■■ :
Izin cerita juga, sekalian membuang-buang waktu.
Kurang lebih, kasusku juga sama kayak masnya ini. Dari dulu, aku selalu bertanya alasan dibalik suatu fenomena, kejadian, atau bahkan tindakan. Awalnya, aku nggak mempertanyakan apapun soal agama (wajar, karena masih kecil, dan sudah terselimuti dogma dan doktrin). Sampai, suatu ketika, aku merasa bahwa kegiatan-kegiatan agama ini "kewajibannya" kayak terlalu overgeneralization, gitu. Overused. Dan, sering dijadikan "ancaman mutlak" kalau aku bandel. Dan bagiku, ini sungguh sangat mengganggu. Secara psikologis apalagi. Aku jadi takut eksplorasi apapun, karena dipagari oleh doktrin dan dogma agamaku sendiri.
Kemudian, tahun lalu, semasa aku kelas delapan, aku akhirnya memutuskan untuk "persetan dengan Tuhan dan ketuhanannya." Aku mendalami banyak hal yang sebelumnya dilarang, dan akhirnya mengasosiasikan diri sebagai: Biseksual & agnostik.
Bukan agno-atheist. Tapi agnotisme-apatis/pragmatis.
So, aku menolak ketuhanan. Ilahi Dan segala macamnya. Tapi aku tetap mengambil nilai-nilai moralnya yang baik buat diriku serta orang lain.
Sayang banget, orang-orang masih sama sekali nggak terima dengan orang yang nggak memeluk agama. Dan pasti, jurus andalannya itu "akhirat" "late game" dan segala macam. Yang notabene nggak relevan denganku (nggak guna jadinya mereka sarkastik atau ngedakwah. Karena ya, aku nggak bisa diserang dengan format demikian)
2025-12-25 07:51:58