Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@pjtattooss: ¡Alerta de avance! Algunos momentos de mi LIVE. Sintonízalo para disfrutar de la experiencia completa.
PJtattooss
Open In TikTok:
Region: AR
Thursday 19 March 2026 05:59:26 GMT
15
1
0
0
Music
Download
No Watermark .mp4 (
5.83MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
5.83MB
)
Watermark .mp4 (
5.83MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @pjtattooss, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
Ruang publik kita belakangan ini sangat mudah tersulut oleh judul berita. Ketika narasi "Prabowo sumbang 1.098 sapi kurban pakai APBN" muncul, banyak dari kita yang langsung terpancing amarah, seolah-olah terjadi penyalahgunaan uang rakyat untuk ibadah personal. Mari kita ambil langkah mundur sejenak, turunkan tensi, dan gunakan kacamata yang lebih objektif dan diplomatis. Kita harus mulai membiasakan diri untuk memisahkan dua kapasitas yang melekat pada seorang pemimpin. Ada Prabowo sebagai seorang pribadi, dan ada Prabowo sebagai Kepala Negara. Sebagai individu, beliau tentu menunaikan kewajiban personalnya. Namun, dalam konteks 1.098 sapi ini, yang sedang berjalan adalah program resmi Bantuan Kemasyarakatan (Banmas) Presiden. Ini adalah instrumen negara yang didanai APBN, yang memang diamanatkan untuk didistribusikan ke daerah-daerah, pesantren, ormas, dan masyarakat luas. Tujuannya sangat jelas: memastikan pemerataan perhatian negara, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi menyentuh lapisan akar rumput di berbagai pelosok. Bantuan ini bukan untuk keluarga Istana, dan bukan pula untuk pesta pejabat. Sebagai warga negara di negara demokrasi, bersikap kritis itu sangat dianjurkan. Bahkan, kita wajib mengawasi jalannya pemerintahan. Namun, sasaran kritiknya harus bergeser pada hal yang substantif. Alih-alih termakan framing yang memelintir niat baik negara, mari kita tanyakan hal yang esensial: Apakah penyaluran sapi Banmas ini transparan? Apakah distribusinya tepat sasaran sampai ke tangan masyarakat yang benar-benar membutuhkan? Itulah bentuk pengawasan yang sehat dan mencerdaskan. Kita sangat boleh berbeda pandangan politik atau tidak sepakat dengan tokoh tertentu. Itu sah. Tetapi, jangan sampai sentimen dan kebencian membutakan logika kita, hingga kita ikut menolak atau menarasikan buruk sebuah program yang manfaatnya justru kembali secara nyata kepada masyarakat. Jadilah publik yang kritis, objektif, dan berakal sehat. 🇮🇩⚖️ #DemokrasiCerdas #KritikObjektif #BanmasPresiden #FaktaBicara #EdukasiPolitik #PrabowoSubianto #AkalSehat #BantuanRakyat #StopFraming #IndonesiaMaju
Walter Parazaider (Chicago, Illinois, 14 de marzo de 1945 - 17 de junio de 2026)[1] fue un saxofonista, flautista, clarinetista y compositor estadounidense de jazz rock y soft rock, conocido sobre todo por ser miembro fundador de la banda Chicago. Estudió en la DePaul University, donde formó su banda The Big Thing, junto a Terry Kath y Danny Seraphine, y en la que colaboraba también James William Guercio, que más tarde sería un conocido productor musical. Tras una jam session en la universidad, a la que Parazaider invitó a James Pankow y Lee Loughnane, se formó en núcleo de la banda de jazz rock Chicago, con la que permanecerá hasta la actualidad. Además de tocar con la banda, Parazaider ha participado en numerosas grabaciones, bien solo, bien formando sección de viento con Pankow y Loughnane: Three Dog Night, Bee Gees, la banda sonora de la película Electra Glide in Blue, Elton John, David Foster, USA for Africa, Joe Vitale, Leon Russell, Ricci Martin, Madura o Gerard McMann.
2026/1/23 #CapCut #عراق #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂
#жұма #жұмамүбәрәкболсын #реки #fyp #
THỨ 6 NGÀY 19/6/2026.#CapCut #xuhuongtiktok #hot #maucapcut #nhactinhtam
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy