@ian.xp1: #weakheroclass #suho #suhoedit #ahnsuho #viral

𝐈𝐀𝐍.𝐗𝐏
𝐈𝐀𝐍.𝐗𝐏
Open In TikTok:
Region: DE
Friday 20 February 2026 17:25:25 GMT
334211
35902
165
3549

Music

Download

Comments

hlq.15
✩Hela.15☆ :
the creator
2026-02-20 19:01:27
1168
.aurorajsn
aurora :
HOLY SONG CHOICE
2026-02-21 18:33:04
441
aexcel.vfx
Nolx.zerox :
HOLY PEAK SONG NAME😭
2026-02-22 12:30:49
24
secret12spam
️ :
bro these edits 🔥🔥 what do you use to edit they are just wow
2026-02-21 10:05:29
5
spidermanfan815
SPIDER-MAN fan :
w edit
2026-02-20 20:15:25
6
nikxvsz
𝐧𝐢𝐤𝐚 :
this song is sooo nostalgicc 😭
2026-02-20 23:39:57
38
mxttskz143
𐔌 ꪑᴀʀɪɴᴀ ⋆⑅˚₊\🎪 νєяѕ₊ ꒱ ✗ :
2026-03-03 19:30:18
39
.whossxxx
㊙️🎭 :
why isnt this viral omg
2026-02-21 12:55:31
27
liv_liam0
❀Lina❀ :
2026-03-07 21:43:59
32
whczaep
whczaep :
THIS MUST GO VIRAL
2026-02-20 18:20:08
29
nagixr.edits
🖤Nagixr🖤 :
HOLY PEAK
2026-02-21 11:13:56
23
darja6767
ylk_w🐒 :
трогайте этот комм пожалуйста, хочу чаще это видеть🙏🏻🙏🏻
2026-04-06 12:02:47
14
www1r11
Хэсу. :
ПОЧЕМУ ЭТО ТАК АХУЕННО. 🔥
2026-03-15 16:02:53
6
paxettt.52
. :
почему я такой же кореец как они, но они намного выше меня, почему?
2026-02-21 09:21:51
15
nika1673
Nikka :
Your follower:
2026-02-20 17:32:47
5
aptiminka
Apti Minka :
2026-04-29 17:08:37
1
al_izuid
ali😏🫡 :
2026-04-19 18:18:45
2
milokiarbda
просто Софа😱 :
какая серия??
2026-04-18 07:58:03
0
aria_0613
isa💭 :
THIS IS SO GOOD
2026-02-21 14:15:44
3
To see more videos from user @ian.xp1, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV {4} : Pertandingan akhirnya selesai dengan kemenangan mutlak untuk sekolah barumu. Riuh sorak-sorai kemenangan menggema di seluruh penjuru GOR, teman-teman di sekelilingmu saling berpelukan dan merayakan poin terakhir yang mengunci kemenangan. Namun, kamu hanya bisa berdiri mematung, melempar senyum formalitas yang sama sekali tidak mencapai matamu.
POV {4} : Pertandingan akhirnya selesai dengan kemenangan mutlak untuk sekolah barumu. Riuh sorak-sorai kemenangan menggema di seluruh penjuru GOR, teman-teman di sekelilingmu saling berpelukan dan merayakan poin terakhir yang mengunci kemenangan. Namun, kamu hanya bisa berdiri mematung, melempar senyum formalitas yang sama sekali tidak mencapai matamu. "Y/N! Kita menang! Ayo, ikut ke bawah, anak-anak mau foto bareng tim basket!" seru Rania heboh sambil menarik-narik lengan almamatermu. Kamu menggeleng pelan, melepaskan pegangan Rania dengan halus. "Ran, lo duluan aja ya. Tiba-tiba perut gue agak kram, kayaknya gue mau ke toilet bentar terus langsung nunggu di depan." "Eh? Lo gak apa-apa? Perlu gue temenin?" tanya Rania, raut wajahnya berubah khawatir. "Gak usah, gak apa-apa kok. Cuma butuh duduk bentar di luar cari angin," dustamu. Setelah Rania mengangguk dan berjalan turun ke lapangan, kamu segera membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan tribun yang bising. Bukannya ke toilet atau ke depan GOR, langkah kakimu justru membawa dirimu ke arah ruang medis di bagian belakang gedung. Kamu tahu ambulans sudah pergi membawa Juhoon, tetapi entah mengapa, hatimu menolak untuk tenang sebelum memastikan ke mana cowok itu dilarikan. Di depan ruang medis yang pintunya terbuka setengah, kamu melihat pelatih tim lawan sedang berbicara di telepon dengan raut wajah yang sangat frustrasi. Kamu memperlambat langkahmu, pura-pura berjalan melewati koridor itu sambil menajamkan pendengaran. "...iya, langsung dibawa ke Rumah Sakit Metropolitan. Orang tuanya sudah dikontak? Tolong pastikan dokter spesialis ortopedi langsung nanganin. Ini parah, tangan kanannya tumpuan utama dia main," ucap pelatih itu dengan nada berat sebelum mengakhiri panggilan. Rumah Sakit Metropolitan. Niatmu untuk pulang ke rumah mendadak goyah. Logikamu terus berteriak bahwa ini bukan urusanmu lagi. Dia telah menghancurkan reputasimu, membuatmu menanggung malu, dan mengusirmu dari kehidupan lamamu. Kamu sudah menegaskan batas yang jelas di koridor tadi. Namun, sisi hatimu yang lain, sisi yang pernah mengingat betapa kerasnya Juhoon berlatih demi beasiswa basketnya—merasa bersalah. Kamulah alasan cowok itu kehilangan fokus di lapangan. ••• Satu jam kemudian, kamu sudah berada di dalam taksi online yang membawamu membelah jalanan kota menuju Rumah Sakit Metropolitan. Di dalam genggamanmu, ada tas sekolah yang terasa berat, seberat kecamuk di dalam dadamu. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu lakukan begitu sampai di sana. Begitu tiba di rumah sakit, kamu berjalan menyusuri lorong berbau antiseptik yang khas. Setelah bertanya ke bagian informasi dengan alasan sebagai teman sekolahnya, kamu diarahkan ke area instalasi gawat darurat yang sedang sepi. Dari balik celah tirai yang tidak tertutup rapat di salah satu bilik rawat, kamu melihatnya. Juhoon duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan pakaian jersey yang sudah diganti dengan kemeja pasien. Tangan kanannya sudah dibalut gips tebal dari ujung jari hingga mendekati siku, disangga oleh kain sling yang melingkari lehernya. Dia sedang sendirian, menunduk menatap lantai dengan pandangan yang benar-benar kosong. Bahunya yang biasa tegap kini merosot, memancarkan aura keputusasaan yang begitu pekat. Kamu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberanianmu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, kamu mengetuk tiang besi tirai tersebut. Tok. Tok. Juhoon perlahan mendongak. Begitu matanya menangkap sosokmu yang berdiri di sela tirai, manik matanya membelalak tak percaya. Keheningan sempat menyergap di antara kalian berdua selama beberapa detik. "Y/N? Lo... kenapa bisa di sini?" bisik Juhoon. Suaranya serak, terdengar sangat lelah dan rapuh. Kamu melangkah masuk satu tapak, memeluk tas sekolahmu erat-erat di depan dada sebagai pembatas tak kasatmata. "Gue denger dari pelatih lo tadi di GOR." (note : aku ga bakal lanjutin pov ini disini, lanjutannya bakal aku up di wattpad) #POV #cortis #juhoon #foryou #au

About