@shusha1957: "اللهم أَجبرني جبرا يعوض قلبي عن كل شيْءٍ "🤍

شوشا💙
شوشا💙
Open In TikTok:
Region: SA
Tuesday 06 January 2026 08:36:05 GMT
76281
1139
12
582

Music

Download

Comments

haaboot
𝐌𝐎𝐇𝐀𝐌𝐌𝐄𝐃🦉 :
😏الجبر صعب … مرررره صعب … عشان كذا نقول الله يجبر بخاطرنا
2026-01-06 09:59:32
2
latifa7ad
لطيفه💫 :
اللهم اجبرني وارحني وطمني واسعدني يارب. . 😔
2026-04-12 16:09:33
0
bu.jn
أبوجنىٰ IBRAHIM :
ونعم بالله 🌺
2026-01-08 10:42:50
1
mahmoud_ali_houda1_1
حوده نجم الستلايت 🕊️🫶🏻🕊✌🏻 :
ونعم بالله وسبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم
2026-01-19 11:47:46
1
gm198888
غيم 🤍 :
يارب 🤍
2026-01-07 09:31:00
1
user7486530839938
السعادة مع الله :
ونعم بالله ❤️
2026-02-24 23:30:23
1
m487750
محہٰمد 502 🇸🇦 :
💙💙💙
2026-01-06 08:51:31
1
aa554487
AA5544 :
♥♥♥
2026-01-06 13:26:05
1
almalkiop
مايا المالكي :
😍😍😍
2026-01-13 04:51:07
1
aa055440
AaaA55 :
♥️♥️♥️
2026-01-28 00:21:12
1
user8676326386631
جنوبيه :
😳😳😳
2026-04-09 05:36:00
0
To see more videos from user @shusha1957, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu.  Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp
POV | Sean bukan sekedar aa Bandung biasa. Nama Sean Arya Winata, cukup dikenal di sekolahnya. Bukan hanya karena keluarganya yang masih memiliki darah menak Sunda, tetapi juga karena tingkahnya yang jauh dari bayangan orang-orang tentang seorang keturunan keluarga terpandang. Sean seharusnya tumbuh menjadi laki-laki yang tenang, berwibawa, dan penuh tata krama. Namun justru ia tumbuh menjadi anak tongkrongan paling berisik satu sekolah. Kamu sendiri adalah seorang gadis blasteran Belanda yang baru satu minggu lalu pindah ke Indonesia, setelah terlalu lama hidup di luar negeri. Bandung masih terasa asing bagimu. Mulai dari udara dinginnya, logat orang-orangnya, sampai kebiasaan anak-anak sekolah yang menurutmu terlalu ramai. Dan hari ini, menjadi pertama kalinya kamu menginjakkan kaki di sekolah barumu. ••• Sebuah mobil Range Rover Autobiography hitam yang berhenti tepat di depan gerbang sekolah, sukses menarik perhatian banyak pasang mata bahkan sebelum pintunya terbuka. Saat kakimu turun menyentuh aspal, kamu sempat terdiam sesaat. Tatapan orang-orang terasa begitu asing. Bisikan kecil mulai terdengar di sana-sini, bercampur dengan rasa penasaran dari para siswa yang memperhatikanmu tanpa malu-malu. Termasuk sekelompok anak tongkrongan yang sejak tadi duduk santai di area parkiran bersama motor mereka. “Saha eta, euy? Hebring pisan ka sakola naek Range Rover,” celetuk Kenan pelan, membuat beberapa temannya ikut menoleh. Termasuk Sean. Martin ikut berdiri penuh antusias. “Ajig… geulis pisan euy…” Suara di parkiran itu seketika penuh. Namun di antara mereka, Sean menjadi orang yang paling diam. Cowok itu masih duduk santai di atas Yamaha XSR miliknya. Helm masih menggantung ditangannya, sementara matanya tak lepas sedikit pun darimu. Entah karena wajah pucat cantikmu, sorot bingung di matamu, atau caramu berdiri canggung di tengah lingkungan yang benar-benar baru bagimu. Yang jelas, kehadiranmu cukup berhasil mencuri perhatiannya. Begitu melihat langkahmu mulai mendekat ke arah gedung sekolah, Sean tiba-tiba turun dari motornya tanpa mengatakan apa pun. Tatapannya masih mengikutimu—seolah tanpa sadar, kakinya sendiri yang membawanya melangkah mendekat. Melihat itu, teman-temannya spontan heboh sendiri. “Eh, si kehed rek kamana itu?” celetuk James. “Samperin hayu anying, samperin! Malah diem aja!” sahut Juju menepuk bahu Martin. Beberapa dari mereka langsung ikut berdiri, sementara Sean berjalan paling depan dengan ekspresi santai seolah tak terjadi apa-apa. Senyumnya sudah terpampang jelas begitu melihatmu semakin mendekat. Dan di situlah langkahmu perlahan melambat. Kedua tanganmu masih menggenggam erat tali tas, sementara tatapanmu tampak gugup sekaligus bingung melihat segerombolan cowok yang kini berdiri tepat di hadapanmu. Terutama satu cowok yang paling mencolok di antara mereka. Sean. