@whitehouseofbeauty: Our hair growth products support a healthier hairline and promote faster hair growth💖

White House Of Beauty
White House Of Beauty
Open In TikTok:
Region: NG
Wednesday 29 October 2025 09:09:02 GMT
452
31
2
0

Music

Download

Comments

evelyn_dada
EVELYN🫶🏻💖 :
💖💖💖
2025-10-29 10:04:44
1
boledi_ledi
Boledi the girl :
🤟
2025-12-02 22:15:21
0
To see more videos from user @whitehouseofbeauty, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Riwayat masyhur ini bersumber dari dialog langsung antara Amirul Mukminin Umar bin Khattab dengan seorang suami yang berniat menceraikan istrinya dengan dalih sudah kehilangan rasa cinta. Kisah ini terekam dalam berbagai literatur adab, tarikh, dan hukum keluarga Islam klasik—antara lain dicatat oleh Al-Khara'ithi dalam I'tilaf al-Qulub, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, serta Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin—ketika Sayyidina Umar menegur lelaki tersebut dengan kalimat yang mengguncang: وَيْحَكَ! أَلَمْ تُبْنَ الْبُيُوتُ إِلَّا عَلَى الْحُبِّ؟! فَأَيْنَ الرِّعَايَةُ وَأَيْنَ التَّذَمُّمُ؟ Celaka engkau! Apakah setiap rumah tangga hanya dibangun di atas cinta semata?! Lantas di mana komitmen menjaga hak, dan di mana rasa malu serta tanggung jawab moralmu? Secara mendalam, Umar bin Khattab membongkar kenaifan romantis yang kerap menjadi biang kerok keretakan rumah tangga modern: mitos bahwa pernikahan hanya bisa bertahan selama debaran asmara masih menyala. Cinta emosional (al-hubb) pada hakikatnya adalah zat yang sangat dinamis, mudah pasang surut, dan dipengaruhi oleh kelelahan fisik, usia, serta rutinitas harian. Jika sebuah ikatan sakral diperlakukan layaknya sensasi pacaran yang bisa dibatalkan begitu rasa manisnya berkurang, maka tidak akan ada satu pun ikatan pernikahan di muka bumi yang sanggup bertahan lama. Sayyidina Umar membedah dua pilar utama yang jauh lebih kokoh daripada sekadar asmara belaka: ar-ri'ayah (penjagaan hak dan nafkah lahir-batin) serta at-tadzammum (keengganan moral untuk berbuat nista, kesetiaan pada janji, dan rasa malu menyia-nyiakan pasangan). Sebuah rumah tangga yang matang tidak melulu digerakkan oleh kembang api perasaan, melainkan ditopang oleh kesadaran adab, balas budi atas perjuangan bersama, serta tanggung jawab syariat. Ketika api cinta sedang meredup menjadi abu, tiang komitmen dan akhlak mulialah yang menjaga atap rumah tangga agar tidak roboh. Teguran ini mengajarkan bahwa kedewasaan relasi diuji justru saat rasa cinta sedang hampa. Pasangan yang berakal tidak buru-buru menuntut perpisahan hanya karena hatinya sedang dingin; ia beralih mengaktifkan radar kesetiaan (al-wafa') dan rasa belas kasih (ar-rahmah). Selama pasangan tidak berbuat nusyuz atau melanggar batas syariat, merawat hak dan memperlakukannya dengan cara yang ma'ruf (mu'asyarah bil ma'ruf) adalah manifestasi ibadah tertinggi. Menjaga komitmen di saat cinta mereda bukan bentuk kepalsuan, melainkan bukti keteguhan watak dan integritas jiwa seorang manusia. #seduhsufi #ribath💫 #ustadzgaul
Riwayat masyhur ini bersumber dari dialog langsung antara Amirul Mukminin Umar bin Khattab dengan seorang suami yang berniat menceraikan istrinya dengan dalih sudah kehilangan rasa cinta. Kisah ini terekam dalam berbagai literatur adab, tarikh, dan hukum keluarga Islam klasik—antara lain dicatat oleh Al-Khara'ithi dalam I'tilaf al-Qulub, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, serta Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin—ketika Sayyidina Umar menegur lelaki tersebut dengan kalimat yang mengguncang: وَيْحَكَ! أَلَمْ تُبْنَ الْبُيُوتُ إِلَّا عَلَى الْحُبِّ؟! فَأَيْنَ الرِّعَايَةُ وَأَيْنَ التَّذَمُّمُ؟ Celaka engkau! Apakah setiap rumah tangga hanya dibangun di atas cinta semata?! Lantas di mana komitmen menjaga hak, dan di mana rasa malu serta tanggung jawab moralmu? Secara mendalam, Umar bin Khattab membongkar kenaifan romantis yang kerap menjadi biang kerok keretakan rumah tangga modern: mitos bahwa pernikahan hanya bisa bertahan selama debaran asmara masih menyala. Cinta emosional (al-hubb) pada hakikatnya adalah zat yang sangat dinamis, mudah pasang surut, dan dipengaruhi oleh kelelahan fisik, usia, serta rutinitas harian. Jika sebuah ikatan sakral diperlakukan layaknya sensasi pacaran yang bisa dibatalkan begitu rasa manisnya berkurang, maka tidak akan ada satu pun ikatan pernikahan di muka bumi yang sanggup bertahan lama. Sayyidina Umar membedah dua pilar utama yang jauh lebih kokoh daripada sekadar asmara belaka: ar-ri'ayah (penjagaan hak dan nafkah lahir-batin) serta at-tadzammum (keengganan moral untuk berbuat nista, kesetiaan pada janji, dan rasa malu menyia-nyiakan pasangan). Sebuah rumah tangga yang matang tidak melulu digerakkan oleh kembang api perasaan, melainkan ditopang oleh kesadaran adab, balas budi atas perjuangan bersama, serta tanggung jawab syariat. Ketika api cinta sedang meredup menjadi abu, tiang komitmen dan akhlak mulialah yang menjaga atap rumah tangga agar tidak roboh. Teguran ini mengajarkan bahwa kedewasaan relasi diuji justru saat rasa cinta sedang hampa. Pasangan yang berakal tidak buru-buru menuntut perpisahan hanya karena hatinya sedang dingin; ia beralih mengaktifkan radar kesetiaan (al-wafa') dan rasa belas kasih (ar-rahmah). Selama pasangan tidak berbuat nusyuz atau melanggar batas syariat, merawat hak dan memperlakukannya dengan cara yang ma'ruf (mu'asyarah bil ma'ruf) adalah manifestasi ibadah tertinggi. Menjaga komitmen di saat cinta mereda bukan bentuk kepalsuan, melainkan bukti keteguhan watak dan integritas jiwa seorang manusia. #seduhsufi #ribath💫 #ustadzgaul

About