@aleksander.polszczysna: John 20:11-18, our ressurected Lord Jesus Christ appears to St Mary Magdalene, Happy Easter! #christianity #christ #easter #heisrisen (Credits to Sir David Suchet on YT for the audio)

Aleks
Aleks
Open In TikTok:
Region: DE
Sunday 05 April 2026 09:20:11 GMT
415590
100877
412
4848

Music

Download

Comments

user767983190963
Queen's prime :
he loved her romantically☺️
2026-04-06 16:54:10
14
ilovesleephehe
kyle :
Who is owner of this voice
2026-04-06 04:43:30
3362
sigmatroopper
SigmaTroopper :
Forgive me God for Lusting. Forgive me God for Lazing. Forgive me God for doubting You. Forgive me God for ignoring you. in Jesus name amen. copy and paste to spread that gospel
2026-04-07 20:14:21
1597
think___
think___ :
I love him so much🥺🥺
2026-04-08 19:24:25
2749
god.loves.you895
God loves you so much🫶🏽 :
2026-04-08 10:22:46
77
what_yourself_
Whatyourself7890 :
Christ has risen
2026-04-05 13:44:17
185
emilyerdbeereeeeeeee
Emilia :
2026-04-06 19:34:47
345
juixy26
cisco⌖ :
Let's apologize to God. Lord, I’m sorry for my sins and i keep saying I will stop my bad habits, and I keep doing them. I hope you can apologize. I’m sorry that I’m always scared of judgement day, even though I might not have to. I’m sorry that I hate how I look, when you made me the way you like. Im sorry for not living for you, and worrying about other things instead of spreading the gospel. Im sorry for being lazy, for saying “I’ll pray later” and I never prayed that day, but today is the day I’m spreading the gospel. I am trying my best to grow closer to you and I hope you can forgive me in Jesus name we say amen 🙏🏻Copy n paste!!💙
2026-04-24 06:01:51
13
nakedchalupa
Noone :
Yeshua my GOD
2026-05-17 06:46:25
9
tysewell
ty sewell :
Jesus Is King ✝️
2026-04-09 17:13:18
166
lilith.roses31
Lilith Roses :
2026-04-08 17:57:16
34
user332684942
ilovejoebart :
i relapsed yesterday and sinned. this is my 4th post i saw tonight. im sorry Jesus please forgive me
2026-06-04 01:55:07
15
shinjie88
Shinjie88 :
May Jesus Christ always Protect and Bless you Guys.
2026-05-19 13:27:37
11
jstaychasint
JstaychasinT :
Jesus Christ Is King
2026-04-09 01:55:10
56
gab4r4
gab4r4 :
Forgive me God for Lusting. Forgive me God for Lazing. Forgive me God for doubting You. Forgive me God for ignoring you. in Jesus name amen. copy and paste to spread that gospel
2026-04-08 02:30:42
69
yall_fakefrr
Da. goat, 🚭 :
God Bless yall
2026-04-06 23:35:56
29
seeusoon630
themyhedj31 :
Amen 🙏
2026-04-09 20:53:53
5
jrp_360
† :
Amen 🙏
2026-04-07 06:32:09
9
_lexietrazona
🐞 :
Amen. 🙏🏽✝️
2026-04-08 07:19:24
50
username81_180
T.M.T.M.T.L :
I Love You my Lord...
2026-05-10 05:54:41
13
accel_dc1
𝘢𝘤𝘤𝘦𝘭 :
SPREAD THE GOSPEL: (Psalm 34:18) "The Lord is near to the brokenhearted." God will always be near you when you need Him most and at your lowest point. Don't give up. No matter how difficult life gets, God has a plan for you, and I promise He will heal you. Just put everything in His hands. The rapture is going to happen, whether it's today, tomorrow, or centuries from now. It's drawing near; the prophecies of the Bible are coming alive. Repent and believe, Jesus is the Messiah. He will forgive you, accept you. Accept all His children. Believe in Him, repent, forgive your neighbors. Love everyone, even if they do things you don't agree with. Jesus would want you to forgive them, as He does. Forgive each and every one. It's not too late to repent. I'm not forcing my religion, I just want to see you all in heaven.
2026-04-09 08:55:05
18
tiago_7tinho
🇻🇦 :
Amen
2026-04-07 05:00:29
39
yahir_rem
yahir :
Forgive me God for Lusting. Forgive me God for Lazing. Forgive me God for doubting You. Forgive me God for ignoring you. in Jesus name amen. copy and paste to spread that gospel 🤍✝️🙏🏻
2026-04-11 03:55:20
35
leon1e.11
leonie :
Amennn
2026-04-12 22:29:56
7
iousmiles
JéLiese :
