@videoeditor042: heçvaxt heç kimnən nə insana köməy olmaz.!!!

Amid 042
Amid 042
Open In TikTok:
Region: AZ
Tuesday 20 January 2026 20:41:57 GMT
509902
17143
147
4233

Music

Download

Comments

36_03_
Əsgər Anası❤️ :
Düz 🙏
2026-01-20 23:08:45
14
_tenha091
_🇦🇿Kasıb_Oğlan🇦🇿_ :
duzdu👍👍
2026-01-21 10:34:15
11
x_gizili_biri_x
🥀 :
Beli
2026-01-21 11:17:28
6
.1997.aysel
Aysel :
Düzdü
2026-01-23 13:53:55
6
hesabdondurlub
Sehife dondurulub :
düzdür
2026-01-21 06:26:08
4
loli_888888888
loli_888 :
duz
2026-01-23 12:11:33
7
napanyatt0
YA ALLAH❤️ :
duzdu
2026-01-21 12:39:29
10
userdii697
Aynur :
Düzdü 👍🥺
2026-01-21 04:29:58
5
cimidisko_1
cimi cimi disko :
vallahi Düz 👍👍👍👍👍
2026-01-21 08:08:27
4
aysu7830
17:07 :
Yalnz ALLAH dan olar 🥺🙏
2026-01-22 07:20:38
7
user21965044
user :
düzdür
2026-01-21 06:55:16
7
gul_______gul
,,,,,,,,,,,,,, :
duzdu Allahdan isdyin
2026-01-22 17:23:49
5
aylin77791
aylin777 :
beli
2026-01-21 04:42:52
4
q.....64
Q❤️M :
düzdü
2026-01-21 20:10:24
4
user6518837516191
Sako :
çox düz deyir
2026-01-21 12:11:53
3
sebirliqiz
PAPATYA 🦋 :
düzdü
2026-01-21 21:40:24
3
ayti_aytii
AYTİİİİ :
Aça bilersiz gotrum 🙏🙏
2026-01-24 10:25:52
0
canavar1961
canavar🐺 :
düzdü
2026-01-22 03:01:01
3
z.m4078
Z.M :
ele yaxşı olur ki Allah yadların köməyi olsun 🤲🏻
2026-01-21 00:54:20
7
ssee2017._
.... :
düzdü duz
2026-01-21 17:02:48
3
nara47862
Nara :
Düzdü
2026-01-22 17:03:23
0
orxanmahmudov_1989
@orxanmahmudov538 :
acın götrümdə zəhmət deyilsə
2026-01-21 20:24:39
4
n424757
Nazli Babazade :
acn gotrumde
2026-01-22 23:06:02
0
yolcu073n
orxann 073 :
gərək örənsən ki görsünler
2026-01-21 13:43:02
3
To see more videos from user @videoeditor042, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sampai kapan kita akan diam? Di tengah hutan yang terbakar, sepiring nasi masih bisa kita nikmati. Tetapi dari mana lagi kita akan mengambil kehidupan ketika hutan habis kita bakar, udara tak lagi layak kita hirup, dan tanah kehilangan kemampuannya untuk menghidupi? Kadang saya bertanya, setamak itukah kita? Serakus itu sampai tak ada lagi ruang bagi rasa cukup? Sampai kita kehilangan rasa malu melihat wajah negeri sendiri diselimuti jerebu, sementara perut kita terus membesar oleh keserakahan yang tak pernah mengenal kenyang. Hutan bukan sekadar hamparan pohon yang bisa dihitung nilainya. Di sana ada kehidupan, ada rumah bagi satwa, ada sumber air, ada masa depan anak-anak kita. Ketika hutan dibakar demi keuntungan, yang ikut terbakar bukan hanya pepohonan. Ada tanggung jawab, ada akal sehat, dan ada masa depan yang sedang kita pertaruhkan. Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik angka, izin, investasi, atau janji-janji yang terdengar indah. Cukup sudah omong kosong tentang pembangunan jika yang diwariskan adalah tanah yang rusak, udara yang beracun, dan kehidupan yang kehilangan keseimbangan. Berhenti membakar. Berhenti membenarkan keserakahan. Berhenti mengorbankan masa depan demi keuntungan sesaat. Kita perlu bersuara. Bukan sekadar marah di media sosial, melainkan mendesak pertanggungjawaban, menuntut penegakan hukum, dan memastikan mereka yang merusak tidak terus dibiarkan menang. Suara masyarakat, jurnalisme yang berani, ilmu pengetahuan, dan tindakan nyata harus berdiri bersama. Sebab diam bukan pilihan ketika kehidupan sedang dipertaruhkan. Planet ini tidak membutuhkan lebih banyak janji. Planet ini membutuhkan manusia yang tahu batas, tahu malu, dan tahu bahwa bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan sesuka hati. Mari kembalikan keseimbangan di muka bumi. Sebelum yang tersisa hanya abu, penyesalan, dan pertanyaan yang tak lagi bisa kita jawab: untuk apa kita menjadi begitu kaya, jika kita membuat rumah kita sendiri tak lagi layak dihuni?
Sampai kapan kita akan diam? Di tengah hutan yang terbakar, sepiring nasi masih bisa kita nikmati. Tetapi dari mana lagi kita akan mengambil kehidupan ketika hutan habis kita bakar, udara tak lagi layak kita hirup, dan tanah kehilangan kemampuannya untuk menghidupi? Kadang saya bertanya, setamak itukah kita? Serakus itu sampai tak ada lagi ruang bagi rasa cukup? Sampai kita kehilangan rasa malu melihat wajah negeri sendiri diselimuti jerebu, sementara perut kita terus membesar oleh keserakahan yang tak pernah mengenal kenyang. Hutan bukan sekadar hamparan pohon yang bisa dihitung nilainya. Di sana ada kehidupan, ada rumah bagi satwa, ada sumber air, ada masa depan anak-anak kita. Ketika hutan dibakar demi keuntungan, yang ikut terbakar bukan hanya pepohonan. Ada tanggung jawab, ada akal sehat, dan ada masa depan yang sedang kita pertaruhkan. Kita tidak bisa terus bersembunyi di balik angka, izin, investasi, atau janji-janji yang terdengar indah. Cukup sudah omong kosong tentang pembangunan jika yang diwariskan adalah tanah yang rusak, udara yang beracun, dan kehidupan yang kehilangan keseimbangan. Berhenti membakar. Berhenti membenarkan keserakahan. Berhenti mengorbankan masa depan demi keuntungan sesaat. Kita perlu bersuara. Bukan sekadar marah di media sosial, melainkan mendesak pertanggungjawaban, menuntut penegakan hukum, dan memastikan mereka yang merusak tidak terus dibiarkan menang. Suara masyarakat, jurnalisme yang berani, ilmu pengetahuan, dan tindakan nyata harus berdiri bersama. Sebab diam bukan pilihan ketika kehidupan sedang dipertaruhkan. Planet ini tidak membutuhkan lebih banyak janji. Planet ini membutuhkan manusia yang tahu batas, tahu malu, dan tahu bahwa bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan sesuka hati. Mari kembalikan keseimbangan di muka bumi. Sebelum yang tersisa hanya abu, penyesalan, dan pertanyaan yang tak lagi bisa kita jawab: untuk apa kita menjadi begitu kaya, jika kita membuat rumah kita sendiri tak lagi layak dihuni?

About