@aodaicuc: #aodaitet #aodaicuoihoidep #aodaitet2026 #aodaithietke #viralvideo

Áo Dài Cúc
Áo Dài Cúc
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 13 December 2025 03:12:24 GMT
2092913
13545
323
2970

Music

Download

Comments

pexiu27
phạm thanh hà 38🇻🇳_12🇯🇵 :
Áo dài ni có màu kem k ạ
2026-04-03 02:50:49
1
mo.li8222
mèo lười :
Áo dài bao nhiêu ạ
2026-01-18 12:56:10
1
tiemdobaby
TJ Ofice✅ :
Pass S 169k mặc. 1 tiếng🥰
2026-05-26 05:02:02
3
cobedangiuuu.0201
𝗠𝘆̀ 𝗤𝘂𝗮̉𝗻𝗴 𝗫𝗶𝗻𝗵࿐ :
Có chiết eo như video k ạ
2025-12-15 17:49:48
6
thuongtruong2254
thuongtruong2254 :
Bn ạ
2026-03-10 13:07:53
1
dungthu299
Dung làm Make up :
Em pass màu hồng size S mua về chụp tết mà không có thời gian chụp
2026-01-30 15:12:49
0
chippiuoi6
🌰 :
pass màu hồng size s
2026-01-23 03:33:56
0
suriiu1604
3th07🌷 :
Bộ này giá bn vậy c
2025-12-18 11:27:21
0
linhgl2601_
Lúc haha lúc huhu 😂 :
Mình pass size M 180 hồng ạ. New
2026-02-01 00:08:53
0
lynh911.011
lynh911.011 :
Giá bn ạ
2026-01-17 20:56:07
0
mmthu..00
Mthu photo :
Pass xanh 200
2026-01-16 16:38:30
0
dimquynh203
Quỳnh :
e pass cả set mới mặc một lần ạ
2026-01-13 05:28:18
0
khuongvo301293
Khuonghayonha :
Pass 100k mới mẹc 1 lần trắng size s
2026-03-07 13:26:54
1
nhavuonhaotuyen
Hảo Hảo🪴 :
c xin giá
2026-01-20 15:07:08
0
khanhtuyen313
TuyenTuyen28 :
Đặt giao mấy hôm thì nhận đc vậy ạ
2026-01-17 03:24:46
1
_myphung05051992_
Mỹ Phụng :
C ơi em cao 1m50. 49kg size nào được c?
2026-01-17 03:41:30
1
lan.ngoc9376
lan.ngoc9376 :
Co màu trắng k ạ
2026-01-18 17:05:51
1
ng.ngc8231
Ngà Ngọc :
Pass hồng size M
2026-01-27 14:42:37
0
us211199
Thich banh mi🥯 :
Ai pass sizeM k ạ
2026-05-05 10:30:07
0
qunhng115
Xiang Ghét Ăn Hành 🧅 :
Mìh pass xanh szM 180 ạ
2026-01-30 15:20:05
0
sicula402
Chan bo may diiiii :
Pass màu hồng xl 200
2026-01-21 05:55:39
0
trongkhac12
Có Ny thì đổi tên 😎 :
E xin giá ạ
2025-12-19 02:28:31
1
_mocnhii
tiny :
e pass cả set new sz L ạ
2026-01-17 05:43:18
1
nal_920
Lanne 😉 :
Pass size L hồng chưa mặc lần nào do k vừa mình ở HN nhé
2026-01-19 17:24:34
0
To see more videos from user @aodaicuc, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dua Wajah Jember di Tangan Fawait: Penderitaan Rakyat dan Panggung Kolosal Kekuasaan Ada dua wajah Jember yang hari ini berdiri saling berhadapan. Wajah pertama adalah wajah yang sering muncul di panggung-panggung kekuasaan. Wajah yang penuh kemeriahan. Wajah yang dipenuhi festival, apel, shalawat, dokumentasi, publikasi, dan berbagai acara yang terus diproduksi hampir tanpa jeda. Tetapi ada wajah kedua yang jarang muncul dalam video promosi pemerintah. Wajah petani. Wajah desa. Wajah rakyat yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah, pupuk yang mahal, hasil panen yang tidak menentu, dan infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki. Kontras itu terlihat sangat jelas di Kecamatan Arjasa. Di Desa Patemon, Kamal, dan Rowo, terdapat jembatan-jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Dari sanalah petani mengangkut hasil panennya. Dari sanalah anak-anak berangkat ke sekolah. Dari sanalah roda ekonomi desa berputar setiap hari. Namun ketika jembatan-jembatan itu ambruk, negara tidak segera hadir. Yang hadir justru rakyat sendiri. Mereka bergotong royong. Mereka mengangkat batu. Mereka mencari bambu. Mereka mengumpulkan kayu. Mereka menyumbangkan tenaga yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja