@aidasrn8:

aiddaa
aiddaa
Open In TikTok:
Region: ID
Friday 13 March 2026 11:40:06 GMT
414244
68901
117
13664

Music

Download

Comments

rayyenbalfas_
rayyen :
damn
2026-03-13 12:15:17
65
mama_vira24
budak_kicik👶😼 :
kesini cuman gra² liat postingan ulang nya papanya ashel😭😭
2026-03-25 11:12:35
76
jeanstain
Jeanstain :
2026-03-13 13:43:54
1
tehoaislimauikatpenuh
hazimsukatido :
2026-03-13 15:18:59
1
angelsro0l
A :
2026-03-13 16:00:58
1
akhramrafar8
Akhram Rafar :
Sedap main ni 🥰❤️
2026-03-13 21:32:58
1
thecallmepanly_
💤💤 :
sama kaya sawo tapi enak
2026-03-13 16:52:08
20
loveyousomuchtoo
🇪 🇳 🇨 🇮 🇰 🇲 🇮 🇲 🇵 🇮 :
2026-03-13 14:25:08
1
fadzly996
Fadzly99 :
2026-03-13 16:56:57
1
its_iff
XЗRO :
ga semua org kuat da😩
2026-03-13 12:17:00
29
ultramentaro375
Bridiaciahh :
2026-03-13 14:22:50
2
veni27januari
Veni 27januari :
siapa yg kesini gara² mau liat postingan papanya ashel
2026-03-26 00:38:00
2
yatsyyy25
pqmak69 :
2026-03-13 14:32:38
1
lendelle_e2
lendelle_e :
mampirrrr☺️
2026-03-13 15:12:48
3
stkysoyoysdhkydo
tiaoysusjtseyluls :
firstttt
2026-03-13 11:52:37
2
fadlizul70
fadlizul :
nice 🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩
2026-03-13 12:31:11
1
mysticmist87
MysticMist :
Sharr
2026-03-13 12:25:04
1
rndiiiputra_
Randi Putra :
2026-03-13 14:23:21
1
eyyyzxmm
ezammmmm :
2026-03-13 15:22:02
2
apibiru.npc
apibiru :
2026-03-13 13:25:57
4
To see more videos from user @aidasrn8, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Park Sunghoon, siswa kelas 3 jurusan musik klasik. Bakat utamanya ice skating—ia sedang berjuang melawan trauma masa lalu yang membuatnya terpaksa harus berhenti dari profesi ini—dan biola. Sunghoon terkenal dengan dingin dan diamnya yang membuat ia dijauhi orang-orang, terkecuali beberapa temannya.  Saat bermain biola, Sunghoon mampu membuat satu ruangan diam terpaku dan turut merasakan apa yang sedang dicurahkan Sunghoon melalui permainannya. Namun sayangnya, Sunghoon jarang menunjukkan itu kepada semua orang. Hari itu hujan lebat diiringi petir seakan menggambarkan perasaan seseorang yang sangat terluka. Sampai pada pukul 5 sore hujan mulai reda, namun kamu masih belum ada niat untuk pulang.  “Satu puisi lagi deh, tanggung,” ucapmu yang saat ini masih berada di perpustakaan. Kamu selalu merekam suaramu agar bisa kamu tulis ulang dan kebetulan hari itu kamu mengunggahnya di media sosial.  Namun keesokan harinya kamu dibuat terkejut dengan notifikasi yang ramai dengan isi komentar ‘Dari mana kamu mendapat backsound itu? Aku baru mendengarnya’ , ‘Indah sekali alunannya’ , ‘Siapa yang bermain biola itu, Y/N?’ dan banyak komentar lainnya. Kamu baru menyadari itu setelah membaca komentar orang-orang. Saat kamu dengar lebih saksama, “Wah… apa ini? Mereka benar, ini alunan terindah yang pernah kudengar.”  Unggahanmu semakin tersebar luas, kamu merasa tidak enak hati karena memakai musiknya tanpa izin. Akhirnya kamu memutuskan mencari sang pemilik musik. Park Sunghoon—berada dihadapanmu saat ini. Kamu tergugup, sebab Sunghoon melihatmu dengan tatapan tajam dan marah. “Hapus. Aku tidak suka suara musikku didengar tanpa izin.” Belum sempat kamu membuka mulut, Sunghoon meninggalkanmu begitu saja. Kamu hanya menatap punggung Sunghoon yang kian menjauh. Langkahnya cepat, panjang, seolah tidak memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan.  —————— Tiga hari berlalu—kamu tetap datang ke pojok favoritmu. Kursi kayu. Tumpukan buku. Perekam suaramu tetap menyala, seperti biasa. Tapi hari ini tak ada suara. Kamu hanya duduk. Menunggu. Dan berharap. Sampai langkah itu terdengar lagi. Tidak tergesa, tapi cukup jelas. Kamu tak menoleh, tapi kamu tahu. Dia. Sunghoon berada di seberang rak, berpura-pura membaca buku seadanya. Kamu dapat melihatnya dari sudut matamu, dia sedang memperhatikanmu. Akhirnya kamu memberanikan diri. “Aku sudah hapus videonya.” Sunyi. Tak ada balasan. “Dan kalau kamu mau, aku bisa bilang ke orang-orang bahwa musik itu bukan untuk dibagikan. Aku cuma—aku cuma nggak tahu itu kamu, Sunghoon.” Dia menoleh. Tatapannya tak sedingin kemarin. Tapi tetap dingin. Namun hati-hati. “Tapi tetap kamu simpan?” Pertanyaan itu menusuk. Bukan karena intinya. Tapi karena itu pertama kalinya ia benar-benar bicara padamu. Dengan nada rendah. Dengan mata bertanya, tidak ada amarah di dalamnya.  “Iya, untuk pribadi. Karena itu suara paling jujur yang pernah kudengar.” Sunghoon mengerjap. Sejenak. “Itu seperti… kamu memainkan luka yang belum pernah kamu katakan… entah kenapa aku bisa merasakannya,” kamu menatap mata Sunghoon dengan hangat. Sunghoon menutup bukunya pelan. Tangannya gemetar tipis, tapi dia tidak lari kali ini. “Aku berhenti main skating karena kecelakaan,” katanya tiba-tiba.  “Cukup parah. aku mengalami luka dalam saat latihan, dua puluh menit sebelum mulai lomba. Hari itu… semua orang menaruh harapan besar. Tapi aku mengecewakan mereka karena aku tidak bisa melanjutkan perlombaan.” Ia tertawa tipis. Pahit. Hening lagi. Kamu memilah kalimat yang akan keluar dari mulutmu. “Aku boleh tahu cidera apa yang kamu alami saat itu?” tanyamu hati-hati. “Saat latihan aku bertabrakan dengan lawanku. Pisau sepatunya menyayat betisku, cukup dalam. Harus dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang ototku rusak parah. Masa pemulihan bisa dibilang lama, satu tahun dan harus tetap mengikuti fisioterapi.”  (+comsec) —————————— #sunghoon #enhypen #pov #au #figureskating #fyp #foryoupage #foryourpage #fypシ
POV | Park Sunghoon, siswa kelas 3 jurusan musik klasik. Bakat utamanya ice skating—ia sedang berjuang melawan trauma masa lalu yang membuatnya terpaksa harus berhenti dari profesi ini—dan biola. Sunghoon terkenal dengan dingin dan diamnya yang membuat ia dijauhi orang-orang, terkecuali beberapa temannya. Saat bermain biola, Sunghoon mampu membuat satu ruangan diam terpaku dan turut merasakan apa yang sedang dicurahkan Sunghoon melalui permainannya. Namun sayangnya, Sunghoon jarang menunjukkan itu kepada semua orang. Hari itu hujan lebat diiringi petir seakan menggambarkan perasaan seseorang yang sangat terluka. Sampai pada pukul 5 sore hujan mulai reda, namun kamu masih belum ada niat untuk pulang. “Satu puisi lagi deh, tanggung,” ucapmu yang saat ini masih berada di perpustakaan. Kamu selalu merekam suaramu agar bisa