@ihateexme_:

Hinata Uzumaki
Hinata Uzumaki
Open In TikTok:
Region: MY
Tuesday 10 March 2026 11:05:39 GMT
173931
17217
125
4672

Music

Download

Comments

kingx_12
zuhri♤ :
Sabahan tak mengecewakan😁
2026-03-10 18:33:15
16
tamiyamalaysia
Tamiya Malaysia Collectible :
sis jom main tamiya
2026-03-10 16:56:41
7
4meyru7
S0ME0NE :
2026-03-10 16:17:31
9
ryxzal7
papa zola :
dari dulu tak pernah tak manis...
2026-03-10 13:09:37
3
doublezack22
🐺wolf🐺 :
2026-03-11 20:50:59
7
lalumauapalagi3
LaluMauApaLagi :
2026-03-11 04:37:52
1
midorimaru8290
uzi :
makin shar 😳
2026-03-14 09:38:08
3
afiqoo2
⚓🍁 afiq🍁⚓ :
2026-03-10 21:45:52
2
razalishamsuddin77
Raz :
mantap pakabu😁
2026-03-13 02:50:24
1
ihateyoubltch
IhateYouBltch :
Buah
2026-03-21 07:10:17
1
johnkhairul96
johnkhairul96 :
danggggggg😳😳
2026-03-10 12:55:24
2
shahrulidris
shahrul idris :
yummy
2026-04-09 14:08:31
1
matahariwave
Mata Hari :
waaaa😂👍👍
2026-03-10 14:53:11
2
sincan0070
sincan :
padu😭😭😭
2026-04-28 05:47:03
1
doctor_3than
Gunbai_uchiWa :
mahal
2026-04-03 04:25:07
1
afakeporpo
vanila ice🧊 :
😍🥰😍
2026-03-10 16:14:20
1
zieyz99
YZIEYZ :
izinn jadi uzumaki narutoo🙏
2026-03-17 16:01:56
2
tumasnfrenz
Tumas :
mantap!
2026-04-16 06:49:37
1
compett91
compett91 :
my favorite girl
2026-03-23 20:09:45
1
burrburry11
burr :
she look so different now. but still, shes pretty
2026-04-01 09:11:46
2
azmy8670
🇲🇾🇵🇸ازمي داءيق :
uishhhh...jangan lah😃
2026-03-10 11:49:00
2
rorre6789
error :
bestnya
2026-03-10 11:50:12
2
low_less08
Lichaa25 :
Nak ikut trend jugak🗿🤣
2026-03-10 11:40:23
3
deen_n.a.n_77
Nasi Air Naro ข้าวน้ำนาโร :
2026-03-10 15:46:25
1
user6848467431928
user6848467431928 :
2026-03-10 11:17:01
1
To see more videos from user @ihateexme_, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada masa di mana aku ingin membiarkan pesan terakhirku tetap menggantung dalam centang satu, agar aku tak pernah tahu bahwa ia telah sampai kepadamu. Namun rasa ingin tahuku selalu lebih besar daripada keberanianku untuk hidup dalam ketidakpastian. Lalu dua garis kecil itu berubah warna. 𝑫𝒖𝒂 𝒄𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒓𝒖. Aku tahu pesanku telah sampai. Kau telah membaca pesan rindu yang kutulis. Kau mengetahui seluruh isi hatiku yang selama ini kusimpan. Kau tahu betapa banyak keberanian yang harus kukumpulkan hanya untuk menyapamu sekali lagi. Namun kau mungkin tidak pernah tahu berapa kali pesan itu kutulis sebelum akhirnya kukirim.  Berapa kali aku menghapus satu kalimat karena takut terdengar memaksa.  Berapa kali aku mengganti satu kata karena takut kau salah mengerti.  Berapa kali ibu jariku menggantung di atas tombol kirim, lalu mengurungkan niat karena takut balasanmu bukan lagi seperti dulu. Aku ingin pesan itu terdengar biasa. Seolah-olah aku baik-baik saja. Seolah-olah namamu tidak lagi membuat dadaku sesak.  Padahal setiap kalimat yang kau baca adalah hasil dari begitu banyak keraguan yang akhirnya kalah oleh rindu. Lalu diam-diam aku berharap akan muncul dua kata yang selalu mampu membuat jantungku berdebar. 𝑆𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑖𝑘... Aku membayangkan jemarimu sedang memilih kata-kata. Aku membayangkan kau membaca ulang pesanku sekali lagi sebelum mulai membalasnya. Aku membayangkan kau berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang ingin kau katakan. Untuk beberapa saat, harapan itu terasa begitu nyata. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri. Namun waktu terus berjalan. Centang biru tetap sama. Tulisan yang sejak tadi kunantikan tak pernah muncul. Ternyata kau tidak membalas pesanku. Pesan rindu yang kurangkai dengan hati-hati. Pesan yang kutulis dengan seluruh keberanian yang berhasil kukumpulkan setelah sekian lama memilih diam. Pesan yang membawa begitu banyak perasaan yang selama ini kusimpan sendiri. Kau membacanya. Kau mengetahui semuanya. Namun kau memilih meninggalkannya tetap menjadi dua centang biru.
Ada masa di mana aku ingin membiarkan pesan terakhirku tetap menggantung dalam centang satu, agar aku tak pernah tahu bahwa ia telah sampai kepadamu. Namun rasa ingin tahuku selalu lebih besar daripada keberanianku untuk hidup dalam ketidakpastian. Lalu dua garis kecil itu berubah warna. 𝑫𝒖𝒂 𝒄𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒓𝒖. Aku tahu pesanku telah sampai. Kau telah membaca pesan rindu yang kutulis. Kau mengetahui seluruh isi hatiku yang selama ini kusimpan. Kau tahu betapa banyak keberanian yang harus kukumpulkan hanya untuk menyapamu sekali lagi. Namun kau mungkin tidak pernah tahu berapa kali pesan itu kutulis sebelum akhirnya kukirim. Berapa kali aku menghapus satu kalimat karena takut terdengar memaksa.  Berapa kali aku mengganti satu kata karena takut kau salah mengerti.  Berapa kali ibu jariku menggantung di atas tombol kirim, lalu mengurungkan niat karena takut balasanmu bukan lagi seperti dulu. Aku ingin pesan itu terdengar biasa. Seolah-olah aku baik-baik saja. Seolah-olah namamu tidak lagi membuat dadaku sesak.  Padahal setiap kalimat yang kau baca adalah hasil dari begitu banyak keraguan yang akhirnya kalah oleh rindu. Lalu diam-diam aku berharap akan muncul dua kata yang selalu mampu membuat jantungku berdebar. 𝑆𝑒𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑡𝑖𝑘... Aku membayangkan jemarimu sedang memilih kata-kata. Aku membayangkan kau membaca ulang pesanku sekali lagi sebelum mulai membalasnya. Aku membayangkan kau berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang ingin kau katakan. Untuk beberapa saat, harapan itu terasa begitu nyata. Aku bahkan sempat tersenyum sendiri. Namun waktu terus berjalan. Centang biru tetap sama. Tulisan yang sejak tadi kunantikan tak pernah muncul. Ternyata kau tidak membalas pesanku. Pesan rindu yang kurangkai dengan hati-hati. Pesan yang kutulis dengan seluruh keberanian yang berhasil kukumpulkan setelah sekian lama memilih diam. Pesan yang membawa begitu banyak perasaan yang selama ini kusimpan sendiri. Kau membacanya. Kau mengetahui semuanya. Namun kau memilih meninggalkannya tetap menjadi dua centang biru.

About