mencari nafkah. Mereka memperbaiki sendiri apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemandangan itu sesungguhnya sangat mengharukan. Tetapi sekaligus menyakitkan. Karena di saat rakyat Arjasa membangun jembatannya sendiri, APBD Jember justru terlihat sangat royal untuk membiayai berbagai program yang lebih dekat dengan simbol, citra, dan panggung kekuasaan. Gerobak Cinta Pink dianggarkan Rp12,6 miliar. Gapura Cinta Sholawat dan NKRI Rp3 miliar. Seragam pengajian pink Rp1 miliar. Souvenir kegiatan Rp1,06 miliar. Hanya dari empat program tersebut saja, APBD mengalokasikan sekitar Rp17,66 miliar untuk berbagai simbol yang mudah dikenali publik. Gerobaknya memiliki warna khas. Seragamnya memiliki warna khas. Gapuranya membawa narasi khas. Semuanya mudah dilihat, mudah difoto, mudah dipublikasikan, dan mudah dikaitkan dengan identitas politik penguasa. Dalam politik modern, kekuasaan memang tidak hanya bekerja melalui kebijakan. Kekuasaan juga bekerja melalui simbol. Melalui warna. Melalui atribut. Melalui identitas yang terus diulang agar tertanam dalam ingatan masyarakat. Tidak ada yang salah dengan simbol. Tidak ada yang salah dengan pengajian. Tidak ada yang salah dengan shalawat. Tetapi persoalan muncul ketika simbol memperoleh perhatian besar, sementara kebutuhan dasar rakyat justru harus diperjuangkan sendiri oleh rakyat. Dan ironi itu tidak berhenti di sana. Dokumen anggaran juga menunjukkan adanya belanja jasa penyelenggara acara atau EO yang mencapai Rp95,49 miliar. Belanja iklan, film, pemotretan, dan publikasi diperkirakan mencapai sekitar Rp16 miliar. Belum termasuk berbagai kegiatan seremoni lainnya. Jika dijumlahkan, sedikitnya sekitar Rp143 miliar lebih APBD Jember dapat dibaca mengalir untuk membiayai panggung, citra, dan simbol. Sementara di Arjasa, rakyat masih harus mengumpulkan bambu untuk membuat jembatan darurat. Di situlah letak persoalan yang sesungguhnya. Petani tidak pernah panen dari gapura. Gabah tidak pernah sampai ke pasar melalui seragam pengajian. Anak-anak sekolah tidak pernah menyeberangi sungai dengan bantuan souvenir kegiatan. Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana. Jalan yang bisa dilewati. Jembatan yang bisa dilintasi. Irigasi yang berfungsi. Dan negara yang hadir ketika rakyat membutuhkannya. Karena itu, gotong royong warga Patemon, Kamal, dan Rowo sesungguhnya bukan sekadar kerja bakti. Itu adalah kritik politik paling jujur yang lahir dari desa. Tanpa pidato. Tanpa spanduk. Tanpa demonstrasi. Mereka sedang mengirim pesan yang sangat keras kepada para pengelola APBD: Jika rakyat harus membangun sendiri jembatan yang menjadi kebutuhan dasarnya, lalu untuk siapa sebenarnya panggung-panggung megah itu?#gusfawait #arjasa
Dua Wajah Jember di Tangan Fawait: Penderitaan Rakyat dan Panggung Kolosal Kekuasaan Ada dua wajah Jember yang hari ini berdiri saling berhadapan. Wajah pertama adalah wajah yang sering muncul di panggung-panggung kekuasaan. Wajah yang penuh kemeriahan. Wajah yang dipenuhi festival, apel, shalawat, dokumentasi, publikasi, dan berbagai acara yang terus diproduksi hampir tanpa jeda. Tetapi ada wajah kedua yang jarang muncul dalam video promosi pemerintah. Wajah petani. Wajah desa. Wajah rakyat yang setiap hari bergelut dengan lumpur sawah, pupuk yang mahal, hasil panen yang tidak menentu, dan infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki. Kontras itu terlihat sangat jelas di Kecamatan Arjasa. Di Desa Patemon, Kamal, dan Rowo, terdapat jembatan-jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Dari sanalah petani mengangkut hasil panennya. Dari sanalah anak-anak berangkat ke sekolah. Dari sanalah roda ekonomi desa berputar setiap hari. Namun ketika jembatan-jembatan itu ambruk, negara tidak segera hadir. Yang hadir justru rakyat sendiri. Mereka bergotong royong. Mereka mengangkat batu. Mereka mencari bambu. Mereka mengumpulkan kayu. Mereka menyumbangkan tenaga yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja mencari nafkah. Mereka memperbaiki sendiri apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemandangan itu sesungguhnya sangat mengharukan. Tetapi sekaligus menyakitkan. Karena di saat rakyat Arjasa membangun jembatannya sendiri, APBD Jember justru terlihat sangat royal untuk membiayai berbagai program yang lebih dekat dengan simbol, citra, dan panggung kekuasaan. Gerobak Cinta Pink dianggarkan Rp12,6 miliar. Gapura Cinta Sholawat dan NKRI Rp3 miliar. Seragam pengajian pink Rp1 miliar. Souvenir kegiatan Rp1,06 miliar. Hanya dari empat program tersebut saja, APBD mengalokasikan sekitar Rp17,66 miliar untuk berbagai simbol yang mudah dikenali publik. Gerobaknya memiliki warna khas. Seragamnya memiliki warna khas. Gapuranya membawa narasi khas. Semuanya mudah dilihat, mudah difoto, mudah dipublikasikan, dan mudah dikaitkan dengan identitas politik penguasa. Dalam politik modern, kekuasaan memang tidak hanya bekerja melalui kebijakan. Kekuasaan juga bekerja melalui simbol. Melalui warna. Melalui atribut. Melalui identitas yang terus diulang agar tertanam dalam ingatan masyarakat. Tidak ada yang salah dengan simbol. Tidak ada yang salah dengan pengajian. Tidak ada yang salah dengan shalawat. Tetapi persoalan muncul ketika simbol memperoleh perhatian besar, sementara kebutuhan dasar rakyat justru harus diperjuangkan sendiri oleh rakyat. Dan ironi itu tidak berhenti di sana. Dokumen anggaran juga menunjukkan adanya belanja jasa penyelenggara acara atau EO yang mencapai Rp95,49 miliar. Belanja iklan, film, pemotretan, dan publikasi diperkirakan mencapai sekitar Rp16 miliar. Belum termasuk berbagai kegiatan seremoni lainnya. Jika dijumlahkan, sedikitnya sekitar Rp143 miliar lebih APBD Jember dapat dibaca mengalir untuk membiayai panggung, citra, dan simbol. Sementara di Arjasa, rakyat masih harus mengumpulkan bambu untuk membuat jembatan darurat. Di situlah letak persoalan yang sesungguhnya. Petani tidak pernah panen dari gapura. Gabah tidak pernah sampai ke pasar melalui seragam pengajian. Anak-anak sekolah tidak pernah menyeberangi sungai dengan bantuan souvenir kegiatan. Yang mereka butuhkan jauh lebih sederhana. Jalan yang bisa dilewati. Jembatan yang bisa dilintasi. Irigasi yang berfungsi. Dan negara yang hadir ketika rakyat membutuhkannya. Karena itu, gotong royong warga Patemon, Kamal, dan Rowo sesungguhnya bukan sekadar kerja bakti. Itu adalah kritik politik paling jujur yang lahir dari desa. Tanpa pidato. Tanpa spanduk. Tanpa demonstrasi. Mereka sedang mengirim pesan yang sangat keras kepada para pengelola APBD: Jika rakyat harus membangun sendiri jembatan yang menjadi kebutuhan dasarnya, lalu untuk siapa sebenarnya panggung-panggung megah itu?#gusfawait #arjasa

About