@wilsontrendit: Top 5 whatsapp hacks you need to know.

Wilson
Wilson
Open In TikTok:
Region: GH
Saturday 31 January 2026 19:52:20 GMT
11189
368
6
21

Music

Download

Comments

richwell82
Richwell🎀🫧 :
sz,,,,,,,,,,,,,,,😭😭😭😭😭😂
2026-04-26 18:44:27
0
hisown_sly
HISOWN_SLY🧿 :
Thank you 🤭
2026-01-31 20:41:25
1
eddie_khae27
💫🙏Eddie khae💫🙏 :
🔥🔥🔥
2026-01-31 20:06:48
0
omartech__
OMAR || TECH GUY :
🔥🔥
2026-01-31 20:15:58
1
To see more videos from user @wilsontrendit, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Suara roda koper berputar di jalan bebatuan terdengar nyaring. Dengan susah payah kamu menariknya bersama teman-teman KKN lainnya. “Andai aku bawa Papi...mungkin nggak bakal capek begini,” gerutumu. “Y/N...kata Keonho bales dulu chatnya,” ucapmu salah satu temanmu. Semua orang tahu Keonho dan Juhoon sudah seperti bodyguardmu. Bahkan ditengah sibuknya KKN mereka selalu menuntutmu untuk berkabar. “Sabar ih! Si Keonho posesif banget, lebih dari Papi.” Sesampainya di rumah yang telah warga siapkan, kamu akhirnya bisa merebahkan tubuhmu ke atas kasur empuk.  Lalu tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang berdering di sebelahmu. Dengan malas tanganmu meraih, lalu menarik tombol hijau. “Y/N, lo udah sampai? Aman nggak? Nggak ada yang cat calling kan di sana?” Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Keonho justru membuatmu semakin kesal. “Diem dulu, aku masih capek!” Lalu terdengar samar di seberang sana suara Juhoon, “Kayaknya Y/N bakal nemu jodoh di sana—” “Jaga mulut lo!” hardik Keonho cepat. “Udah ah...aku mau tidur, bye.”  Tanpa menunggu respon kamu buru-buru mengakhiri panggilan. Baru saja mata hampir terpejam, tiba-tiba terasa tepukan pelan pada lengan. “Y/N, ayo jalan-jalan keliling desa,” ajak Siena, sahabat perempuanmu. “Duhh...gue capek Na,” kamu memelas namun Siena langsung menarik tanganmu untuk beranjak dari kasur. Langkah kakimu sempoyongan saat mengikuti rombongan mahasiswa menyusuri desa. Para warga menyapa ramah, anak-anak menjahili ringan, dan kalian terus berjalan. Setelah cukup jauh, kalian semua memutuskan untuk beristirahat di depan minimarket. Wajahmu kini sudah kusut, pandangan susah fokus. Sampai tiba-tiba pintu minimarket terbuka. Seorang anak laki-laki keluar menggenggam kaleng kopi. Mata seketika melek, merasa tak asing. Kaos oblong polos putih, celana selutut, rambut acak-acakan dan wajah datar membuat beberapa temanmu terpana—termasuk kamu. Lelaki itu berjalan menuju moge yang bermerk Harley Davidson, ketampanannya berterbangan membuat sekitarmu penuh bisik-bisik samar. Lalu tiba-tiba ia berbalik, matanya bertemu milikmu. Sedetik tapi rasanya begitu lama, tapi kemudian ia dengan cepat naik ke motornya, dan melaju kencang. Keningmu berkerut. “Itu Seonghyeon. Anak di sini,” jelas seorang anak laki-laki di belakang. Jantungmu seolah berhenti berdetak, karena pria yang kamu sempat taksir adalah sahabatmu. Sahabat yang pergi tanpa penjelasan. “Rumahnya dimana?” tanyamu spontan. Semua orang menoleh padamu, bahkan saling melempar pandangan. “Nggak jauh dari tempat tinggal kita. Kalau ga salah setelah persimpangan. Warna putih. Nanti liat aja motornya—” Belum selesai menjelaskan kamu melesat cepat menuju arah yang diberitahukan. Kebingungan melanda semua orang, karena merasa janggal dengan sikapmu. Langkahmu begitu laju, semua lelah seketika hilang. Dadamu sesak namun debaran jantung ikut berpacu seirama kaki.  Sesampainya kamu di sebuah rumah, matamu langsung jatuh pada motor hitam yang terparkir. Tanpa menunggu lama tanganmu terangkat, mengetuk daun pintu beberapa kali. Saat daun pintu perlahan terbuka, tubuhmu kaku dan lelaki itu—Seonghyeon keluar. Matanya terbelalak kaget, tangannya langsung lepas dari kenop. “Y/N—”  Tanpa membiarkan kalimatnya selesai, kamu langsung menyambar tubuhnya dalam pelukan erat. Sangat erat sampai-sampai Seonghyeon sedikit terhuyung ke belakang. “Aku kangen...kangen banget,” lirihmu. Lelaki itu masih tak membalas pelukan, ia hanya terdiam seolah bimbang antara merengkuh atau mendorongmu menjauh. “Kamu juga masih inget aku, aku kira kamu lupa.” Seonghyeon menghela napas panjang lalu mendorong pelan agar bisa menatap wajahmu. Akan tetapi ia kembali tertegun melihat genangan air mata pada pelupuk. “Kenapa nggak ada kabar? Aku, Keonho, sama Juhoon kangen sama kamu...”  “Mending kamu pulang. Karena aku sama sekali nggak kangen.” Bibirmu terbuka ingin mengatakan sesuatu namun terlambat sebab Seonghyeon lebih dulu membanting pintunya. ( Lanjut di komentar ) #pov #seonghyeon #cortis #fyp
