@jakariya.hushen: #foryou #foryoupage

Jakariya Hushen
Jakariya Hushen
Open In TikTok:
Region: AE
Sunday 25 January 2026 11:32:05 GMT
306
32
9
1

Music

Download

Comments

al.amin.miah.9962
MD AL AMIN MIHA🇲🇻🇲🇻🇲🇻 :
nice
2026-01-25 16:20:59
0
ruhul_ff_71
Ruhul_ff_71 :
😎😎😎
2026-02-26 09:32:09
0
moinulislam2453
moinulislam2453 :
🥰🥰
2026-02-22 17:54:28
0
suhashini023
❀_PapA_Ki _PaRi_❀ :
🥰🥰🥰
2026-02-08 14:49:15
0
suhashini023
❀_PapA_Ki _PaRi_❀ :
❤❤❤
2026-01-30 16:47:36
0
suhashini023
❀_PapA_Ki _PaRi_❀ :
🥰🥰🥰
2026-01-30 16:47:26
0
parbes3
Par Bes :
🥰🥰🥰
2026-01-25 18:13:41
0
rahman.tarek66
TaQ :
🥰🥰🥰
2026-01-25 17:51:47
0
sss.ss486
💀💀 :
🥰🥰🥰
2026-02-28 09:09:45
0
To see more videos from user @jakariya.hushen, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Di pelosok pegunungan Papua, tepatnya di sekitar Wamena, hidup seorang perempuan sederhana bernama Aminah. Tidak banyak orang mengenalnya. Ia bukan tokoh terkenal, bukan pula seseorang yang hidup berkecukupan. Namun di balik kehidupannya yang serba sederhana, tersimpan ketulusan yang begitu besar untuk sesama. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Aminah sudah bersiap meninggalkan rumah kayu kecilnya yang berdinding papan dan beratap seng tua. Dengan membawa tas kain berisi buku iqra yang mulai usang, ia berjalan menyusuri jalan berbatu, melewati lembah dan sungai kecil demi mendatangi anak-anak di kampung pedalaman. Perjalanan itu tidak mudah. Kadang ia harus berjalan kaki berjam-jam di tengah dinginnya kabut pegunungan. Jika hujan turun, pakaiannya basah kuyup. Saat pulang malam hari, hanya cahaya senter kecil yang menemaninya di jalan gelap. Namun semua itu tidak pernah membuatnya mengeluh. Aminah tetap datang mengajar meski tanpa bayaran sedikit pun. Baginya, melihat anak-anak Papua mulai mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. “Kalau mereka bisa mengaji, saya sudah merasa cukup bahagia,” katanya suatu ketika dengan senyum sederhana. Di sebuah rumah ibadah kecil dan honai sederhana, Aminah mengajari anak-anak membaca iqra dengan penuh kesabaran. Bahkan beberapa ibu yang sudah lanjut usia pun ikut belajar darinya. Ia membimbing satu per satu tanpa pernah membeda-bedakan. Meski hidup pas-pasan, Aminah tetap berusaha terlihat kuat di depan murid-muridnya. Tangannya yang kasar karena bekerja di kebun tetap lembut saat membenarkan bacaan anak-anak. Kadang ia sendiri menahan lapar, tetapi ia tak ingin murid-muridnya kehilangan semangat belajar. Suatu waktu, Aminah sempat jatuh sakit akibat kelelahan. Warga sekitar memintanya beristirahat dan berhenti mengajar sementara. “Kau terlalu memaksakan diri. Tidak ada juga yang membayarmu,” ujar salah seorang tetangga. Namun keesokan harinya, Aminah kembali berjalan menuju tempat mengajar seperti biasa. Sebab ia tahu ada anak-anak kecil yang menunggunya dengan membawa iqra di pelukan mereka. Hari demi hari berlalu, pengabdiannya nyaris tidak pernah diketahui banyak orang. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada pujian, bahkan namanya hampir tak pernah disebut siapa pun. Hingga akhirnya kisahnya sampai ke telinga relawan kemanusiaan dari Bulan Sabit Merah Indonesia. Mereka tersentuh melihat ketulusan seorang perempuan muda yang bertahun-tahun mengajar tanpa meminta imbalan apa pun. Tak lama kemudian, Aminah dipanggil ke kota. Di sana, ia mendapat kabar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: dirinya akan diberangkatkan umrah secara gratis. Aminah terdiam. Matanya mulai dipenuhi air mata. “Apakah benar saya bisa melihat Ka’bah?” tanyanya pelan dengan suara bergetar. Tangisnya pecah seketika. Ia menutupi wajahnya sambil menangis haru. Bukan karena merasa dirinya istimewa, melainkan karena doa yang selama ini hanya ia simpan dalam sujud ternyata didengar oleh Allah. Saat hari keberangkatan tiba, warga kampung ikut mengantar dengan penuh haru. Anak-anak yang selama ini belajar mengaji darinya memeluk Aminah erat sambil menangis. “Ustazah jangan lama-lama… nanti ajari kami lagi,” ucap seorang anak kecil lirih. Di bandara, Aminah terus menggenggam mushaf kecil yang selama bertahun-tahun menemaninya mengajar di pedalaman. Perempuan sederhana yang dahulu rela berjalan kaki berjam-jam demi mengajarkan Al-Qur’an itu akhirnya menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Dan dari kisah Aminah, banyak orang belajar bahwa keikhlasan mungkin tidak selalu dilihat manusia. Namun setiap pengorbanan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah luput dari perhatian Allah SWT. #Ceritaharu #Ikhlas #Papua #Inspiratif #Viral
