"when ya" bukan sekadar kata spontan yang keluar begitu saja, itu adalah bentuk kecil dari keinginan. sebuah cara lembut untuk mengekspresikan bahwa aku juga ingin, bahwa di dalam diriku ada keinginan yang sama. tapi di baliknya, tersembunyi perasaan yang lebin dalam. "when ya" adalah tanya lirih pada diri sendiri, kapan gliranku untuk merasakan itu? kapan aku bisa begitu juga? lalu setelahnya, aku diam. aku belajar menerima bahwa tidak semua keinginan harus dimiliki, tidak semua perasaan harus diwujudkan. aku menatap dari jauh, menghirup kenyataan, dan perlahan melangkah pergi🥺🥺🥺.