@queentphiri: couple of the year #trendingvideo #fyp

Queen
Queen
Open In TikTok:
Region: ZM
Sunday 05 April 2026 05:59:46 GMT
1289
38
5
2

Music

Download

Comments

shirak4
shiraK :
good workout😂😂😂
2026-06-17 18:01:42
0
user6720873771941
your personal Dentist :
kkkkkkkk
2026-05-14 10:38:46
0
user3830006741848
Mër Çy :
😂😂😂 awe
2026-04-06 20:00:15
1
jescaachieng15
jay cee :
🤣🤣🤣
2026-06-17 12:05:49
0
To see more videos from user @queentphiri, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bagian 67 | Kutipan yang tajam, dan itu ringkasan yang sangat akurat tentang bagaimana Arthur Schopenhauer memandang dunia. Kalau kamu merasa sering gemas melihat orang-orang yang cuma ikut-ikutan tren tanpa tahu alasannya, Schopenhauer sudah merasakan kekesalan yang sama sejak abad ke-19. ​Dia adalah filsuf asal Jerman (1788–1860) yang dikenal sebagai Bapak Pesimisme Filosofis. Di saat filsuf lain sibuk mengagungkan akal budi manusia, Schopenhauer justru menelanjangi realitas dengan cara yang cukup sinis, tapi sangat jujur. ​Siapa Sebenarnya Arthur Schopenhauer? ​Schopenhauer adalah seorang pemikir independen yang kaya raya, eksentrik, dan tidak terlalu suka bersosialisasi (dia lebih memilih tinggal sendirian dengan anjing pudelnya). Mahakaryanya yang paling terkenal berjudul The World as Will and Representation (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi). ​Yang unik dari Schopenhauer adalah dia salah satu filsuf Barat pertama yang secara terang-terangan memadukan filsafat Barat (terutama pemikiran Immanuel Kant) dengan filsafat Timur, seperti Buddhisme dan Upanishad (Hindu). ​Inti Pemikiran: Mengapa Manusia Sulit Berpikir Sendiri? ​Kembali ke kutipan yang kamu sebutkan, Schopenhauer punya alasan kuat mengapa dia menganggap mayoritas orang hanya mengikuti tradisi dan kebiasaan: ​Mentalitas Kawanan (Herd Mentality): Menurutnya, berpikir secara mandiri itu melelahkan dan butuh keberanian. Kebanyakan orang lebih memilih
Bagian 67 | Kutipan yang tajam, dan itu ringkasan yang sangat akurat tentang bagaimana Arthur Schopenhauer memandang dunia. Kalau kamu merasa sering gemas melihat orang-orang yang cuma ikut-ikutan tren tanpa tahu alasannya, Schopenhauer sudah merasakan kekesalan yang sama sejak abad ke-19. ​Dia adalah filsuf asal Jerman (1788–1860) yang dikenal sebagai Bapak Pesimisme Filosofis. Di saat filsuf lain sibuk mengagungkan akal budi manusia, Schopenhauer justru menelanjangi realitas dengan cara yang cukup sinis, tapi sangat jujur. ​Siapa Sebenarnya Arthur Schopenhauer? ​Schopenhauer adalah seorang pemikir independen yang kaya raya, eksentrik, dan tidak terlalu suka bersosialisasi (dia lebih memilih tinggal sendirian dengan anjing pudelnya). Mahakaryanya yang paling terkenal berjudul The World as Will and Representation (Dunia sebagai Kehendak dan Representasi). ​Yang unik dari Schopenhauer adalah dia salah satu filsuf Barat pertama yang secara terang-terangan memadukan filsafat Barat (terutama pemikiran Immanuel Kant) dengan filsafat Timur, seperti Buddhisme dan Upanishad (Hindu). ​Inti Pemikiran: Mengapa Manusia Sulit Berpikir Sendiri? ​Kembali ke kutipan yang kamu sebutkan, Schopenhauer punya alasan kuat mengapa dia menganggap mayoritas orang hanya mengikuti tradisi dan kebiasaan: ​Mentalitas Kawanan (Herd Mentality): Menurutnya, berpikir secara mandiri itu melelahkan dan butuh keberanian. Kebanyakan orang lebih memilih "menitipkan" pikiran mereka pada opini publik, tradisi, atau otoritas agar merasa aman dan diterima oleh kelompoknya. ​"Kehendak" (The Will) yang Buta: Schopenhauer percaya bahwa penggerak utama manusia bukanlah logika, melainkan sebuah dorongan irasional yang dia sebut sebagai Kehendak untuk Hidup (Will to Live). Kehendak ini sifatnya egois, buta, dan selalu menuntut pemuasan (makan, bereproduksi, bertahan hidup). Karena fokusnya cuma bertahan hidup, fungsi otak mayoritas manusia akhirnya cuma dipakai untuk menuruti dorongan dasar dan beradaptasi dengan lingkungan (mengikuti tradisi), bukan untuk merenungkan kebenaran hakiki. ​"Pendapat umum itu seperti lentera; orang yang