@meryembulent_lina: Gaziantep #çarşı #yeşilsu#keşfet#keşfetteyiz 🥰

Meryembulent_lina
Meryembulent_lina
Open In TikTok:
Region: TR
Tuesday 31 March 2026 17:42:32 GMT
516
16
1
2

Music

Download

Comments

fayat.ata
Fayat Ata :
Ne güzel bir manzara
2026-03-31 23:17:15
1
To see more videos from user @meryembulent_lina, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov : [3] Aku turun ke bawah. Mau nyari kopi. Biar waras dikit. Dapur udah nyala. Wangi roti bakar sama kopi.  Dan dia udah di sana. Jake. Nyender di meja, kemeja putih lengan digulung, baca tablet sambil ngaduk kopinya pelan. Nggak nengok waktu aku masuk. Cuek. Aku pura-pura nggak lihat dia. Ambil cangkir, bikin kopi sendiri. Gula dua sendok. Aku emang nggak sekuat dia. “Meeting jam 8,” dia ngomong duluan. Matanya masih di tablet. “Keluarga dua pihak. Jadi jangan telat.” “Gue tau,” jawabku singkat sambil nyeruput kopi. Lidah langsung nyes. Manis.  Dia akhirnya ngelirik. Alisnya naik dikit liat kopiku. “Pahit itu lebih bagus buat jantung.” “Aku bukan jantung kamu,” aku balas datar. “Jadi aku yang nentuin mau manis apa pahit.” Hening lagi. Cuma suara sendok ngaduk. Dia dorong sepiring roti bakar ke arahku. Nggak bilang apa-apa. Roti masih anget, selai stroberinya sengaja dioles tipis di satu sisi aja. Kayak yang aku suka. Aku diem. “Aku nggak pesen.” “Gue tau kamu nggak pesen. Gue bikin buat gue. Kamu mau ambil ya silakan. Nggak juga nggak apa-apa.” Alasannya klise banget. Tapi tangannya udah balik ke tablet, seakan roti itu emang nggak ada urusannya sama aku. Aku ngambil satu. Gigitan pertama, selainya pas. Nggak kemanisan.  “Matamu bengkak,” dia ngomong lagi, tanpa nengok. “Nggak bisa tidur?” Aku nyaris keselek. “Urusan gue. Kamu juga keliatan capek. Lingkaran hitamnya tebel banget.” “Gue kerja. Beda.” “Hm. Alasan.” Aku senyum tipis di balik cangkir.  Dia akhirnya nutup tabletnya. Berdiri. Lewat di belakang aku mau ke wastafel. Jaraknya deket banget. Aku bisa ngerasain dingin dari kemejanya. Pas dia mau lewat, sikunya nggak sengaja nyenggol rambutku yang masih diurai. Rambutku nyangkut dikit di kancing kemejanya. “Ah,” aku refleks nahan.  Dia berhenti. Nggak langsung pergi. Pelan-pelan dia nunduk, pake dua jari ngelepas rambutku dari kancingnya. Hati-hati. Takut bikin sakit. Jarak kami deket banget sekarang. Aku bisa ngitung bulu matanya. Bisa denger napasnya yang nggak seberantakan biasanya. “Kamu…” aku mau ngomong, tapi dia udah ngelepas rambutku dan mundur selangkah. Muka datar lagi, seakan nggak terjadi apa-apa. “Sudah. Jangan telat,” katanya, terus jalan ke ruang kerja tanpa nunggu jawaban. Aku duduk lagi. Megang ujung rambut yang tadi disentuh. Nggak sengaja lagi. Katanya. Jam 8.30. Ruang makan besar rumah Jake berubah jadi ruang sidang keluarga. Ayah, Mama, Om, Tante, Ibu Jake, Bapak Jake. Semua duduk melingkar. Senyumnya manis. Tapi matanya nginterogasi. Aku duduk sebelah Jake. Jarak kami 5cm. Nggak nempel, tapi cukup deket biar orang ngira kami mesra.  Jake pake setelan abu-abu. Rambutnya rapi. Wajah datar, kayak CEO lagi meeting. Cuek.  Aku pake dress putih simple. Senyum sopan, udah latihan dari kecil. “Jadi gimana bulan madunya?” Tanya Ibu Jake duluan, matanya jelalatan ke tangan kami yang nggak saling gandeng. Jake nyaut duluan, datar: “Belum. Masih banyak kerjaan. Nanti sekalian urus kontrak.” Aku ngikutin, senyum tipis. “Iya, Bu. Kami sepakat fokus kerja dulu. Biar perusahaannya stabil.”  Bohong. Kompak. Sempurna.  Ayah aku ngangguk bangga. “Bagus. Itu baru anakku.” Di bawah meja, kaki Jake ‘nggak sengaja’ nyentuh kakiku. Aku langsung nahan napas. Dia nggak nengok. Muka tetap dingin. Tapi ujung bibirnya naik dikit. Nyebelin. Meeting jalan 1 jam. Ngobrolin merger, saham, jadwal makan malam keluarga minggu depan.  Sampai akhirnya Tante aku nyeletuk: “Y/N, kamu udah pantes banget jadi Nyonya Sim. Pasti Jake perhatian banget ya sama kamu?” Semua mata ke aku.  Aku belum jawab, Jake udah duluan: “Cukup. Dia nggak suka diganggu pas kerja.” Nada datar, tapi ada nada ‘ngejaga’ di situ. Aku kaget. Ngelirik dia. Dia masih liat ke Ayahnya, seakan nggak ngomong apa-apa. Meeting selesai. Keluarga pada pulang satu-satu.  Aku ke toilet dulu. Pas keluar, liat Jake di parkiran. Lagi ngobrol sama sekretarisnya. Perempuan.  #simjaehyun #jake #4u #alternativeuniverse
