@ivanka_djo: the music video is SOOOOO GOOD I can’t stop thinking about it #thelifeofashowgirl #taylorswift

ivanka_djo
ivanka_djo
Open In TikTok:
Region: AU
Tuesday 07 October 2025 09:44:21 GMT
3220911
329220
227
14027

Music

Download

Comments

nadyiese
🍒✿ :
SAME GURLLL SAME
2025-10-07 10:02:03
2730
acalynx
Aca :
ophelia, opalite, wish list 💃
2025-12-01 23:19:10
78
iiffaa_lliiffaa
iiffaa. :
satu lagi sama opalite
2025-10-07 11:14:56
2466
steffidarmadi
steffi :
me too it's like my hands just start to move against my will
2025-10-07 14:05:06
645
khjgfgfhgjh
୨୧ алина :
and the great switch up has begun 🫩
2025-10-17 17:23:44
218
iyazawra
zarraa :
Everything about OPALITE i loveeee so muchhh
2025-11-23 17:33:19
115
espertrade
Esper Trade :
sama Opalite itu rada nyambung gak sih sbnr nya
2025-11-04 04:40:55
212
bbykeiix
kein :
kalau ga ophelia, ya opalite, itu aja terus diulang💃
2025-12-05 11:59:54
89
user4151783372742
Calantha & You :
áo cổ mặc nha các nàng, có cả màu hồng pastel nữa xinh lắm🥰: BSL-QGY-XMF
2025-12-04 04:43:20
1
azzcicia
Bloopp :
Wow the top!❤
2025-10-07 11:42:17
190
luvlailac
lai⁷་༘ :
ik i can trust u my girl ivanka 🫶🥹
2025-10-07 13:00:38
7
kukubies
Cxndrx :
her best lead single no one could convince me otherwise
2025-10-08 09:14:22
11
alowes4
psyc👌 :
first😍😍😍
2025-10-07 09:45:53
7
aeshcafa
Lathifaa :
fav songgg
2025-10-07 09:47:18
18
user0047293779478
user0047293779478 :
PRETTYYYYYYY
2025-10-07 09:47:37
6
ohyeonii
ohyeonii :
woy lah terngiang ngiang 😭😭😭
2025-10-15 05:29:39
20
sfiq20
TempoyakUdang :
2025-12-13 07:28:41
1
eonni_meyy
Mayza Ryta 🌸 :
lagunya rilis awal bulan oktober baru skrg candu lagunya 😂
2025-11-19 04:34:31
10
huftpft23
. :
aaaaaa terngiang ngiangggg 😀😀😀😀
2025-12-06 16:17:27
1
kalyyouii
vnka :
SAMEEE
2025-10-11 02:55:53
2
kimthv__7
v :
arghhhhh
2025-10-07 13:58:57
2
niken.keii
keii :
ophelia, opalite, wish list 💃
2025-12-06 07:20:59
2
nnnunuq
𝓷 :
i’ve been singing this in my head, and then when i opened my TikTok, this is exactly what I saw. yeah Taylor Swift did it AGAINNNNNNNNNN!!!!!! SHEEEE REALLYYYYYYYYY THE QUEEN!!! 💅🏻
2025-10-08 10:48:19
3
miminaashop
miminaashop⋆𐙚 :
you’re so pretty doing this
2025-10-15 15:21:44
2
roger_and_brians_wife
☆♡Roger and Brian's wife♡☆ :
please make a mattheo riddle edit with this song
2025-11-21 15:08:15
1
To see more videos from user @ivanka_djo, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.
Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.

About