@cotranthuyduong_onthivan: Câu hỏi tu từ là phương tiện hiệu quả giúp câu văn của các bạn thêm sâu sắc và giàu suy tư #onthivancotranthuyduong #cotranthuyduong #thptqg #nlxh #LearnOnTikTok

CÔ TRẦN THUỲ DƯƠNG •ÔN THI VĂN
CÔ TRẦN THUỲ DƯƠNG •ÔN THI VĂN
Open In TikTok:
Region: VN
Wednesday 04 February 2026 05:10:18 GMT
9431
779
1
74

Music

Download

Comments

mhugcuber
𝑴.𝑯 ⛱ :
nhg vt phần thân bài và kết bài như thế nào ?kiểu nào? để nó cân xứng với một mở bài hay như vậy, cho nó k bị chênh lệch về độ dài và hay với cái mở bài
2026-03-15 16:27:12
1
To see more videos from user @cotranthuyduong_onthivan, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

. Syeikh Mutawalli Asy-Sya'rawi Meneladani Akhlak Nabi Dalam Majlis, Semua Diperlakukan Sama Ketika Sayyidina Husain ra bertanya kepada ayahnya, Imam Ali (semoga Allah memuliakan wajahnya) beliau berkata:
. Syeikh Mutawalli Asy-Sya'rawi Meneladani Akhlak Nabi Dalam Majlis, Semua Diperlakukan Sama Ketika Sayyidina Husain ra bertanya kepada ayahnya, Imam Ali (semoga Allah memuliakan wajahnya) beliau berkata: "Wahai Ayah, ceritakanlah kepadaku tentang majlis Rasulullah saw, apa yang biasa beliau lakukan di dalamnya? Maksudnya, ketika para sahabat berkumpul, bagaimanakah bentuk majlis Nabi itu?" Imam Ali menjawab: "Sesungguhnya Rasulullah saw tidak pernah duduk maupun berdiri kecuali dengan dzikir kepada Allah." Perhatikanlah kehalusan dan ketelitian akhlak beliau! Rasulullah saw tidak menetapkan tempat duduk tertentu, dan beliau melarang para sahabat untuk menetapkan tempat duduk secara khusus. Maksudnya, tidak boleh ada yang berkata: "Ini tempat si Fulan, tempat dia duduk." Tidak demikian. Siapa pun yang datang, duduklah di mana majlis masih memiliki ruang yang tersisa. Hal ini agar tidak ada yang merasa terasing atau terpinggirkan. Sebab jika seseorang menetapkan tempat khusus, ia bisa saja berdiam diri dan tidak berbicara, lalu orang lain berpikir bahwa ia memiliki kedudukan istimewa di sisi yang hadir. Lihatlah bagaimana akhlak beliau saling terhubung! Lihatlah bagaimana beliau duduk di tengah-tengah. Jika seseorang merasa memiliki tempat khusus, ia bisa saja bersikap sombong di hadapan orang lain hanya karena tempat duduknya. Oleh karena itu, beliau bersabda: "Jangan menetapkan tempat-tempat duduk, dan dilaranglah mengkhusukan tempat tertentu." Inilah yang sering kita lihat di masjid-masjid kita saat ini, setiap orang menganggap ada bagian yang khusus untuk dirinya. Padahal, tidak ada tempat yang khusus bagi siapa pun kecuali tempat Imam. Siapa pun yang datang, datanglah secara berurutan, dan duduklah di mana tersedia ruang. Dan jika Rasulullah saw datang kepada suatu kaum, beliau akan duduk di mana majlis berakhir di tempat yang tersisa. Inilah adab yang luar biasa tinggi! Beliau sendiri pun duduk di mana ruang tersedia, bukan di tempat yang paling utama. Mengapa demikian? Karena Allah menghendaki demikian. Allah menghendaki pertemuan-pertemuan itu senantiasa berubah. Hari ini beliau duduk di sebelah si Fulan, besok di sebelah si Fulan yang lain, dan lusa di sebelah yang lain lagi. Allah menghendaki agar kita saling mengenal dan menyatu satu sama lain, bukan sekadar berkelompok-kelompok. Beliau melarang menetapkan tempat khusus, dan melarang mengkhusukan tempat duduk. Selain itu, beliau memberikan perhatian yang sama kepada setiap orang yang hadir di majlisnya, sehingga tidak ada seorang pun yang mengira bahwa ada orang lain yang lebih dimuliakan oleh beliau daripadanya. Beliau menatap ke sini, menatap ke sana, berbicara kepada yang ini, berbicara kepada yang itu agar setiap orang yang hadir merasa bahwa beliau diperhatikan. Beliau adalah utusan bagi seluruh manusia, bukan hanya utusan untuk sekelompok orang tertentu saja. Kesimpulan dari penjelasan Syeikh Mutawalli Asy-Sya'rawi : 1. Beliau tidak duduk maupun berdiri kecuali dengan berdzikir menyebut nama Allah. 2. Rasulullah saw melarang menetapkan tempat khusus bagi siapa pun. Siapa pun yang datang, duduklah di mana ruang tersedia bahkan beliau sendiri pun duduk di bagian yang kosong, bukan di tempat paling utama. Hal ini mencegah kesombongan, tidak ada yang merasa lebih istimewa, dan tidak ada yang merasa terasing dan terpinggirkan. 3. Beliau tidak selalu duduk bersama orang yang sama, melainkan berganti-ganti agar seluruh umat saling menyatu, tidak berkelompok-kelompok, dan terjalin kasih sayang yang merata. 4. Semua mendapat perhatian yang sama. Beliau memandang dan berbicara kepada setiap orang dengan porsi yang seimbang. Tidak ada yang merasa lebih dimuliakan maupun diabaikan karena beliau adalah utusan untuk seluruh manusia, bukan hanya golongan atau kelompok tertentu.

About