#pov : [3] Aku turun ke bawah. Mau nyari kopi. Biar waras dikit. Dapur udah nyala. Wangi roti bakar sama kopi. Dan dia udah di sana. Jake. Nyender di meja, kemeja putih lengan digulung, baca tablet sambil ngaduk kopinya pelan. Nggak nengok waktu aku masuk. Cuek. Aku pura-pura nggak lihat dia. Ambil cangkir, bikin kopi sendiri. Gula dua sendok. Aku emang nggak sekuat dia. “Meeting jam 8,” dia ngomong duluan. Matanya masih di tablet. “Keluarga dua pihak. Jadi jangan telat.” “Gue tau,” jawabku singkat sambil nyeruput kopi. Lidah langsung nyes. Manis. Dia akhirnya ngelirik. Alisnya naik dikit liat kopiku. “Pahit itu lebih bagus buat jantung.” “Aku bukan jantung kamu,” aku balas datar. “Jadi aku yang nentuin mau manis apa pahit.” Hening lagi. Cuma suara sendok ngaduk. Dia dorong sepiring roti bakar ke arahku. Nggak bilang apa-apa. Roti masih anget, selai stroberinya sengaja dioles tipis di satu sisi aja. Kayak yang aku suka. Aku diem. “Aku nggak pesen.” “Gue tau kamu nggak pesen. Gue bikin buat gue. Kamu mau ambil ya silakan. Nggak juga nggak apa-apa.” Alasannya klise banget. Tapi tangannya udah balik ke tablet, seakan roti itu emang nggak ada urusannya sama aku. Aku ngambil satu. Gigitan pertama, selainya pas. Nggak kemanisan. “Matamu bengkak,” dia ngomong lagi, tanpa nengok. “Nggak bisa tidur?” Aku nyaris keselek. “Urusan gue. Kamu juga keliatan capek. Lingkaran hitamnya tebel banget.” “Gue kerja. Beda.” “Hm. Alasan.” Aku senyum tipis di balik cangkir. Dia akhirnya nutup tabletnya. Berdiri. Lewat di belakang aku mau ke wastafel. Jaraknya deket banget. Aku bisa ngerasain dingin dari kemejanya. Pas dia mau lewat, sikunya nggak sengaja nyenggol rambutku yang masih diurai. Rambutku nyangkut dikit di kancing kemejanya. “Ah,” aku refleks nahan. Dia berhenti. Nggak langsung pergi. Pelan-pelan dia nunduk, pake dua jari ngelepas rambutku dari kancingnya. Hati-hati. Takut bikin sakit. Jarak kami deket banget sekarang. Aku bisa ngitung bulu matanya. Bisa denger napasnya yang nggak seberantakan biasanya. “Kamu…” aku mau ngomong, tapi dia udah ngelepas rambutku dan mundur selangkah. Muka datar lagi, seakan nggak terjadi apa-apa. “Sudah. Jangan telat,” katanya, terus jalan ke ruang kerja tanpa nunggu jawaban. Aku duduk lagi. Megang ujung rambut yang tadi disentuh. Nggak sengaja lagi. Katanya. Jam 8.30. Ruang makan besar rumah Jake berubah jadi ruang sidang keluarga. Ayah, Mama, Om, Tante, Ibu Jake, Bapak Jake. Semua duduk melingkar. Senyumnya manis. Tapi matanya nginterogasi. Aku duduk sebelah Jake. Jarak kami 5cm. Nggak nempel, tapi cukup deket biar orang ngira kami mesra. Jake pake setelan abu-abu. Rambutnya rapi. Wajah datar, kayak CEO lagi meeting. Cuek. Aku pake dress putih simple. Senyum sopan, udah latihan dari kecil. “Jadi gimana bulan madunya?” Tanya Ibu Jake duluan, matanya jelalatan ke tangan kami yang nggak saling gandeng. Jake nyaut duluan, datar: “Belum. Masih banyak kerjaan. Nanti sekalian urus kontrak.” Aku ngikutin, senyum tipis. “Iya, Bu. Kami sepakat fokus kerja dulu. Biar perusahaannya stabil.” Bohong. Kompak. Sempurna. Ayah aku ngangguk bangga. “Bagus. Itu baru anakku.” Di bawah meja, kaki Jake ‘nggak sengaja’ nyentuh kakiku. Aku langsung nahan napas. Dia nggak nengok. Muka tetap dingin. Tapi ujung bibirnya naik dikit. Nyebelin. Meeting jalan 1 jam. Ngobrolin merger, saham, jadwal makan malam keluarga minggu depan. Sampai akhirnya Tante aku nyeletuk: “Y/N, kamu udah pantes banget jadi Nyonya Sim. Pasti Jake perhatian banget ya sama kamu?” Semua mata ke aku. Aku belum jawab, Jake udah duluan: “Cukup. Dia nggak suka diganggu pas kerja.” Nada datar, tapi ada nada ‘ngejaga’ di situ. Aku kaget. Ngelirik dia. Dia masih liat ke Ayahnya, seakan nggak ngomong apa-apa. Meeting selesai. Keluarga pada pulang satu-satu. Aku ke toilet dulu. Pas keluar, liat Jake di parkiran. Lagi ngobrol sama sekretarisnya. Perempuan. #simjaehyun #jake #4u #alternativeuniverse

About