@ryiandrah:

❤️☘️RYIANDRAH ☘️❤️
❤️☘️RYIANDRAH ☘️❤️
Open In TikTok:
Region: UG
Saturday 21 February 2026 04:46:33 GMT
145
49
2
2

Music

Download

Comments

user1563784817099
kabiite Christine :
💕💕💕
2026-02-21 07:46:54
1
s_mugema
S MUGEMA :
🥰🥰🥰
2026-02-21 07:17:32
1
To see more videos from user @ryiandrah, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dulu, ia menggenggam dunia dengan telapak sekecil embun, mengira setiap pelukan akan tinggal, setiap senyum akan menetap, dan langit hanya mengenal musim yang teduh. Waktu lalu berjalan membawa tubuhnya tumbuh, namun diam-diam menyelipkan duri di setiap jalan yang ia sebut pulang. Ia belajar bahwa tidak semua kehilangan bersuara, dan tidak semua luka memilih darah untuk membuktikan dirinya ada. Anak kecil itu kini telah dewasa. Matanya masih menyimpan cahaya yang sama, meski berkali-kali dipadamkan kecewa. Ia menjahit retak dengan sabar, menyembunyikan hujan di balik wajah yang tampak baik-baik saja. Betapa panjang perjalanan dari tawa yang tanpa beban menuju senyum yang lahir setelah bertahan. Tak ada yang tahu berapa kali ia merapikan dirinya sendiri, setelah dunia selesai mengacak seluruh isi dadanya. Kini ia mengerti, menjadi dewasa bukan tentang bertambah usia, melainkan tentang tetap memilih lembut setelah berkali-kali disentuh getir; tetap percaya pada fajar, meski malam pernah mengajarinya betapa pekat arti kesunyian. Dan di dalam dirinya, anak kecil itu belum benar-benar pergi. Ia hanya belajar memeluk dirinya sendiri ketika tak lagi menemukan tangan yang dahulu dijanjikan akan selalu ada. Sebab dari semua rasa sakit yang pernah singgah, lahirlah seseorang yang tak lagi rapuh karena badai, melainkan setenang laut yang telah berkali-kali berdamai dengan ombaknya sendiri. Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih sendu, lebih filosofis, atau lebih pendek dengan diksi yang lebih dalam lagi.
Dulu, ia menggenggam dunia dengan telapak sekecil embun, mengira setiap pelukan akan tinggal, setiap senyum akan menetap, dan langit hanya mengenal musim yang teduh. Waktu lalu berjalan membawa tubuhnya tumbuh, namun diam-diam menyelipkan duri di setiap jalan yang ia sebut pulang. Ia belajar bahwa tidak semua kehilangan bersuara, dan tidak semua luka memilih darah untuk membuktikan dirinya ada. Anak kecil itu kini telah dewasa. Matanya masih menyimpan cahaya yang sama, meski berkali-kali dipadamkan kecewa. Ia menjahit retak dengan sabar, menyembunyikan hujan di balik wajah yang tampak baik-baik saja. Betapa panjang perjalanan dari tawa yang tanpa beban menuju senyum yang lahir setelah bertahan. Tak ada yang tahu berapa kali ia merapikan dirinya sendiri, setelah dunia selesai mengacak seluruh isi dadanya. Kini ia mengerti, menjadi dewasa bukan tentang bertambah usia, melainkan tentang tetap memilih lembut setelah berkali-kali disentuh getir; tetap percaya pada fajar, meski malam pernah mengajarinya betapa pekat arti kesunyian. Dan di dalam dirinya, anak kecil itu belum benar-benar pergi. Ia hanya belajar memeluk dirinya sendiri ketika tak lagi menemukan tangan yang dahulu dijanjikan akan selalu ada. Sebab dari semua rasa sakit yang pernah singgah, lahirlah seseorang yang tak lagi rapuh karena badai, melainkan setenang laut yang telah berkali-kali berdamai dengan ombaknya sendiri. Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih sendu, lebih filosofis, atau lebih pendek dengan diksi yang lebih dalam lagi.

About