@tuyen_huynh16: Kiếp nghèo mưu Sinh #quêhươngtôi #quêtôi #69camau

Tuyền Ơi
Tuyền Ơi
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 10 March 2026 11:04:02 GMT
7740
190
3
1

Music

Download

Comments

thanh.ngntin.gian
thái hoàng 💫 Mê Gái 💫 :
2026-03-15 02:20:22
0
cuongquoc.nguyn
CuongQuoc Nguyên :
🥰🥰🥰
2026-03-10 23:57:42
0
namnek063
ko biết :
🥰🥰🥰
2026-03-12 06:00:51
0
To see more videos from user @tuyen_huynh16, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Asal Anda tahu, kekuasaan sering bekerja dalam diam. Dan justru itulah yang paling berbahaya. Di dalam buku 'Kursi Kekuasaan Jawa', Eddy Supriyatna Marizar mengungkap bahwa kekuasaan sering bergerak lewat simbol, pengaruh, jaringan, dan persepsi. Yang terlihat memimpin belum tentu yang benar-benar mengendalikan permainan. Banyak orang mengira kekuasaan dimenangkan oleh yang paling kuat, paling kaya, atau paling lantang berbicara. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Selama ini kita hanya tahu bahwa semua keputusan dan kebijakan negara lahir dari rapat, aturan, dan jabatan resmi. Padahal sering kali keputusan sudah ditentukan jauh sebelum rapat dimulai. Karena sesungguhnya kultur budaya dan politik kita, apalagi dengan pilihan sitem politik transaksional yang kita anut hari ini, dimana modal untuk menciptakan kemenangan sangat dominan. Maka ada kekuasaan formal yang terlihat publik, dan ada kekuasaan informal yang bekerja di belakang layar. Sebagian orang (politisi) mengejar jabatan, sementara yang lain mengendalikan arah tanpa harus duduk di kursi jabatan. Mengapa banyak tokoh dalam kultur Jawa yang berpengaruh justru tampil tenang, jarang bicara, bahkan terlihat pasif? Karena dalam tradisi politik Jawa, kendali bukan soal seberapa keras suara Anda terdengar. Kendali adalah kemampuan membuat orang lain bergerak sesuai keinginan Anda tanpa merasa sedang diarahkan. Semakin halus pengaruhnya, semakin kuat kekuasaannya. Karena pada hakekatnya Kekuasaan bukan hanya soal memerintah orang lain, tetapi tentang mengelola citra, menjaga legitimasi, dan membangun kepercayaan kolektif. Jadi jangan terkecoh hanya melihat siapa yang berbicara di depan, tetapi perhatikanlah siapa yang membentuk narasi di belakang. Sudah saatnya berhenti hanya melihat siapa yang duduk di kursi. Mulailah memahami siapa yang menggerakkan kursi itu. Lalu temukan lapisan kekuasaan yang selama ini tersembunyi.  @logika.filsuf
Asal Anda tahu, kekuasaan sering bekerja dalam diam. Dan justru itulah yang paling berbahaya. Di dalam buku 'Kursi Kekuasaan Jawa', Eddy Supriyatna Marizar mengungkap bahwa kekuasaan sering bergerak lewat simbol, pengaruh, jaringan, dan persepsi. Yang terlihat memimpin belum tentu yang benar-benar mengendalikan permainan. Banyak orang mengira kekuasaan dimenangkan oleh yang paling kuat, paling kaya, atau paling lantang berbicara. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Selama ini kita hanya tahu bahwa semua keputusan dan kebijakan negara lahir dari rapat, aturan, dan jabatan resmi. Padahal sering kali keputusan sudah ditentukan jauh sebelum rapat dimulai. Karena sesungguhnya kultur budaya dan politik kita, apalagi dengan pilihan sitem politik transaksional yang kita anut hari ini, dimana modal untuk menciptakan kemenangan sangat dominan. Maka ada kekuasaan formal yang terlihat publik, dan ada kekuasaan informal yang bekerja di belakang layar. Sebagian orang (politisi) mengejar jabatan, sementara yang lain mengendalikan arah tanpa harus duduk di kursi jabatan. Mengapa banyak tokoh dalam kultur Jawa yang berpengaruh justru tampil tenang, jarang bicara, bahkan terlihat pasif? Karena dalam tradisi politik Jawa, kendali bukan soal seberapa keras suara Anda terdengar. Kendali adalah kemampuan membuat orang lain bergerak sesuai keinginan Anda tanpa merasa sedang diarahkan. Semakin halus pengaruhnya, semakin kuat kekuasaannya. Karena pada hakekatnya Kekuasaan bukan hanya soal memerintah orang lain, tetapi tentang mengelola citra, menjaga legitimasi, dan membangun kepercayaan kolektif. Jadi jangan terkecoh hanya melihat siapa yang berbicara di depan, tetapi perhatikanlah siapa yang membentuk narasi di belakang. Sudah saatnya berhenti hanya melihat siapa yang duduk di kursi. Mulailah memahami siapa yang menggerakkan kursi itu. Lalu temukan lapisan kekuasaan yang selama ini tersembunyi.  @logika.filsuf

About