@_xuanmoc_rv: Quần chip.bảo hộ #xuanmocreivew #vairal #thoitrangnuhottrend

Xuân mộc Review
Xuân mộc Review
Open In TikTok:
Region: VN
Thursday 12 March 2026 16:27:49 GMT
87388
147
4
22

Music

Download

Comments

trinhlovetiktok
My Trinh Shop 🧺🌹 :
Quần mặc êm nha
2026-05-06 00:11:44
0
medaubap96
Thư Nguyễn :
có váy shop mặc k ạ
2026-04-16 15:16:04
0
meoxinhdep789
meoxinhdep789 :
hết màu hết cả size
2026-04-20 16:49:21
0
To see more videos from user @_xuanmoc_rv, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Cuma 500 ribu sebulan buat apa, Musa. Besok-besok enggak usah diterima! Malu-maluin aja, balikkin ke mereka.” “500 ribu juga uang Ayah.” “Gaji Ayah aja 10 juta.” “Gaji 10 juta juga percuma kalau enggak pernah di kasih ke Bunda.” “Ya, Bunda kamu boros. Yang ada 10 juta abis sehari.” “Boros dari mana? 1 juta aja Ayah enggak pernah kan kasih ke Bunda? Mending juga gaji Musa 500 ribu full buat Bunda! Coba ngandelin gaji ayah. Setiap hari Ayah belanja seenak sendiri. Beli sayuran, ya sayurannya aja emangnya bisa layak makan tanpa bumbu? Di mana-mana juga yang belanja mah perempuan bukan laki-laki. Ayah belanja cuma tempe tahu, emangnya bisa mateng tanpa minyak? Udahlah Yah, Musa capek! Ayah mah kebanyakan gengsi, enggak pernah mikirin kalau kita juga pengen hidup normal. Bukan hidup terserah ayah. Gaji 10 juta juga bukan buat Bunda mah, enggak jadi apa-apa. Makan aja kadang enggak kenyang, karena berasnya enggak cukup!” Sungguh aku benar-benar tak menyangka, jika Musa akan bicara selantang itu. Hanya, karena ia bisa menghasilkan uang lima ratus ribu rupiah saja, seolah-olah ia sudah mencukupi semua kehidupan hidup. Memang benar selama ini, aku yang mengatur keuangan rumah tangga. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, aku hanya berkaca pada saudara-saudaraku di kampung yang mana keuangannya di pegang istri. Kebanyakan mereka sampai hari ini hidupnya hanya begitu-begitu saja. Tak banyak perubahan. Bahkan, banyak teman-temanku yang belum memiliki rumah, padahal usia pernikahan mereka sudah berjalan 20 tahun. Namun, lihatlah aku sekarang, mobil angkutan umum ada 3 tanah ada rumah juga ada di kota. Bisa-bisanya Musa mengatakan usahaku ini tak jadi apa-apa. “Kamu tahu apa hah? Kamu enggak lihat tanah kita di kampung sama mobil angkot? Itu yang kamu bilang enggak jadi apa-apa?” “Ya kalau di sini kelaparan, buat apa juga punya banyak mobil sama tanah. Da enggak ngenyangin!” “Hidup itu enggak cuma tentang makan Musa, kamu tuh harus punya masa depan! Makan mah enak enggak enak ujung-ujungnya dibuang. Mending juga mikirin investasi. Coba kamu pikir harga tanah setiap tahunnya bakal naik terus! Dibandingkan makanan, dimakan ya ujungnya jadi kotoran juga!” Aku bisa melihat tangan Musa mengepal. Jelas ia marah, tetapi masih ditahan, apa lagi saat itu suara anak-anak melantunkan salawat di musala sudah terdengar, karena jarak musala dan rumah yang dekat. Bicara di saat seperti ini hanya sia-sia belaka. Suara kami akan kalah. “Akang udahlah, enggak usah diterusin! Mau maghrib, malah ribut,” ucap Lara yang mencoba menengahi. “Ada Arfan juga loh, enggak enak dia jadi takut dengar aa sama ayahnya berantem,” tambahnya. “Ajarin anak kamu, Lara! Udah pinter melawan sekarang, ya! Makanya jangan kamu ajarin masak terus biar dia enggak lupa kalau dia laki-laki.” “Kalau bukan aku yang bantuin emang siapa lagi? Orang Bunda juga enggak punya anak perempuan.” Entah kenapa aku kesal sekali dengan anak ini, kalau saja tidak ada Arfan yang saat itu tengah mengintip di balik minibar dapur kami. Aku sudah ingin sekali menamparnya. Suatu hari kamu juga akan merasakan kok, saat berumah tangga. Masa ia, kita yang bekerja keras, harus memberikan semua hasilnya pada pasangan. Sungguh tidak adil. Seakan tak mendengar perintahku. Musa malah melanjutkan memasak di dapur tepat saat Lara pergi ke kamar, karena Sean anak ketiga kami menangis. Umurnya 4 tahun. Saat itu ia memang sedang tertidur.  Akhirnya azan maghrib berkumandang. Walaupun makanan yang tersaji di hadapanku cukup lezat, rasanya aku mendadak kehilangan selera karena kesombongan Musa.  “Ayah enggak makan?” tanya Arfan. “Enggak lapar!” “Oh.” “Gengsi ya Yah, makan dari uang Musa.” “KAMU YA! BERANI KAMU SAMA ORANG TUA!” baca cerita selengkapnya di aplikasi kbm app  Judul: Nafkah yang Keliru  Penulis: Eria Yurika  #xyzbcq #fypシ゚viral🖤tiktok #pov
