@wty_thn: dyeu quá mức rồi 2 anh emm #quanap #quangtrung #runningmanvietnamseason3 #xh #fyp

hn
hn
Open In TikTok:
Region: VN
Friday 30 January 2026 05:45:40 GMT
183369
24278
49
614

Music

Download

Comments

yenlanh_127
Hnyegl :
ê tự dưng xong cái tập gia tộc á cái gọi nhau kiểu hai ơii sáu ơi tám ơii nghe nó dễ thương mà kiểu nó gia đình mà nó tình cảm mà nó iu thương mà nó sao á mà nó mê lắm😂 đem cái mùa 4 đem cái gia đình lại liền cho toyy❤️
2026-01-30 09:14:55
1743
bestoverthinkintheworld2
xấm và dâu :
tập có câu anh trung ơi cứu em là tập nào v sao tui xem hết lun r mà k co
2026-01-30 23:53:29
261
baongocnguyen221
Bao Ngoc Nguyen :
t cũng xem mà k hiểu tám lớn tám bé là ai đặt tên
2026-01-31 10:58:21
37
crs.marhoonholic
Ju Ju là mặt trời nhỏ ☀️ :
eo hồi tháng 10 ảnh đi diễn ở trường mình ảnh kêu mới quay chặng cuối xong giọng cũng rè rè vậy á mà dể thương kinh khủng:))
2026-01-31 00:46:50
46
cucsilauongbelap69
️ :
dth 😭
2026-01-30 17:27:24
23
chikawa_1609
୧‧₊˚🫧𝑭𝒍𝒐𝒓𝒂ᯓᡣ𐭩🫧˚₊‧୧ :
ê video đầu là tập nào v
2026-04-27 05:28:59
0
duoidayshowbiz
Dưới Đáy Showbiz :
Ra liền mùa 4 giữ nguyên cast nha
2026-02-25 15:03:42
0
linhle29081
ThuyLinhh :
tập nào đấy ạ
2026-01-30 13:56:35
10
kimphuc9972
Phúc Nhỏ :
Cũng là não luôn ma để đó chút xài 😂cười khờ thiệt 😅
2026-02-01 06:52:30
5
odayne.01
Bánh mì ốp la ko ớt :
mí ảnh đáng iu vữ lun á 8 lớn 8 bé 😂😂
2026-02-06 06:55:43
3
phihoppie94
Phi Hoppie ^^ :
Thích mùa 1 và mùa 3 nhất luôn hí hí
2026-03-03 11:03:17
4
love_sodium.08
☆ :
ê t thik cặp nì :)
2026-02-20 10:06:47
0
heiuanh
hẹ. :
iu qa
2026-02-02 15:32:12
1
huyenn0801
Huyền🐥 :
Nhớ họ rồi
2026-02-15 07:25:25
0
yingyeuoi_
Ying 🌸 :
iêu cặp song Tám này quá 💗
2026-03-04 04:22:12
1
b.nhyy3
hy. :
2 anh em cutiii
2026-02-22 14:40:40
0
mayyyki.22
Mâyyy :
Ra liền mùa 4 giữ nguyên cast nha
2026-01-31 08:29:42
6
ldht.22
Đậu N1 đổi tên🌷🐰 :
Mê mùa này nhất, cưng gì đâu, game hay nữa, ai cũng mê
2026-01-31 01:18:28
47
mthw_3084
phe con nít😆 :
* Em gì thì gì chứ*🤣
2026-01-31 02:19:55
12
ser07101999
Ng My Linh :
kkkkk giọng tám Quân tập này khàn hơn nữa gòi
2026-01-30 15:27:44
6
ngna.nfth
na 😭 :
tám lớn tám bé là sao mấy bàaa
2026-01-30 07:39:16
7
cigi085
𝓖 𝓲 𝓪 𝓷 𝓰 .☘︎ ݁˖ 📸 :
Mùa 1 có thỏ đen thỏ trắng
2026-01-31 07:29:46
1
ng.ngochuyen08
Ngọc Huyền🍋 :
@quynhgiang hoài niệm v
2026-03-08 16:08:10
0
khongbietkhinaoratruong
Thỏ nhỏ :
@Ngaan
2026-01-31 04:57:38
2
quennieiuchun2703
Người tình mất trí 🧸🎀✨ :
@ø¤º°𝕍𝕙𝕚𝕕𝕒𝕪𝕠𝕚ღ°º¤ø @׺°”˜ℙ𝕪𝕕𝕒𝕪𝕠𝕚˜”°º×
2026-01-30 17:50:54
1
To see more videos from user @wty_thn, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.
Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.

About