ajikalaaa :
Segala yang megah di bawah langit ini pada akhirnya harus tunduk pada satu hukum mutlak: mereka tidak akan bertahan selamanya. Aku sempat merenungkan konsep **Entropi** dalam fisika, tentang bagaimana semesta secara alami bergerak menuju urutan yang acak, kepunahan, dan kehancuran. Bintang-bintang yang paling terang malam ini sedang membakar dirinya sendiri menuju kematian, dan gunung-gunung karang yang kokoh perlahan terkikis oleh angin waktu, membuktikan bahwa kefanaan adalah inti dari materi.
Lalu filsafat eksistensialisme mengingatkan kita pada konsep **Impermanensi**. Bahwa waktu adalah sungai yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan, mengubah masa muda menjadi kerutan, dan tawa riuh menjadi keheningan sejarah. Manusia menghabiskan hidupnya membangun monumen dan menulis cerita, sebuah usaha keras kepala untuk meninggalkan jejak di atas tanah yang selalu bergeser.
Namun, setelah memahami betapa rapuh dan singkatnya segala wujud di dunia ini, aku menyadari bahwa esensi keabadian justru lahir dari hal yang paling fana.
Kau adalah **keabadian** yang kuselipkan di tengah-tengah dunia yang fana ini. Jika segala hal di bumi harus melepaskan wujudnya dan hancur menjadi debu, maka perasaanku padamu adalah satu-satunya hal yang menolak untuk menyusut oleh waktu. Kita mungkin makhluk yang terbatas, namun cara jiwaku mengenalmu melompati batas usia raga kita sendiri.
Aku ingin mencintaimu tanpa peduli seberapa cepat dunia ini menua. Senyummu adalah **titik henti** dari segala kehancuran yang terjadi di luar sana—sebuah momen utuh yang membuatku tidak lagi takut pada akhir dari segala sesuatu. Di dalam ruang yang singkat ini, bersamamu, aku telah menemukan sesuatu yang tidak akan pernah fana: sebuah rasa yang selesai, yang tetap hidup bahkan ketika semesta ini telah kehabisan energinya.
2026-05-18 21:51:22