kamu tulis ulang dan kebetulan hari itu kamu mengunggahnya di media sosial. Namun keesokan harinya kamu dibuat terkejut dengan notifikasi yang ramai dengan isi komentar ‘Dari mana kamu mendapat backsound itu? Aku baru mendengarnya’ , ‘Indah sekali alunannya’ , ‘Siapa yang bermain biola itu, Y/N?’ dan banyak komentar lainnya. Kamu baru menyadari itu setelah membaca komentar orang-orang. Saat kamu dengar lebih saksama, “Wah… apa ini? Mereka benar, ini alunan terindah yang pernah kudengar.” Unggahanmu semakin tersebar luas, kamu merasa tidak enak hati karena memakai musiknya tanpa izin. Akhirnya kamu memutuskan mencari sang pemilik musik. Park Sunghoon—berada dihadapanmu saat ini. Kamu tergugup, sebab Sunghoon melihatmu dengan tatapan tajam dan marah. “Hapus. Aku tidak suka suara musikku didengar tanpa izin.” Belum sempat kamu membuka mulut, Sunghoon meninggalkanmu begitu saja. Kamu hanya menatap punggung Sunghoon yang kian menjauh. Langkahnya cepat, panjang, seolah tidak memberi kamu kesempatan untuk menjelaskan. —————— Tiga hari berlalu—kamu tetap datang ke pojok favoritmu. Kursi kayu. Tumpukan buku. Perekam suaramu tetap menyala, seperti biasa. Tapi hari ini tak ada suara. Kamu hanya duduk. Menunggu. Dan berharap. Sampai langkah itu terdengar lagi. Tidak tergesa, tapi cukup jelas. Kamu tak menoleh, tapi kamu tahu. Dia. Sunghoon berada di seberang rak, berpura-pura membaca buku seadanya. Kamu dapat melihatnya dari sudut matamu, dia sedang memperhatikanmu. Akhirnya kamu memberanikan diri. “Aku sudah hapus videonya.” Sunyi. Tak ada balasan. “Dan kalau kamu mau, aku bisa bilang ke orang-orang bahwa musik itu bukan untuk dibagikan. Aku cuma—aku cuma nggak tahu itu kamu, Sunghoon.” Dia menoleh. Tatapannya tak sedingin kemarin. Tapi tetap dingin. Namun hati-hati. “Tapi tetap kamu simpan?” Pertanyaan itu menusuk. Bukan karena intinya. Tapi karena itu pertama kalinya ia benar-benar bicara padamu. Dengan nada rendah. Dengan mata bertanya, tidak ada amarah di dalamnya. “Iya, untuk pribadi. Karena itu suara paling jujur yang pernah kudengar.” Sunghoon mengerjap. Sejenak. “Itu seperti… kamu memainkan luka yang belum pernah kamu katakan… entah kenapa aku bisa merasakannya,” kamu menatap mata Sunghoon dengan hangat. Sunghoon menutup bukunya pelan. Tangannya gemetar tipis, tapi dia tidak lari kali ini. “Aku berhenti main skating karena kecelakaan,” katanya tiba-tiba. “Cukup parah. aku mengalami luka dalam saat latihan, dua puluh menit sebelum mulai lomba. Hari itu… semua orang menaruh harapan besar. Tapi aku mengecewakan mereka karena aku tidak bisa melanjutkan perlombaan.” Ia tertawa tipis. Pahit. Hening lagi. Kamu memilah kalimat yang akan keluar dari mulutmu. “Aku boleh tahu cidera apa yang kamu alami saat itu?” tanyamu hati-hati. “Saat latihan aku bertabrakan dengan lawanku. Pisau sepatunya menyayat betisku, cukup dalam. Harus dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang ototku rusak parah. Masa pemulihan bisa dibilang lama, satu tahun dan harus tetap mengikuti fisioterapi.” (+comsec) —————————— #sunghoon #enhypen #pov #au #figureskating #fyp #foryoupage #foryourpage #fypシ

About