@albane_elvina_rbt:

Albane Elvina RBT
Albane Elvina RBT
Open In TikTok:
Region: FR
Sunday 12 October 2025 21:00:41 GMT
958
26
3
0

Music

Download

Comments

romualdlecompte59300
scorpion :
😍😍😍
2025-10-12 21:21:30
0
maxs1234
maxs🤠 :
🥰🥰🥰
2025-10-12 23:45:06
0
76nini3
nini :
🥰🥰🥰
2025-10-26 00:10:57
0
To see more videos from user @albane_elvina_rbt, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bab 6 — Akhir Sebuah Peradaban (Bagian 1)
Bab 6 — Akhir Sebuah Peradaban (Bagian 1) "Peradaban tidak hancur dalam satu malam. Ia runtuh sedikit demi sedikit... hingga suatu hari, tak ada lagi yang bisa diselamatkan." Lima tahun kemudian. Musim demi musim telah berlalu. Namun Hutan Jura tak lagi dikenal sebagai negeri yang damai. Benteng-benteng berdiri di setiap perbatasan. Menara pengawas memenuhi langit. Jalan-jalan yang dahulu dipadati pedagang kini hanya dilewati konvoi militer. Anak-anak yang dulu bermain tanpa rasa takut... Kini tumbuh sambil mengenakan pedang kayu di pinggang mereka. Mereka lahir di zaman perang. Mereka bahkan tidak tahu seperti apa dunia ketika Rimuru Tempest masih hidup. Di alun-alun Tempest... Patung besar Rimuru berdiri tegak. Di bawahnya terukir sebuah kalimat. "Raja yang mengajarkan bahwa semua ras dapat hidup sebagai keluarga." Setiap pagi... Rakyat meletakkan bunga di depan patung itu. Bukan karena hari itu adalah hari peringatan. Melainkan karena mereka takut... Jika berhenti mengenangnya... Maka harapan terakhir Tempest juga akan ikut menghilang. Di dalam istana. Benimaru berdiri di depan jendela. Rambutnya kini lebih panjang. Tatapannya jauh lebih tajam. Namun wajahnya terlihat lelah. Lima tahun. Lima tahun tanpa Rimuru. Lima tahun memimpin perang yang tak pernah benar-benar selesai. Di atas mejanya... Puluhan laporan kembali menumpuk. "Perbatasan timur kembali diserang." "Gudang pangan terbakar." "Empat desa meminta evakuasi." Tak ada satu pun laporan yang membawa kabar baik. Benimaru memejamkan mata. "...Sudah cukup." Namun ia tahu. Perang tidak akan berhenti hanya karena ia menginginkannya. Di tempat lain... Gobta memimpin latihan pasukan baru. Kini ia bukan lagi prajurit yang sering bercanda. Ia telah menjadi komandan yang dihormati. Di hadapannya berdiri ratusan pemuda. "Kenapa kalian ingin menjadi prajurit Tempest?" Seorang anak menjawab lantang. "Karena aku ingin menjadi seperti Rimuru-sama!" Gobta tersenyum. Namun senyum itu hanya bertahan sesaat. "Kalau begitu..." "Jangan hanya belajar bertarung." "Belajarlah melindungi." "Itulah yang selalu diajarkan Lord Rimuru." Sore harinya. Diablo kembali memasuki ruang kerja Rimuru. Ruangan itu... Masih sama seperti lima tahun lalu. Tak satu pun benda dipindahkan. Debu tak pernah dibiarkan menempel. Seolah semua percaya... Suatu hari nanti... Rimuru akan kembali membuka pintu itu. Diablo memandang kursi kosong tersebut. "Tuanku..." "Lima tahun telah berlalu." "Tempest masih berdiri." "Tapi dunia yang Anda impikan..." "...perlahan menghilang." Untuk pertama kalinya... Suara Diablo terdengar rapuh. Di luar Tempest. Dua orang petualang berjalan melewati reruntuhan sebuah desa. Salah seorang berhenti di depan batu tua. "Desa apa ini?" Temannya menjawab pelan. "Dulu..." "Ini adalah desa pertama yang dibangun bersama manusia dan monster." "Kata orang..." "Rimuru Tempest sendiri yang meresmikannya." Mereka terdiam. Yang tersisa kini hanyalah puing-puing. Rumput liar menutupi jalan. Rumah-rumah telah roboh. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi kehidupan. Seolah desa itu tak pernah ada. Malam pun tiba. Benimaru berdiri di atas tembok kota. Di kejauhan... Puluhan titik api terlihat di balik hutan. Bukan festival. Bukan perayaan. Melainkan desa-desa yang kembali terbakar. Ia menggenggam pedangnya. Namun kali ini... Ia tidak menghunusnya. Karena ia sadar... Meski berhasil memadamkan satu api... Masih ada puluhan api lain yang menyala. Di belakangnya, Shuna datang membawa sebuah surat. "Benimaru-sama..." "Ini laporan dari Sarion." Benimaru membukanya. Wajahnya berubah seketika. Isi surat itu singkat. "Perang telah mencapai wilayah kami." Benimaru perlahan menutup surat itu. Ia menatap langit yang dipenuhi asap. Lalu berbisik pelan. "...Dunia ini..." "...benar-benar mulai runtuh." #tenseishitaraslimedattaken #thattimeigotreincarnatedasaslime #tensura #fyp #animeedit

About