Di pelosok pegunungan Papua, tepatnya di sekitar Wamena, hidup seorang perempuan sederhana bernama Aminah. Tidak banyak orang mengenalnya. Ia bukan tokoh terkenal, bukan pula seseorang yang hidup berkecukupan. Namun di balik kehidupannya yang serba sederhana, tersimpan ketulusan yang begitu besar untuk sesama. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Aminah sudah bersiap meninggalkan rumah kayu kecilnya yang berdinding papan dan beratap seng tua. Dengan membawa tas kain berisi buku iqra yang mulai usang, ia berjalan menyusuri jalan berbatu, melewati lembah dan sungai kecil demi mendatangi anak-anak di kampung pedalaman. Perjalanan itu tidak mudah. Kadang ia harus berjalan kaki berjam-jam di tengah dinginnya kabut pegunungan. Jika hujan turun, pakaiannya basah kuyup. Saat pulang malam hari, hanya cahaya senter kecil yang menemaninya di jalan gelap. Namun semua itu tidak pernah membuatnya mengeluh. Aminah tetap datang mengajar meski tanpa bayaran sedikit pun. Baginya, melihat anak-anak Papua mulai mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an sudah menjadi kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. “Kalau mereka bisa mengaji, saya sudah merasa cukup bahagia,” katanya suatu ketika dengan senyum sederhana. Di sebuah rumah ibadah kecil dan honai sederhana, Aminah mengajari anak-anak membaca iqra dengan penuh kesabaran. Bahkan beberapa ibu yang sudah lanjut usia pun ikut belajar darinya. Ia membimbing satu per satu tanpa pernah membeda-bedakan. Meski hidup pas-pasan, Aminah tetap berusaha terlihat kuat di depan murid-muridnya. Tangannya yang kasar karena bekerja di kebun tetap lembut saat membenarkan bacaan anak-anak. Kadang ia sendiri menahan lapar, tetapi ia tak ingin murid-muridnya kehilangan semangat belajar. Suatu waktu, Aminah sempat jatuh sakit akibat kelelahan. Warga sekitar memintanya beristirahat dan berhenti mengajar sementara. “Kau terlalu memaksakan diri. Tidak ada juga yang membayarmu,” ujar salah seorang tetangga. Namun keesokan harinya, Aminah kembali berjalan menuju tempat mengajar seperti biasa. Sebab ia tahu ada anak-anak kecil yang menunggunya dengan membawa iqra di pelukan mereka. Hari demi hari berlalu, pengabdiannya nyaris tidak pernah diketahui banyak orang. Tidak ada sorotan kamera, tidak ada pujian, bahkan namanya hampir tak pernah disebut siapa pun. Hingga akhirnya kisahnya sampai ke telinga relawan kemanusiaan dari Bulan Sabit Merah Indonesia. Mereka tersentuh melihat ketulusan seorang perempuan muda yang bertahun-tahun mengajar tanpa meminta imbalan apa pun. Tak lama kemudian, Aminah dipanggil ke kota. Di sana, ia mendapat kabar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: dirinya akan diberangkatkan umrah secara gratis. Aminah terdiam. Matanya mulai dipenuhi air mata. “Apakah benar saya bisa melihat Ka’bah?” tanyanya pelan dengan suara bergetar. Tangisnya pecah seketika. Ia menutupi wajahnya sambil menangis haru. Bukan karena merasa dirinya istimewa, melainkan karena doa yang selama ini hanya ia simpan dalam sujud ternyata didengar oleh Allah. Saat hari keberangkatan tiba, warga kampung ikut mengantar dengan penuh haru. Anak-anak yang selama ini belajar mengaji darinya memeluk Aminah erat sambil menangis. “Ustazah jangan lama-lama… nanti ajari kami lagi,” ucap seorang anak kecil lirih. Di bandara, Aminah terus menggenggam mushaf kecil yang selama bertahun-tahun menemaninya mengajar di pedalaman. Perempuan sederhana yang dahulu rela berjalan kaki berjam-jam demi mengajarkan Al-Qur’an itu akhirnya menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Dan dari kisah Aminah, banyak orang belajar bahwa keikhlasan mungkin tidak selalu dilihat manusia. Namun setiap pengorbanan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah luput dari perhatian Allah SWT. #Ceritaharu #Ikhlas #Papua #Inspiratif #Viral

About