@y_s_975:

Youssef.😘
Youssef.😘
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 01 March 2026 13:34:29 GMT
88
15
10
7

Music

Download

Comments

user9849835555014
علي :
💔💔💔💔💔
2026-03-04 11:02:32
1
hussein13292
ميسي 🫡 :
😢😢😢
2026-03-05 10:17:11
1
sawa_1d
Methaq Satar :
😔😔😞😞😞
2026-03-02 14:40:40
1
rr_rks
R :
😞😞
2026-03-03 19:59:22
1
_1d7h
ديبالا ❤️‍🔥♕♡ :
😔💔
2026-03-01 18:02:45
1
To see more videos from user @y_s_975, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

IHSG berhasil melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, sementara rupiah juga kembali menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000. Penguatan ganda di pasar saham dan mata uang ini memicu optimisme baru di kalangan investor, sekaligus memperkuat narasi #SellSingapore yang belakangan ramai diperbincangkan sebagai simbol kembalinya dana dan aset milik konglomerat Indonesia ke dalam negeri. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintahan saat ini aktif membangun komunikasi dengan kelompok konglomerat terbesar Indonesia, mulai dari Prajogo Pangestu, Anthony Salim, Franky Widjaja, Boy Thohir hingga Aguan. Selain menawarkan peluang investasi di sektor strategis seperti hilirisasi, energi, dan infrastruktur, pemerintah juga memberikan kepastian regulasi serta berbagai insentif investasi. Di saat yang sama, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang lebih ketat membuat likuiditas dari sektor sumber daya alam semakin banyak bertahan di dalam negeri dibanding mengalir ke pusat keuangan luar negeri. Dampaknya mulai terlihat secara nyata. Keluarga Mochtar Riady melalui OUE Commercial REIT diketahui tengah mencari pembeli untuk One Raffles Place, salah satu gedung paling ikonik di kawasan bisnis Singapura dengan valuasi sekitar S$2,4 miliar. Sukanto Tanoto juga dilaporkan melepas aset properti di Singapura senilai sekitar Rp1,5 triliun. Bagi pelaku pasar, langkah ini menjadi sinyal bahwa sebagian pemilik modal besar Indonesia mulai melakukan reposisi portofolio dan mencari peluang yang lebih menarik di dalam negeri. Kondisi tersebut bertepatan dengan perlambatan ekonomi Singapura yang membuat pasar properti dan investasi tidak lagi seagresif beberapa tahun lalu. Karena itu, penguatan pasar Indonesia hari ini dipandang bukan sekadar efek teknikal atau sentimen jangka pendek. Di mata sebagian investor, ini adalah cerminan dari perubahan arus modal yang lebih besar: ketika dana Indonesia yang selama ini berkembang di luar negeri mulai perlahan kembali mencari rumah di negaranya sendiri. #ekonomi #sellsingapore #prabowo #saham
IHSG berhasil melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini, sementara rupiah juga kembali menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menembus level psikologis Rp18.000. Penguatan ganda di pasar saham dan mata uang ini memicu optimisme baru di kalangan investor, sekaligus memperkuat narasi #SellSingapore yang belakangan ramai diperbincangkan sebagai simbol kembalinya dana dan aset milik konglomerat Indonesia ke dalam negeri. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja. Pemerintahan saat ini aktif membangun komunikasi dengan kelompok konglomerat terbesar Indonesia, mulai dari Prajogo Pangestu, Anthony Salim, Franky Widjaja, Boy Thohir hingga Aguan. Selain menawarkan peluang investasi di sektor strategis seperti hilirisasi, energi, dan infrastruktur, pemerintah juga memberikan kepastian regulasi serta berbagai insentif investasi. Di saat yang sama, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang lebih ketat membuat likuiditas dari sektor sumber daya alam semakin banyak bertahan di dalam negeri dibanding mengalir ke pusat keuangan luar negeri. Dampaknya mulai terlihat secara nyata. Keluarga Mochtar Riady melalui OUE Commercial REIT diketahui tengah mencari pembeli untuk One Raffles Place, salah satu gedung paling ikonik di kawasan bisnis Singapura dengan valuasi sekitar S$2,4 miliar. Sukanto Tanoto juga dilaporkan melepas aset properti di Singapura senilai sekitar Rp1,5 triliun. Bagi pelaku pasar, langkah ini menjadi sinyal bahwa sebagian pemilik modal besar Indonesia mulai melakukan reposisi portofolio dan mencari peluang yang lebih menarik di dalam negeri. Kondisi tersebut bertepatan dengan perlambatan ekonomi Singapura yang membuat pasar properti dan investasi tidak lagi seagresif beberapa tahun lalu. Karena itu, penguatan pasar Indonesia hari ini dipandang bukan sekadar efek teknikal atau sentimen jangka pendek. Di mata sebagian investor, ini adalah cerminan dari perubahan arus modal yang lebih besar: ketika dana Indonesia yang selama ini berkembang di luar negeri mulai perlahan kembali mencari rumah di negaranya sendiri. #ekonomi #sellsingapore #prabowo #saham

About