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, bajunya sengaja dikeluarkan—dibalut jaket kulit hitam dengan dasi yang terpasang rapi. Kini ia berdiri santai sambil menatapmu tanpa rasa canggung sedikit pun. Sementara di belakangnya, teman-temannya sudah ribut sendiri. Sean langsung menoleh singkat ke belakang dengan tatapan malas. “Cicing atuh, barudak. Ieu mah bagian aing.” Setelah itu, cowok itu kembali menatapmu dengan senyum tengil yang entah kenapa justru terlihat manis. “Halo cantik,” ucapnya santai lalu ia mengulurkan tangan. “Sean. Aa Bandung anu kasep.” Kamu hanya terdiam beberapa detik, bingung harus bereaksi bagaimana. Namun karena tidak enak, kamu tetap menyambut uluran tangannya pelan. “Y/n,” jawabmu setengah gugup. Sean tersenyum kecil. Tapi anehnya, cowok itu tidak juga melepaskan genggaman tanganmu. Tatapannya masih tertahan padamu. Kamu mulai mencoba menarik tanganmu perlahan, namun Sean malah menahan genggamannya sebentar lagi. Dan itu sukses membuat teman-temannya heboh cekikikan. Martin yang sedari tadi tak terima, memisahkan paksa jabatan tangan kalian. “Heh! Udah atuh udah!— +🗨️ #pov #seonghyeon #cortis #seonghyeonedit #fyp
الصلاة الصحيحة هي أداء الصلوات الخمس في أوقاتها، متطهرًا، مستقبلًا القبلة، مع استحضار النية والخشوع. تبدأ بتكبيرة الإحرام، وقراءة الفاتحة وسورة، ثم الركوع والسجود بطمأنينة، والجلوس للتشهدين (في الثلاثية والرباعية) أو واحد (في الفجر)، والختام بالتسليم، متبعًا فيها هدي النبي ﷺ [
الصلاة الصحيحة هي أداء الصلوات الخمس في أوقاتها، متطهرًا، مستقبلًا القبلة، مع استحضار النية والخشوع. تبدأ بتكبيرة الإحرام، وقراءة الفاتحة وسورة، ثم الركوع والسجود بطمأنينة، والجلوس للتشهدين (في الثلاثية والرباعية) أو واحد (في الفجر)، والختام بالتسليم، متبعًا فيها هدي النبي ﷺ ["صلوا كما رأيتموني أصلي"]. خطوات الصلاة الصحيحة (من التكبير إلى التسليم): الاستعداد: الوضوء، ستر العورة، واستقبال القبلة. النية: نية الصلاة المعينة بقلبك دون التلفظ بها. تكبيرة الإحرام: قول "الله أكبر" مع رفع اليدين حذو المنكبين. القيام والقراءة: قراءة سورة الفاتحة في كل ركعة، وما تيسر من القرآن في الركعتين الأوليين. الركوع: الانحناء مع وضع اليدين على الركبتين، وقول "سبحان ربي العظيم" ثلاثًا، مع الطمأنينة. الرفع من الركوع: الاعتدال قائمًا وقول "سمع الله لمن حمده"، ثم "ربنا ولك الحمد". السجود: السجود على الأعضاء السبعة (الجبهة والأنف، الكفان، الركبتان، أطراف القدمين) مع الطمأنينة وقول "سبحان ربي الأعلى" ثلاثًا. الجلوس بين السجدتين: الجلوس وقول "رب اغفر لي". التشهد: قراءة التشهد في الجلوس الثاني (الركعة الثانية) والأخير (الركعة الأخيرة)، والصلاة الإبراهيمية في التشهد الأخير. التسليم: الالتفات يمينًا وقول "السلام عليكم ورحمة الله"، ثم يسارًا كذلك. أركان الصلاة (لا تصح بدونها): القيام مع القدرة (في الفرض). تكبيرة الإحرام. قراءة الفاتحة. الركوع. الاعتدال من الركوع. السجود على الأعضاء السبعة. الرفع من السجود. الجلوس بين السجدتين. الطمأنينة (السكون في كل ركن). الترتيب بين الأركان. التشهد الأخير. الجلوس للتشهد الأخير. الصلاة على النبي ﷺ. التسليمتان. سنن ومستحبات الصلاة: رفع اليدين عند الركوع، والرفع منه، وعند القيام للثالثة. وضع اليد اليمنى على اليسرى على الصدر أثناء القيام. دعاء الاستفتاح بعد تكبيرة الإحرام. قراءة ما تيسر من القرآن بعد الفاتحة في الركعتين الأوليين. ملاحظات هامة: الطمأنينة (الهدوء والسكينة وعدم العجلة) ركن أساسي في الركوع والسجود والقيام. يجب مراعاة "الترتيب#قران_كريم #عبد_العزيز_سحيم #quran #قران #تلاوة_خاشعة

About