@taphoaaz123:

Tạp Hoá AZ
Tạp Hoá AZ
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 23 January 2026 03:52:56 GMT
2742
10
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @taphoaaz123, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Langit Makkah pagi itu tampak pucat. Angin gurun berembus pelan, membawa debu yang menari di jalanan. Namun entah mengapa... hari itu udara terasa lebih sesak dari biasanya. Di sudut kota, para pembesar Quraisy telah kehilangan kesabaran. Dakwah Muhammad ﷺ semakin hari semakin menyentuh banyak hati. Berhala-berhala mereka ditinggalkan. Kesombongan mereka mulai runtuh. Tetapi ada satu penghalang yang membuat mereka tak pernah bisa menyentuh beliau. Abu Thalib. Lelaki tua itu, bukan hanya paman. Ia adalah pelukan pertama yang menyambut Muhammad ﷺ setelah sang kakek, Abdul Muthalib, pergi untuk selamanya. Sejak hari itu, anak yatim kecil itu tinggal di rumahnya. Ia melihat Muhammad ﷺ tumbuh. Melihatnya tertidur. Melihatnya bekerja. Menemani perjalanan dagang. Menjaganya seperti menjaga jantungnya sendiri. Bahkan sejarah mencatat, Ia sering lebih mengutamakan Muhammad ﷺ daripada anak-anaknya sendiri. Lalu datanglah hari yang paling menyakitkan. Para pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka membawa seorang pemuda tampan.
Langit Makkah pagi itu tampak pucat. Angin gurun berembus pelan, membawa debu yang menari di jalanan. Namun entah mengapa... hari itu udara terasa lebih sesak dari biasanya. Di sudut kota, para pembesar Quraisy telah kehilangan kesabaran. Dakwah Muhammad ﷺ semakin hari semakin menyentuh banyak hati. Berhala-berhala mereka ditinggalkan. Kesombongan mereka mulai runtuh. Tetapi ada satu penghalang yang membuat mereka tak pernah bisa menyentuh beliau. Abu Thalib. Lelaki tua itu, bukan hanya paman. Ia adalah pelukan pertama yang menyambut Muhammad ﷺ setelah sang kakek, Abdul Muthalib, pergi untuk selamanya. Sejak hari itu, anak yatim kecil itu tinggal di rumahnya. Ia melihat Muhammad ﷺ tumbuh. Melihatnya tertidur. Melihatnya bekerja. Menemani perjalanan dagang. Menjaganya seperti menjaga jantungnya sendiri. Bahkan sejarah mencatat, Ia sering lebih mengutamakan Muhammad ﷺ daripada anak-anaknya sendiri. Lalu datanglah hari yang paling menyakitkan. Para pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib. Mereka membawa seorang pemuda tampan. "Kami berikan pemuda ini kepadamu. Jadikan ia anakmu..." "Lalu serahkan Muhammad kepada kami." Betapa dinginnya kalimat itu. Seolah manusia bisa ditukar seperti barang. Seolah anak yatim yang telah puluhan tahun dipeluknya... boleh diserahkan begitu saja untuk dibunuh. Abu Thalib menatap mereka. Dadanya bergemuruh. Lalu ia menolak. Namun Quraisy belum berhenti. Ancaman demi ancaman datang silih berganti. Mereka ingin Abu Thalib memilih. Antara kaumnya atau keponakan yang sangat ia cintai. Malam-malam Abu Thalib menjadi semakin panjang. Usianya telah menua. Tenaganya tak lagi sekuat dulu. Tetapi ia tahu selama ia masih hidup, Quraisy tidak akan berani menyentuh Muhammad ﷺ. Sampai akhirnya, ia memanggil keponakan yang sejak kecil diasuhnya itu. Dengan suara yang mulai melemah, ia berkata, "Wahai keponakanku... jagalah aku, dan jagalah dirimu. Jangan bebankan kepadaku sesuatu yang aku tidak sanggup memikulnya." Kalimat itu menusuk hati Rasulullah. Ia mengira orang terakhir yang selama ini menjadi tempat berlindungnya, kini mulai melepaskan tangannya. Padahal sejak kecil, ia sudah berkali-kali ditinggalkan. Ayahnya tiada sebelum sempat memeluknya. Ibunya pergi saat ia masih kecil. Kakeknya menyusul ketika kasih sayangnya baru saja terasa. Dan kini apakah pamannya juga akan meninggalkannya? Dengan mata yang mulai dipenuhi air mata, Rasulullah ﷺ berkata, "Paman, demi Allah seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini, sungguh aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya." Setelah itu Rasul menundukkan kepala. Air mata itu jatuh tanpa suara. Lalu ia berbalik. Melangkah perlahan. Tidak marah. Tidak memaksa. Seolah berkata dalam diam, "Kalau memang semua orang harus pergi, aku akan tetap berjalan karena Allah." Melihat punggung itu menjauh, hati Abu Thalib seakan diremas. Itu bukan sekadar keponakannya. Itu adalah anak yatim yang pernah ia gendong. Yang pernah ia lindungi dari panasnya gurun. Yang selama puluhan tahun tinggal di rumahnya. Dengan suara yang bergetar ia memanggil, "Kemarilah, Anakku." Rasulullah ﷺ pun menoleh. Lalu Abu Thalib berkata, "Pergilah... lakukan apa yang Allah perintahkan kepadamu. Demi Allah selama aku masih hidup, aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka." Betapa berat rasanya mencintai seseorang hingga rela mempertaruhkan seluruh kehormatan dan keselamatan, namun hati itu tak pernah benar-benar sampai kepada iman. Dan mungkin inilah salah satu kisah paling pilu dalam sirah. Seorang lelaki yang menghabiskan hidupnya melindungi manusia terbaik di muka bumi, tetapi tidak sempat menjadi bagian dari umat yang dibelanya.

About