Pov: Suara roda koper berputar di jalan bebatuan terdengar nyaring. Dengan susah payah kamu menariknya bersama teman-teman KKN lainnya. “Andai aku bawa Papi...mungkin nggak bakal capek begini,” gerutumu. “Y/N...kata Keonho bales dulu chatnya,” ucapmu salah satu temanmu. Semua orang tahu Keonho dan Juhoon sudah seperti bodyguardmu. Bahkan ditengah sibuknya KKN mereka selalu menuntutmu untuk berkabar. “Sabar ih! Si Keonho posesif banget, lebih dari Papi.” Sesampainya di rumah yang telah warga siapkan, kamu akhirnya bisa merebahkan tubuhmu ke atas kasur empuk. Lalu tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang berdering di sebelahmu. Dengan malas tanganmu meraih, lalu menarik tombol hijau. “Y/N, lo udah sampai? Aman nggak? Nggak ada yang cat calling kan di sana?” Pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Keonho justru membuatmu semakin kesal. “Diem dulu, aku masih capek!” Lalu terdengar samar di seberang sana suara Juhoon, “Kayaknya Y/N bakal nemu jodoh di sana—” “Jaga mulut lo!” hardik Keonho cepat. “Udah ah...aku mau tidur, bye.” Tanpa menunggu respon kamu buru-buru mengakhiri panggilan. Baru saja mata hampir terpejam, tiba-tiba terasa tepukan pelan pada lengan. “Y/N, ayo jalan-jalan keliling desa,” ajak Siena, sahabat perempuanmu. “Duhh...gue capek Na,” kamu memelas namun Siena langsung menarik tanganmu untuk beranjak dari kasur. Langkah kakimu sempoyongan saat mengikuti rombongan mahasiswa menyusuri desa. Para warga menyapa ramah, anak-anak menjahili ringan, dan kalian terus berjalan. Setelah cukup jauh, kalian semua memutuskan untuk beristirahat di depan minimarket. Wajahmu kini sudah kusut, pandangan susah fokus. Sampai tiba-tiba pintu minimarket terbuka. Seorang anak laki-laki keluar menggenggam kaleng kopi. Mata seketika melek, merasa tak asing. Kaos oblong polos putih, celana selutut, rambut acak-acakan dan wajah datar membuat beberapa temanmu terpana—termasuk kamu. Lelaki itu berjalan menuju moge yang bermerk Harley Davidson, ketampanannya berterbangan membuat sekitarmu penuh bisik-bisik samar. Lalu tiba-tiba ia berbalik, matanya bertemu milikmu. Sedetik tapi rasanya begitu lama, tapi kemudian ia dengan cepat naik ke motornya, dan melaju kencang. Keningmu berkerut. “Itu Seonghyeon. Anak di sini,” jelas seorang anak laki-laki di belakang. Jantungmu seolah berhenti berdetak, karena pria yang kamu sempat taksir adalah sahabatmu. Sahabat yang pergi tanpa penjelasan. “Rumahnya dimana?” tanyamu spontan. Semua orang menoleh padamu, bahkan saling melempar pandangan. “Nggak jauh dari tempat tinggal kita. Kalau ga salah setelah persimpangan. Warna putih. Nanti liat aja motornya—” Belum selesai menjelaskan kamu melesat cepat menuju arah yang diberitahukan. Kebingungan melanda semua orang, karena merasa janggal dengan sikapmu. Langkahmu begitu laju, semua lelah seketika hilang. Dadamu sesak namun debaran jantung ikut berpacu seirama kaki. Sesampainya kamu di sebuah rumah, matamu langsung jatuh pada motor hitam yang terparkir. Tanpa menunggu lama tanganmu terangkat, mengetuk daun pintu beberapa kali. Saat daun pintu perlahan terbuka, tubuhmu kaku dan lelaki itu—Seonghyeon keluar. Matanya terbelalak kaget, tangannya langsung lepas dari kenop. “Y/N—” Tanpa membiarkan kalimatnya selesai, kamu langsung menyambar tubuhnya dalam pelukan erat. Sangat erat sampai-sampai Seonghyeon sedikit terhuyung ke belakang. “Aku kangen...kangen banget,” lirihmu. Lelaki itu masih tak membalas pelukan, ia hanya terdiam seolah bimbang antara merengkuh atau mendorongmu menjauh. “Kamu juga masih inget aku, aku kira kamu lupa.” Seonghyeon menghela napas panjang lalu mendorong pelan agar bisa menatap wajahmu. Akan tetapi ia kembali tertegun melihat genangan air mata pada pelupuk. “Kenapa nggak ada kabar? Aku, Keonho, sama Juhoon kangen sama kamu...” “Mending kamu pulang. Karena aku sama sekali nggak kangen.” Bibirmu terbuka ingin mengatakan sesuatu namun terlambat sebab Seonghyeon lebih dulu membanting pintunya. ( Lanjut di komentar ) #pov #seonghyeon #cortis #fyp

About