@imashi_fer: paw ithim!😂උත්සාහය අගයන්න ඕනා!#ima #foryoupage #goviral #srilanka🇱🇰 #fyppppppppppppppppppppppp

Imashi.Fernando
Imashi.Fernando
Open In TikTok:
Region: LK
Saturday 21 February 2026 05:07:27 GMT
216482
22337
307
1406

Music

Download

Comments

kaweesha.rathnaya
සුදු නෝනා 🥰 :
දවසක මමත්😏
2026-02-23 17:36:56
46
sithvin.nimtharu6
Sithvin NImtharu :
ඇඩෙන්නනම් දිලා තියෙනවා 🥰🥰🥰🥰🥰
2026-02-27 13:08:12
0
chamathkadewmini36
Chamathka dewmini :
Dawasaka mamayiii eyayiiiii😂
2026-02-27 14:08:06
2
hash_____20
Has__Zzz 👀🪬” :
Wayral ne sis 🫂🥹❤️
2026-02-28 09:56:10
3
sulo8218
_❤️SuLa❤️ :
sve denn🌝❤️
2026-02-24 02:00:32
4
sawandi13
Uma🍃🤍 :
asai😁❤️
2026-02-21 16:16:59
2
gayashan938
Tulina Gayashan :
save dennat nah
2026-03-02 13:01:23
0
nadeekadilrukshi684
Nadeeka.... :
apith adenna demuko😄
2026-02-24 09:33:02
0
methmi930
METHU 💫 :
save 😁
2026-02-23 12:15:31
2
nonimdilshan6
10 : 31 💝💫 :
Sew dennako🥹
2026-03-15 06:07:15
0
..shanu.girl
$..<>..$ :
Supiri 🫂💗
2026-04-05 13:39:26
0
rdinithi
R~~~°^dinithi :
GOOD LUCK
2026-02-25 13:42:52
0
shelomi_senarathna
𝗘𝗺𝗺𝘆𝘆 !💋 :
mmm maruu 😚❤️
2026-02-25 03:18:28
0
123lithu
Lithu🤍 :
Day🥹🫡
2026-02-24 07:07:27
0
shanidubandara58
🤍SHANIYA🤍 :
Save denko 🥹
2026-03-16 16:52:43
0
desh___girl1
Tԋαɾυ _Dҽʂԋ ᥫ᭡🧸🫀 :
Aaaaws 😂💕
2026-04-10 06:38:55
0
pt20081208
𝐓 🤍"🎀 :
ane sv dennakoo
2026-03-16 07:14:22
0
black.dragons2025
𝔹𝕝𝕒𝕔𝕜 𝕕𝕣𝕒𝕘𝕠𝕟𝕤 ◎◎◎ :
මන් නම් එන්න කිව්වෙත් නෑ 😆
2026-03-28 04:39:35
0
sawmya6047
sawmya :
ane save dennko
2026-03-14 19:28:54
0
bus_loves23
Randunu 📸⛓💎 :
මෙවුවනම් 😂🤌
2026-03-16 15:04:39
0
kavee_a_
𝟎𝟗:𝟏𝟎 "💋| :
@akarsha sudooo 🥹💗"💋🫀
2026-03-06 13:54:50
0
toshen_jayanga
🎶_TOSHEN_🎶 :
@**$❤️BATTI❤️$**
2026-04-19 14:47:25
1
tharu_____9
D 💗🥺 :
@@_REEDZY:🐦‍🔥
2026-04-05 06:04:15
1
shali_peiris
Nimsara Peiris :
@Hirusha__Kodithuwakku 😎❤️ one day😂❤️
2026-04-25 16:22:21
0
lakindu.dananjaya3
Laki 💦11.12.💋🥹 :
@S💋 neda mge patiyoo 😇♥️
2026-04-02 10:32:26
0
To see more videos from user @imashi_fer, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Aku Hanya Anak Pembantu… Tapi Allah Mengangkat Derajat Anak-Anakku” Namaku Anita. Sejak kecil aku tinggal di rumah besar milik Pak Gunawan. Ayahku bekerja sebagai sopir pribadi beliau, sedangkan ibuku menjadi pembantu rumah tangga. Kami memang hanya orang kecil… tapi Pak Gunawan dan istrinya memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Aku tumbuh bersama anak-anak mereka. Makan bersama, tertawa bersama… sampai aku lupa kalau sebenarnya kami hanyalah orang numpang hidup. Namun hidup tidak pernah benar-benar lembut pada orang miskin. Saat usiaku 17 tahun, dunia runtuh dalam satu malam. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan ketika pulang membeli kebutuhan rumah majikan. Sejak hari itu… aku menjadi yatim piatu. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di sudut rumah sambil memeluk pakaian ibu yang masih berbau sabun cuci. Aku takut… takut dibuang, takut menjadi beban. Tapi Pak Gunawan dan istrinya memelukku sambil berkata, “Mulai hari ini kamu anak kami juga.” Kalimat itu membuatku bertahan hidup. Dua tahun kemudian, cobaan datang lagi. Pak Gunawan jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau menggenggam tanganku dan berkata pada anak lelakinya, Bram… “Jaga Anita… nikahi dia… jangan biarkan dia sendirian.” Aku menangis saat itu. Bukan karena