Til death do us part, Lord. And even then, you will remain. ❤️
2026-04-06 18:42:33
81
To see more videos from user @aleksander.polszczysna, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kita sering mendengar nasihat: “Jadilah dirimu sendiri.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi semakin kupikirkan, semakin aneh pertanyaannya: Siapa sebenarnya “diri sendiri” itu? Sejak lahir, kita tidak tumbuh di ruang kosong. Kita diberi nama sebelum mampu memilih. Diajari baik dan buruk sebelum mampu mempertanyakannya. Kita menyerap cara berpikir keluarga, lingkungan, budaya, pengalaman, luka, bahkan zaman tempat kita dilahirkan. Lalu semuanya bercampur dan kita menyebutnya: “aku.” Aku suka ini. Aku takut itu. Aku ingin menjadi ini. Hidup yang berhasil harus seperti itu. Tetapi pernahkah kita bertanya: Dari mana semua keinginan itu berasal? Apakah aku benar-benar menginginkannya, atau aku hanya terlalu lama hidup di tengah dunia yang mengatakan bahwa itulah yang seharusnya kuinginkan? Kita mengejar pekerjaan, rumah, pengakuan, pasangan, jabatan, kekayaan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Persoalannya bukan apa yang kita kejar. Persoalannya: siapa yang memilih tujuan itu? Bayangkan jika kita lahir di keluarga berbeda, negara berbeda, zaman berbeda, dibesarkan oleh orang-orang berbeda dan mengalami kehidupan yang berbeda. Apakah kita masih menjadi orang yang sama? Mungkin tidak sepenuhnya. Artinya, sesuatu yang selama ini kita sebut “aku” ternyata dibangun oleh begitu banyak hal yang bukan aku. Selera dipengaruhi lingkungan. Definisi sukses diwariskan masyarakat. Cara mencintai dipengaruhi pengalaman. Ketakutan tumbuh dari luka. Bahkan keputusan yang kita anggap pribadi kadang hanyalah kebiasaan yang tidak pernah diperiksa. Sekarang algoritma pun ikut membentuk kita. Kita merasa memilih apa yang ingin dilihat, padahal apa yang terus kita lihat perlahan ikut menentukan apa yang ingin kita miliki, pikirkan, bahkan menjadi. Di situlah pertanyaan tentang kebebasan menjadi rumit. Mungkin kebebasan bukan sekadar kemampuan melakukan apa yang kita mau. Sebab bagaimana jika yang kita mau ternyata dibentuk oleh sesuatu yang tidak pernah kita sadari? Seseorang bisa mengejar karier karena diajari bahwa jabatan menentukan harga diri. Bertahan dalam hubungan karena takut dianggap gagal. Membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat telah sampai. Dan manusia bisa menghabiskan puluhan tahun membangun kehidupan, lalu suatu hari menyadari: ternyata kehidupan itu tidak pernah benar-benar ia inginkan. Mungkin mengenal diri memang tidak sesederhana mengetahui kesukaan, pekerjaan impian, atau sifat kita. Mengenal diri membutuhkan keberanian untuk membongkar diri. Mengapa aku menginginkan ini? Mengapa aku takut pada itu? Jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah aku masih menginginkan hal yang sama? Jawabannya mungkin tidak nyaman. Kita bisa menemukan bahwa sebagian ambisi berasal dari ketakutan. Sebagian keinginan lahir dari perbandingan. Dan sebagian “aku” hanyalah suara orang lain yang terlalu lama tinggal di kepala. Tetapi mungkin justru di sanalah perjalanan menuju diri sendiri dimulai. Bukan dengan membuang semua pengaruh dunia itu mustahil. Kita memang dibentuk oleh banyak pertemuan. Namun kita masih bisa memeriksa apa yang membentuk kita, lalu menentukan mana yang ingin dipertahankan dan mana yang sudah waktunya dilepaskan. Barangkali pencarian terbesar manusia bukan menemukan siapa dirinya. Melainkan memisahkan mana suara dirinya dan mana suara dunia yang terlalu lama ia kira sebagai dirinya. Maka sebelum berkata, “Inilah hidup yang kuinginkan,” mungkin kita perlu bertanya: “Siapa yang mengajariku menginginkan semua ini?” Sebab jangan sampai kita berhasil menjadi seseorang yang dikagumi banyak orang, tetapi ketika akhirnya sendirian dengan diri sendiri, kita justru bertanya: “Selama ini, hidup siapa yang sebenarnya sedang kujalani?” — @Feri Purwo #fyp #feripurwo #feripurwofiles #think #ilmu
