Z-MALE :
“when ya” terdengar sederhana, cuma dua kata pendek yang sering lolos begitu saja di layar percakapan. tapi bagiku, itu bukan sekadar respon spontan atau basa-basi kosong. itu adalah bisikan kecil dari hati yang sedang berharap diam-diam. sebuah cara paling aman untuk berkata, *aku juga ingin*, tanpa harus benar-benar mengakuinya. karena terkadang, mengakui keinginan terasa lebih menakutkan daripada menyimpannya sendiri. di balik “when ya”, ada perasaan membandingkan diri tanpa niat iri, hanya lelah menunggu. melihat orang lain sampai di titik yang pernah kita doakan, sementara kita masih berdiri di tempat yang sama, pura-pura kuat, pura-pura tidak peduli. “when ya” adalah pertanyaan yang tidak butuh jawaban dari siapa pun, karena sebenarnya pertanyaan itu kutujukan ke diriku sendiri. kapan giliranku? kapan aku boleh merasakan hal yang sama tanpa harus berpura-pura baik-baik saja? lalu setelah kata itu terkirim, aku kembali diam. aku membiarkan perasaan itu mengendap, tidak meledak, tidak juga hilang. aku belajar bahwa hidup tidak selalu adil dalam waktu, bahwa beberapa hal memang datang lebih lambat, atau mungkin tidak datang sama sekali. aku belajar menerima dengan cara paling sunyi: menghela napas, menurunkan ekspektasi, dan berhenti berharap terlalu keras. aku menatap dari kejauhan, bukan karena tidak peduli, tapi karena tahu batasanku. aku mengikhlaskan hal-hal yang belum bisa kupeluk, dan perlahan berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua keinginan harus diwujudkan sekarang. ada yang harus dilepas, ada yang cukup disimpan. dan pada akhirnya, aku melangkah pergi dengan perasaan campur aduk—antara pasrah, lelah, dan harapan kecil yang masih kusimpan, diam-diam, untuk suatu hari nanti.
2026-01-20 08:15:13