@printoucortou: @netaobombeef #netaoclipfy #clipfyleague #carnes #churrasco @printoucortou

printoucortou
printoucortou
Open In TikTok:
Region: BR
Thursday 22 January 2026 16:51:54 GMT
306
11
1
1

Music

Download

Comments

wsousa000
wsousa :
Frescura demais
2026-01-23 10:36:52
0
To see more videos from user @printoucortou, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih kini tengah menjadi sorotan karena ambisinya yang sangat besar, namun menyimpan risiko yang dianggap lebih mengkhawatirkan dibandingkan program besar lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Proyek ini dirancang untuk memotong rantai tengkulak dan memberikan akses langsung bagi desa ke sektor strategis, namun terdapat kesenjangan lebar antara target pemerintah dengan fakta di lapangan. Salah satu poin krusial adalah performa finansial yang belum meyakinkan. Sebagai contoh, sebuah unit Kopdes di lokasi strategis seperti Blok M Hub hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp78.000 selama enam bulan operasional. Angka ini sangat jauh dari asumsi awal menteri sebelumnya yang memproyeksikan potensi keuntungan hingga miliaran rupiah per tahun. Selain itu, target pembangunan 80.000 Kopdes terpaksa dipangkas menjadi 40.000 karena target awal dianggap terlalu besar dan banyak yang terkendala masalah modal. Meski operasional dasar seperti minimarket atau gudang masih dianggap kompleks, pemerintah justru memberikan mandat baru bagi Kopdes untuk masuk ke sektor industri berat. Kini, koperasi diizinkan mengelola: 1)  Tambang mineral dan sumur minyak rakyat 2)  Pabrik pengolahan sawit (CPO) 3)  Penyaluran tunggal barang bersubsidi seperti LPG 3 kg, pupuk, dan pangan tertentu Masalahnya, modal yang dibutuhkan untuk sektor ini sangat kontras dengan kapasitas pendanaan koperasi. Plafon pinjaman maksimal Kopdes hanya Rp3 miliar, sementara untuk membangun pabrik CPO skala mini saja dibutuhkan investasi sekitar Rp23 miliar. Persiapan program ini terkesan terburu-buru dan bersifat
Program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih kini tengah menjadi sorotan karena ambisinya yang sangat besar, namun menyimpan risiko yang dianggap lebih mengkhawatirkan dibandingkan program besar lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Proyek ini dirancang untuk memotong rantai tengkulak dan memberikan akses langsung bagi desa ke sektor strategis, namun terdapat kesenjangan lebar antara target pemerintah dengan fakta di lapangan. Salah satu poin krusial adalah performa finansial yang belum meyakinkan. Sebagai contoh, sebuah unit Kopdes di lokasi strategis seperti Blok M Hub hanya mencatatkan laba bersih sebesar Rp78.000 selama enam bulan operasional. Angka ini sangat jauh dari asumsi awal menteri sebelumnya yang memproyeksikan potensi keuntungan hingga miliaran rupiah per tahun. Selain itu, target pembangunan 80.000 Kopdes terpaksa dipangkas menjadi 40.000 karena target awal dianggap terlalu besar dan banyak yang terkendala masalah modal. Meski operasional dasar seperti minimarket atau gudang masih dianggap kompleks, pemerintah justru memberikan mandat baru bagi Kopdes untuk masuk ke sektor industri berat. Kini, koperasi diizinkan mengelola: 1) Tambang mineral dan sumur minyak rakyat 2) Pabrik pengolahan sawit (CPO) 3) Penyaluran tunggal barang bersubsidi seperti LPG 3 kg, pupuk, dan pangan tertentu Masalahnya, modal yang dibutuhkan untuk sektor ini sangat kontras dengan kapasitas pendanaan koperasi. Plafon pinjaman maksimal Kopdes hanya Rp3 miliar, sementara untuk membangun pabrik CPO skala mini saja dibutuhkan investasi sekitar Rp23 miliar. Persiapan program ini terkesan terburu-buru dan bersifat "tambal sulam". Beberapa indikator risikonya antara lain: 1) Diproyeksikan mencapai Rp7 triliun di tahun pertama hingga Rp28 triliun di tahun keenam. Ini berpotensi terjadinya gagal bayar. 2) Kesiapan SDM. Sekitar 30.000 manajer profesional baru mulai bekerja pada Agustus 2026, bertepatan dengan peresmian bisnis kompleks seperti pabrik CPO dan PLTS. 3) Kajian kelayakan justru baru akan dibuat di saat sebagian Kopdes sudah mulai berjalan dan diberi mandat berat. Meskipun tujuannya baik, kebijakan yang digeneralisir ke ribuan koperasi tanpa filter ketat dan persiapan matang sangat berisiko. Tanpa keberlanjutan usaha yang teruji, proyek ini dikhawatirkan akan mengulang kegagalan Koperasi Unit Desa (KUD) di era Orde Baru yang kolaps begitu dukungan negara dicabut. Pendekatan yang terlalu tergesa-gesa dengan beban tugas yang terus ditumpuk membuat proyek Kopdes ini berada dalam posisi yang sangat rentan.[] ____________________ Simak beragam tema kajian dengan banyak narasumber secara live stream setiap subuh di https://ngajishubuh.or.id

About