Kita sering mendengar nasihat: “Jadilah dirimu sendiri.” Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi semakin kupikirkan, semakin aneh pertanyaannya: Siapa sebenarnya “diri sendiri” itu? Sejak lahir, kita tidak tumbuh di ruang kosong. Kita diberi nama sebelum mampu memilih. Diajari baik dan buruk sebelum mampu mempertanyakannya. Kita menyerap cara berpikir keluarga, lingkungan, budaya, pengalaman, luka, bahkan zaman tempat kita dilahirkan. Lalu semuanya bercampur dan kita menyebutnya: “aku.” Aku suka ini. Aku takut itu. Aku ingin menjadi ini. Hidup yang berhasil harus seperti itu. Tetapi pernahkah kita bertanya: Dari mana semua keinginan itu berasal? Apakah aku benar-benar menginginkannya, atau aku hanya terlalu lama hidup di tengah dunia yang mengatakan bahwa itulah yang seharusnya kuinginkan? Kita mengejar pekerjaan, rumah, pengakuan, pasangan, jabatan, kekayaan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Persoalannya bukan apa yang kita kejar. Persoalannya: siapa yang memilih tujuan itu? Bayangkan jika kita lahir di keluarga berbeda, negara berbeda, zaman berbeda, dibesarkan oleh orang-orang berbeda dan mengalami kehidupan yang berbeda. Apakah kita masih menjadi orang yang sama? Mungkin tidak sepenuhnya. Artinya, sesuatu yang selama ini kita sebut “aku” ternyata dibangun oleh begitu banyak hal yang bukan aku. Selera dipengaruhi lingkungan. Definisi sukses diwariskan masyarakat. Cara mencintai dipengaruhi pengalaman. Ketakutan tumbuh dari luka. Bahkan keputusan yang kita anggap pribadi kadang hanyalah kebiasaan yang tidak pernah diperiksa. Sekarang algoritma pun ikut membentuk kita. Kita merasa memilih apa yang ingin dilihat, padahal apa yang terus kita lihat perlahan ikut menentukan apa yang ingin kita miliki, pikirkan, bahkan menjadi. Di situlah pertanyaan tentang kebebasan menjadi rumit. Mungkin kebebasan bukan sekadar kemampuan melakukan apa yang kita mau. Sebab bagaimana jika yang kita mau ternyata dibentuk oleh sesuatu yang tidak pernah kita sadari? Seseorang bisa mengejar karier karena diajari bahwa jabatan menentukan harga diri. Bertahan dalam hubungan karena takut dianggap gagal. Membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat telah sampai. Dan manusia bisa menghabiskan puluhan tahun membangun kehidupan, lalu suatu hari menyadari: ternyata kehidupan itu tidak pernah benar-benar ia inginkan. Mungkin mengenal diri memang tidak sesederhana mengetahui kesukaan, pekerjaan impian, atau sifat kita. Mengenal diri membutuhkan keberanian untuk membongkar diri. Mengapa aku menginginkan ini? Mengapa aku takut pada itu? Jika tidak ada seorang pun yang melihat, apakah aku masih menginginkan hal yang sama? Jawabannya mungkin tidak nyaman. Kita bisa menemukan bahwa sebagian ambisi berasal dari ketakutan. Sebagian keinginan lahir dari perbandingan. Dan sebagian “aku” hanyalah suara orang lain yang terlalu lama tinggal di kepala. Tetapi mungkin justru di sanalah perjalanan menuju diri sendiri dimulai. Bukan dengan membuang semua pengaruh dunia itu mustahil. Kita memang dibentuk oleh banyak pertemuan. Namun kita masih bisa memeriksa apa yang membentuk kita, lalu menentukan mana yang ingin dipertahankan dan mana yang sudah waktunya dilepaskan. Barangkali pencarian terbesar manusia bukan menemukan siapa dirinya. Melainkan memisahkan mana suara dirinya dan mana suara dunia yang terlalu lama ia kira sebagai dirinya. Maka sebelum berkata, “Inilah hidup yang kuinginkan,” mungkin kita perlu bertanya: “Siapa yang mengajariku menginginkan semua ini?” Sebab jangan sampai kita berhasil menjadi seseorang yang dikagumi banyak orang, tetapi ketika akhirnya sendirian dengan diri sendiri, kita justru bertanya: “Selama ini, hidup siapa yang sebenarnya sedang kujalani?” — @Feri Purwo #fyp #feripurwo #feripurwofiles #think #ilmu

About