@yasaibrahim: Situasi di Selat Hormuz per Januari 2026 sedang berada di titik didih. Iran secara resmi telah menyatakan kendali penuh atas jalur perairan tersebut sebagai respons atas ancaman serangan militer dan pengerahan armada tempur Amerika Serikat. Berikut adalah poin-poin krusial terkait pengetatan wilayah tersebut: Klaim Kendali Total: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa mereka memegang kendali penuh atas permukaan, bawah air, hingga wilayah udara Selat Hormuz. Iran kini menggunakan sistem pengawasan "cerdas" untuk memantau setiap pergerakan kapal. Zona Bahaya & NOTAM: Iran telah mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menyatakan wilayah udara di atas selat tersebut sebagai zona berbahaya bagi navigasi udara. Mereka mengancam akan menembak jatuh armada atau drone musuh yang melintas tanpa izin. Latihan Militer & Rudal: Teheran sedang menggelar latihan perang besar-besaran dan memamerkan terowongan rudal bawah laut di sekitar selat untuk menunjukkan kesiapan tempur. Otoritas Perlintasan: Pejabat militer Iran mengklaim memiliki hak untuk memutuskan kapal mana saja yang boleh melintasi selat, berdasarkan bendera negaranya. Dampak Ekonomi: Meskipun belum ada penutupan total, ancaman ini telah mengganggu operasional pengapalan kargo di Teluk Persia. Para ahli memperingatkan bahwa konfrontasi militer di area ini dapat melonjakkan harga minyak dunia hingga $10-$20 per barel. Ketegangan ini semakin memuncak setelah kapal induk AS, Abraham Lincoln, dilaporkan mendekat ke kawasan tersebut.