cinta… tapi karena hutang budi yang begitu besar. Dan akhirnya aku menerima Bram sebagai suamiku dengan ikhlas. Awalnya rumah tangga kami sederhana tapi bahagia. Aku melahirkan empat anak. Hidup kami tidak mewah, tapi aku selalu bersyukur. Aku menjadi istri yang patuh, ibu yang menjaga rumah, dan menantu yang menghormati keluarga suami. Namun kebahagiaan itu perlahan hancur… setelah ibu mertua perempuan yang paling menyayangiku meninggal dunia. Sejak saat itu Bram berubah. Ia mulai pulang larut malam. Mudah marah. Bahkan sering menghina asal-usulku. “Aku malu punya istri anak pembantu!” bentaknya suatu malam. Hatiku seperti disayat. Lelaki yang dulu kupanggil suami… kini memandangku seperti sampah. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya. Ia ingin menikahi mantan kekasihnya… wanita berpendidikan tinggi, kaya, dan dianggap lebih pantas mendampinginya dibanding aku yang hanya anak sopir dan pembantu. Dan malam itu… hujan turun sangat deras ketika Bram mengusirku. Aku masih ingat anak-anakku menangis ketakutan sambil memegang bajuku. “Pergi dari rumah ini! Bawa anak-anakmu sekalian!” Tak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir oleh orang yang selama 13 tahun kita layani dengan cinta. Aku pergi… tanpa membawa harga diri yang tersisa. Tapi Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Aku teringat sebuah amplop pemberian almarhum mertua laki-lakiku. Uang itu selama bertahun-tahun kusimpan rapi dan tak pernah kugunakan sedikit pun. Dengan uang itulah aku membawa anak-anakku pulang ke kampung nenekku… tempat yang bahkan suamiku tidak pernah tahu keberadaannya. Di sanalah aku memulai hidup dari nol. Aku berjualan kecil-kecilan. Pagi memasak, siang berdagang, malam menjahit sambil menahan kantuk. Sering kali aku menangis diam-diam saat anak-anak tidur. Bukan karena lelah… Tapi karena takut anak-anakku tumbuh dengan luka dan kebencian. Aku selalu berkata pada mereka… “Jangan balas hinaan dengan dendam. Balaslah dengan keberhasilan.” Dan Allah mendengar doa seorang ibu yang terluka. Satu per satu anakku tumbuh menjadi kebanggaan.   Orang-orang yang dulu merendahkan kami… kini datang hanya untuk melihat keberhasilan anak-anakku. Tapi bagian paling mengejutkan terjadi 20 tahun setelah pengusiran itu. Suatu sore, seorang lelaki tua berdiri di depan rumah kami. Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Matanya penuh penyesalan. Dia adalah Bram. Lelaki yang dulu mengusir kami seperti pengemis. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anita… maafkan aku. Aku ingin kembali bersama kalian.” Anak-anakku diam. #fyp  #kisahsedih  #perjalananhidup  #pengorbananiklas  #penyesalandanairmata
“Aku Hanya Anak Pembantu… Tapi Allah Mengangkat Derajat Anak-Anakku” Namaku Anita. Sejak kecil aku tinggal di rumah besar milik Pak Gunawan. Ayahku bekerja sebagai sopir pribadi beliau, sedangkan ibuku menjadi pembantu rumah tangga. Kami memang hanya orang kecil… tapi Pak Gunawan dan istrinya memperlakukan kami seperti keluarga sendiri. Aku tumbuh bersama anak-anak mereka. Makan bersama, tertawa bersama… sampai aku lupa kalau sebenarnya kami hanyalah orang numpang hidup. Namun hidup tidak pernah benar-benar lembut pada orang miskin. Saat usiaku 17 tahun, dunia runtuh dalam satu malam. Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan ketika pulang membeli kebutuhan rumah majikan. Sejak hari itu… aku menjadi yatim piatu. Aku masih ingat bagaimana aku menangis di sudut rumah sambil memeluk pakaian ibu yang masih berbau sabun cuci. Aku takut… takut dibuang, takut menjadi beban. Tapi Pak Gunawan dan istrinya memelukku sambil berkata, “Mulai hari ini kamu anak kami juga.” Kalimat itu membuatku bertahan hidup. Dua tahun kemudian, cobaan datang lagi. Pak Gunawan jatuh sakit dan meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, beliau menggenggam tanganku dan berkata pada anak lelakinya, Bram… “Jaga Anita… nikahi dia… jangan biarkan dia sendirian.” Aku menangis saat itu. Bukan karena cinta… tapi karena hutang budi yang begitu besar. Dan akhirnya aku menerima Bram sebagai suamiku dengan ikhlas. Awalnya rumah tangga kami sederhana tapi bahagia. Aku melahirkan empat anak. Hidup kami tidak mewah, tapi aku selalu bersyukur. Aku menjadi istri yang patuh, ibu yang menjaga rumah, dan menantu yang menghormati keluarga suami. Namun kebahagiaan itu perlahan hancur… setelah ibu mertua perempuan yang paling menyayangiku meninggal dunia. Sejak saat itu Bram berubah. Ia mulai pulang larut malam. Mudah marah. Bahkan sering menghina asal-usulku. “Aku malu punya istri anak pembantu!” bentaknya suatu malam. Hatiku seperti disayat. Lelaki yang dulu kupanggil suami… kini memandangku seperti sampah. Sampai akhirnya aku mengetahui semuanya. Ia ingin menikahi mantan kekasihnya… wanita berpendidikan tinggi, kaya, dan dianggap lebih pantas mendampinginya dibanding aku yang hanya anak sopir dan pembantu. Dan malam itu… hujan turun sangat deras ketika Bram mengusirku. Aku masih ingat anak-anakku menangis ketakutan sambil memegang bajuku. “Pergi dari rumah ini! Bawa anak-anakmu sekalian!” Tak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir oleh orang yang selama 13 tahun kita layani dengan cinta. Aku pergi… tanpa membawa harga diri yang tersisa. Tapi Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan hamba-Nya. Aku teringat sebuah amplop pemberian almarhum mertua laki-lakiku. Uang itu selama bertahun-tahun kusimpan rapi dan tak pernah kugunakan sedikit pun. Dengan uang itulah aku membawa anak-anakku pulang ke kampung nenekku… tempat yang bahkan suamiku tidak pernah tahu keberadaannya. Di sanalah aku memulai hidup dari nol. Aku berjualan kecil-kecilan. Pagi memasak, siang berdagang, malam menjahit sambil menahan kantuk. Sering kali aku menangis diam-diam saat anak-anak tidur. Bukan karena lelah… Tapi karena takut anak-anakku tumbuh dengan luka dan kebencian. Aku selalu berkata pada mereka… “Jangan balas hinaan dengan dendam. Balaslah dengan keberhasilan.” Dan Allah mendengar doa seorang ibu yang terluka. Satu per satu anakku tumbuh menjadi kebanggaan. Orang-orang yang dulu merendahkan kami… kini datang hanya untuk melihat keberhasilan anak-anakku. Tapi bagian paling mengejutkan terjadi 20 tahun setelah pengusiran itu. Suatu sore, seorang lelaki tua berdiri di depan rumah kami. Tubuhnya kurus. Rambutnya memutih. Matanya penuh penyesalan. Dia adalah Bram. Lelaki yang dulu mengusir kami seperti pengemis. Dengan suara bergetar ia berkata, “Anita… maafkan aku. Aku ingin kembali bersama kalian.” Anak-anakku diam. #fyp #kisahsedih #perjalananhidup #pengorbananiklas #penyesalandanairmata

About