“Cuma 500 ribu sebulan buat apa, Musa. Besok-besok enggak usah diterima! Malu-maluin aja, balikkin ke mereka.” “500 ribu juga uang Ayah.” “Gaji Ayah aja 10 juta.” “Gaji 10 juta juga percuma kalau enggak pernah di kasih ke Bunda.” “Ya, Bunda kamu boros. Yang ada 10 juta abis sehari.” “Boros dari mana? 1 juta aja Ayah enggak pernah kan kasih ke Bunda? Mending juga gaji Musa 500 ribu full buat Bunda! Coba ngandelin gaji ayah. Setiap hari Ayah belanja seenak sendiri. Beli sayuran, ya sayurannya aja emangnya bisa layak makan tanpa bumbu? Di mana-mana juga yang belanja mah perempuan bukan laki-laki. Ayah belanja cuma tempe tahu, emangnya bisa mateng tanpa minyak? Udahlah Yah, Musa capek! Ayah mah kebanyakan gengsi, enggak pernah mikirin kalau kita juga pengen hidup normal. Bukan hidup terserah ayah. Gaji 10 juta juga bukan buat Bunda mah, enggak jadi apa-apa. Makan aja kadang enggak kenyang, karena berasnya enggak cukup!” Sungguh aku benar-benar tak menyangka, jika Musa akan bicara selantang itu. Hanya, karena ia bisa menghasilkan uang lima ratus ribu rupiah saja, seolah-olah ia sudah mencukupi semua kehidupan hidup. Memang benar selama ini, aku yang mengatur keuangan rumah tangga. Bukan tanpa alasan aku melakukannya, aku hanya berkaca pada saudara-saudaraku di kampung yang mana keuangannya di pegang istri. Kebanyakan mereka sampai hari ini hidupnya hanya begitu-begitu saja. Tak banyak perubahan. Bahkan, banyak teman-temanku yang belum memiliki rumah, padahal usia pernikahan mereka sudah berjalan 20 tahun. Namun, lihatlah aku sekarang, mobil angkutan umum ada 3 tanah ada rumah juga ada di kota. Bisa-bisanya Musa mengatakan usahaku ini tak jadi apa-apa. “Kamu tahu apa hah? Kamu enggak lihat tanah kita di kampung sama mobil angkot? Itu yang kamu bilang enggak jadi apa-apa?” “Ya kalau di sini kelaparan, buat apa juga punya banyak mobil sama tanah. Da enggak ngenyangin!” “Hidup itu enggak cuma tentang makan Musa, kamu tuh harus punya masa depan! Makan mah enak enggak enak ujung-ujungnya dibuang. Mending juga mikirin investasi. Coba kamu pikir harga tanah setiap tahunnya bakal naik terus! Dibandingkan makanan, dimakan ya ujungnya jadi kotoran juga!” Aku bisa melihat tangan Musa mengepal. Jelas ia marah, tetapi masih ditahan, apa lagi saat itu suara anak-anak melantunkan salawat di musala sudah terdengar, karena jarak musala dan rumah yang dekat. Bicara di saat seperti ini hanya sia-sia belaka. Suara kami akan kalah. “Akang udahlah, enggak usah diterusin! Mau maghrib, malah ribut,” ucap Lara yang mencoba menengahi. “Ada Arfan juga loh, enggak enak dia jadi takut dengar aa sama ayahnya berantem,” tambahnya. “Ajarin anak kamu, Lara! Udah pinter melawan sekarang, ya! Makanya jangan kamu ajarin masak terus biar dia enggak lupa kalau dia laki-laki.” “Kalau bukan aku yang bantuin emang siapa lagi? Orang Bunda juga enggak punya anak perempuan.” Entah kenapa aku kesal sekali dengan anak ini, kalau saja tidak ada Arfan yang saat itu tengah mengintip di balik minibar dapur kami. Aku sudah ingin sekali menamparnya. Suatu hari kamu juga akan merasakan kok, saat berumah tangga. Masa ia, kita yang bekerja keras, harus memberikan semua hasilnya pada pasangan. Sungguh tidak adil. Seakan tak mendengar perintahku. Musa malah melanjutkan memasak di dapur tepat saat Lara pergi ke kamar, karena Sean anak ketiga kami menangis. Umurnya 4 tahun. Saat itu ia memang sedang tertidur. Akhirnya azan maghrib berkumandang. Walaupun makanan yang tersaji di hadapanku cukup lezat, rasanya aku mendadak kehilangan selera karena kesombongan Musa. “Ayah enggak makan?” tanya Arfan. “Enggak lapar!” “Oh.” “Gengsi ya Yah, makan dari uang Musa.” “KAMU YA! BERANI KAMU SAMA ORANG TUA!” baca cerita selengkapnya di aplikasi kbm app Judul: Nafkah yang Keliru Penulis: Eria Yurika #xyzbcq #fypシ゚viral🖤tiktok #pov

About