𝐖𝐀𝐍𝐆 𝐋𝐈𝐍 :
merelakan seseorang yang aku cintai,adalah proses panjang yang perlahan mengikis bahagia dalam diriku. bukan karena cintaku kurang kuat, tapi karena semesta seolah tak pernah berpihak. aku mencintainya sepenuh hati, aku pernah berdoa dengan air mata yang jatuh diam-diam di malam hari, aku pernah berharap setiap harinya hanya tentang kamu, tapi pada akhirnya aku sadar, bahwa tidak semua rasa layak di perjuangkan sampai habis-habisan. aku mulai belajar menerima,walau hatiku menolak. aku mulai berjalan menjauh, walau jiwaku ingin tetap tinggal. aku mulai belajar tersenyum, di tengah luka yang tak pernah bisa aku sembuhkan sendiri. setiap hari aku berpura-pura tidak apa-apa, walau di dalam kepalaku namamu masih berisik, suaramu masih terngiang, senyummu masih aku ingat dengan jelas. aku mencoba menghapus kenangan, tapi kenangan tak bisa aku buang begitu saja, aku mencoba mencintai orang lain, tapi tak ada yang mampu menggantikan tempatmu. aku mencoba mencoba membenci, tapi hatiku tetap lembut jika bicara tentang kamu. dan di antara semua itu, aku tetap mencintai dalam diam, dalam jarak, dalam rindu yang tak bisa ku tunjukkan, aku belajar mengikhlaskan tanpa menghilangkan rasa, belajar menerima tanpa benar-benar rela, dan belajar berjalan sendiri tanpa arah yang jelas. dan mungkin inilah bentuk bentuk paling sunyi dari cinta, ketika aku harus melepaskan seseorang yang aku tahu, adalah satu-satunya yang ingin aku genggam selamanya. aku tetap berdoa agar kamu bahagia, meskipun aku sendiri tidak pernah benar-benar baik semenjak kehilangan kamu. dan akhirnya, aku sadar, bahwa cinta bukan selalu soal memiliki, tapi soal keberanian untuk melepaskan, saat tetap bersamamu hanya membuatmu terluka lebih dalam setiap harinya.
2026-03-26 00:18:29