@hadb.34: #الجفراني #اكسبلور #اكسبلورexplore #explore #fypシ

𝒉𝒂𝒅𝒃
𝒉𝒂𝒅𝒃
Open In TikTok:
Region: SA
Monday 06 April 2026 13:04:18 GMT
16673
214
9
48

Music

Download

Comments

..x503_
██████ :
وش أسم الشيلة
2026-04-18 10:29:46
0
a810571
𝓢𝓱𝓸𝓾𝓺 :
الله 👏👏👏
2026-04-06 15:42:11
1
lmrr4_
لَR . :
يسلاممم ❤️
2026-04-07 03:56:56
1
al.nu86
𝒩 :
يسلام عليج ابدعتي 🔥🔥
2026-04-06 15:30:34
1
al.nu86
𝒩 :
👏👏👏
2026-04-06 15:29:44
0
To see more videos from user @hadb.34, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bangun pagi, berangkat kerja naik transportasi publik yang nyaman, pulang masih sempat olahraga, ketemu teman, atau sekadar jalan sore di taman kota. Dan yang paling kerasa? Work-life balance masih mungkin didapat. Berdasarkan survei Expat Insider 2025, sekitar 64% ekspatriat di Malaysia merasa puas dengan work-life balance mereka, dan tingkat kepuasan terhadap jam kerja mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.   Bukan berarti orang Malaysia nggak kerja keras. Tetap ada deadline, target, dan tekanan kerja. Tapi banyak perusahaan di sini mulai lebih menghargai waktu pribadi setelah jam kerja dibanding budaya lembur yang dianggap normal di banyak negara Asia. Terus soal gaji? Kalau kerja sebagai pekerja asing profesional (expat), secara regulasi Employment Pass Malaysia mensyaratkan gaji minimum mulai RM5.000 per bulan untuk kategori profesional tertentu. Bahkan mulai 2026, syarat untuk banyak kategori tenaga kerja asing profesional dinaikkan lebih tinggi lagi.   Buat gambaran sederhana: RM5.000 = sekitar Rp. 20-22 juta per bulan (tergantung kurs). Sementara upah minimum Malaysia saat ini adalah RM1.700 per bulan, jauh di atas beberapa negara ASEAN untuk level pekerja dasar.   Yang menarik, banyak orang Indonesia datang ke Malaysia bukan karena ingin cepat kaya. Tapi karena kombinasi antara: ✅ Gaji yang relatif kompetitif ✅ Bahasa yang nggak terlalu jauh berbeda ✅ Lingkungan internasional ✅ Infrastruktur yang nyaman ✅ Kesempatan menabung lebih besar ✅ Work-life balance yang lebih sehat Tapi gue juga mau jujur. Malaysia bukan surga ya. Biaya hidup naik, sewa apartemen di Kuala Lumpur makin mahal, dan nggak semua perusahaan punya budaya kerja yang sehat. Banyak juga pekerja yang tetap mengalami burnout kalau masuk ke perusahaan yang salah.   Jadi jangan lihat Malaysia sebagai tempat kabur dari masalah. Lihatlah sebagai tempat untuk mendapatkan pengalaman baru, membangun karier internasional, dan memperluas cara pandang. Karena kadang yang bikin hidup terasa lebih ringan bukan cuma gaji yang lebih besar. Tapi ketika setelah pulang kerja, lo masih punya waktu untuk menikmati hidup. 🇲🇾✨ “Kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja.” #malaysia #indonesia #expatlife
Bangun pagi, berangkat kerja naik transportasi publik yang nyaman, pulang masih sempat olahraga, ketemu teman, atau sekadar jalan sore di taman kota. Dan yang paling kerasa? Work-life balance masih mungkin didapat. Berdasarkan survei Expat Insider 2025, sekitar 64% ekspatriat di Malaysia merasa puas dengan work-life balance mereka, dan tingkat kepuasan terhadap jam kerja mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Bukan berarti orang Malaysia nggak kerja keras. Tetap ada deadline, target, dan tekanan kerja. Tapi banyak perusahaan di sini mulai lebih menghargai waktu pribadi setelah jam kerja dibanding budaya lembur yang dianggap normal di banyak negara Asia. Terus soal gaji? Kalau kerja sebagai pekerja asing profesional (expat), secara regulasi Employment Pass Malaysia mensyaratkan gaji minimum mulai RM5.000 per bulan untuk kategori profesional tertentu. Bahkan mulai 2026, syarat untuk banyak kategori tenaga kerja asing profesional dinaikkan lebih tinggi lagi. Buat gambaran sederhana: RM5.000 = sekitar Rp. 20-22 juta per bulan (tergantung kurs). Sementara upah minimum Malaysia saat ini adalah RM1.700 per bulan, jauh di atas beberapa negara ASEAN untuk level pekerja dasar. Yang menarik, banyak orang Indonesia datang ke Malaysia bukan karena ingin cepat kaya. Tapi karena kombinasi antara: ✅ Gaji yang relatif kompetitif ✅ Bahasa yang nggak terlalu jauh berbeda ✅ Lingkungan internasional ✅ Infrastruktur yang nyaman ✅ Kesempatan menabung lebih besar ✅ Work-life balance yang lebih sehat Tapi gue juga mau jujur. Malaysia bukan surga ya. Biaya hidup naik, sewa apartemen di Kuala Lumpur makin mahal, dan nggak semua perusahaan punya budaya kerja yang sehat. Banyak juga pekerja yang tetap mengalami burnout kalau masuk ke perusahaan yang salah. Jadi jangan lihat Malaysia sebagai tempat kabur dari masalah. Lihatlah sebagai tempat untuk mendapatkan pengalaman baru, membangun karier internasional, dan memperluas cara pandang. Karena kadang yang bikin hidup terasa lebih ringan bukan cuma gaji yang lebih besar. Tapi ketika setelah pulang kerja, lo masih punya waktu untuk menikmati hidup. 🇲🇾✨ “Kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja.” #malaysia #indonesia #expatlife

About