tidak bisa melihat jalannya sendiri akan selalu mengikutinya." — Paraphrase pandangan Schopenhauer tentang konformitas. ​Hidup di Antara Rasa Sakit dan Kebosanan ​Karena memandang "Kehendak" manusia tidak pernah bisa terpuaskan (setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru), Schopenhauer menyimpulkan bahwa hidup ini pada dasarnya adalah penderitaan. Dia mengibaratkan hidup manusia seperti pendulum yang bergerak bolak-balik antara rasa sakit (saat keinginan belum tercapai) dan kebosanan (saat keinginan sudah tercapai). ​Bagi Schopenhauer, salah satu dari sedikit jalan keluar dari penderitaan ini adalah melalui art (seni), asketisme (hidup sederhana/menyendiri), dan tentu saja, menjadi bagian dari segelintir orang yang berani berpikir jernih dan mandiri di luar kotak tradisi. #fypシ #motivation #mindset #fyp #arthurschopenhauer
Usia 16 tahun, saya bawa enam komunis serah diri Masih segar di ingatan seorang guru agama di Kampung Bohor Baru di sini, Encik Othman Tawang, 81, detik di mana dia menjadi hero 'menawan' enam orang pengganas komunis sekitar tahun 1956. Bercakap kepada Utusan Malaysia, Encik Othman berkata, walaupun peristiwa itu ketika usianya 16 tahun namun ia seolah-olah baru berlaku semalam. Menyorot kembali peristiwa pada 1956 itu, Othman berkata, dia dikunjungi seorang komunis dikenali Ah Chok di tepi sawah padi di Kampung Paya Tebing Tinggi berhampiran Sungai Pahang di sini. Lihat Juga :(Bhg 2) ASP Zabri : liku berdarah melawan pengganas Komunis Menurutnya, menjadi kelaziman setiap pagi dia membantu ayah, Tawang Mat Isa dan ibu, Meriam Kassim di sawah dan menoreh getah sebagai punca pendapatan utama keluarga mereka ketika itu. Menurutnya, dia terkejut apabila muncul seorang individu mengaku sebagai komunis bersama lima pengikutnya berhasrat menyerah diri kepada kerajaan.
Usia 16 tahun, saya bawa enam komunis serah diri Masih segar di ingatan seorang guru agama di Kampung Bohor Baru di sini, Encik Othman Tawang, 81, detik di mana dia menjadi hero 'menawan' enam orang pengganas komunis sekitar tahun 1956. Bercakap kepada Utusan Malaysia, Encik Othman berkata, walaupun peristiwa itu ketika usianya 16 tahun namun ia seolah-olah baru berlaku semalam. Menyorot kembali peristiwa pada 1956 itu, Othman berkata, dia dikunjungi seorang komunis dikenali Ah Chok di tepi sawah padi di Kampung Paya Tebing Tinggi berhampiran Sungai Pahang di sini. Lihat Juga :(Bhg 2) ASP Zabri : liku berdarah melawan pengganas Komunis Menurutnya, menjadi kelaziman setiap pagi dia membantu ayah, Tawang Mat Isa dan ibu, Meriam Kassim di sawah dan menoreh getah sebagai punca pendapatan utama keluarga mereka ketika itu. Menurutnya, dia terkejut apabila muncul seorang individu mengaku sebagai komunis bersama lima pengikutnya berhasrat menyerah diri kepada kerajaan. "Saya dijadikan 'sasaran' sebagai perantara dengan polis dan dianggap selamat kerana ketika itu sedang berehat berseorangan di tepi sawah. "Walaupun dalam ketakutan dan was-was, saya bersedia membantu dengan syarat dia menulis surat untuk dibawa ke balai polis berdekatan," katanya di Kampung Bohor Baru di sini semalam. Encik Othman berkata, berdasarkan perbualan dengan komunis terbabit, mereka sudah bosan tinggal di hutan, sentiasa dalam ketakutan diburu tentera, kelaparan dan sering sakit kekurangan zat makanan. "Kami berjalan kaki kira-kira enam kilometer menyusuri jalan denai berhutan tebal berhampiran Sungai Pahang. Kira-kira 100 meter dari Balai Polis Karai, saya diminta pergi seorang diri menyerahkan surat untuk menyerah diri kepada polis di balai berkenaan. "Mata-mata pada waktu itu yang dimaklumkan hasrat komunis untuk menyerahkan diri turut terkejut dan meminta saya merampas senapang jenis raifal yang berisi enam peluru yang dibawa oleh Ah Chok. "Setelah berpuas hati, enam komunis itu diberi makan sebelum dibawa menaiki bot polis ke Kuala Bera. Dari sana mereka menaiki trak ke Temerloh. Saya turut serta ke Temerloh sebagai saksi dan semua urusan dokumentasi siap sekitar pukul 5 petang," katanya yang juga bekas Ketua Kampung Bohor Baru.

About