari kehidupan itu sendiri. Bahkan para nabi: kehilangan, menangis, dikhianati, lapar, dan merasakan kesedihan yang sangat dalam. Nabi Ya’qub menangis sampai matanya memutih karena kehilangan Nabi Yusuf. Namun beliau tetap berkata: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86) Dan mungkin itu yang membedakan konsep “melawan langit” dengan konsep tawakal dalam Islam. (lanjut di kolom komentar)... #analisis #donghua #renegadeimmortal #filsafat #tasawuf

About