@aitayara5: @wesh 501 ❤️ @Kadiatou❤️ @~✨️𝓨𝓞𝓤𝓜𝓐🌺~☆ @chuch❤️‍🔥 501 @adamyattassaye08 @Yanda Sira🥀 @Awa sira🥰❤️ @fatouchka 501💕🫀💋

A💕✨🪭
A💕✨🪭
Open In TikTok:
Region: ML
Thursday 16 April 2026 19:56:50 GMT
121
26
12
1

Music

Download

Comments

boly.sadio
wesh 501 ❤️ :
Ah nk vie parilasaa ❤️
2026-04-16 20:57:56
1
missyara28
mahyara2 :
Jolie 💋🥰🥰🥰
2026-05-01 13:54:32
1
awa.sira07
Awa sira🥰❤️ :
plus belle 🥰
2026-04-16 22:40:04
1
fatouchka.501
fatouchka 501💕🫀💋 :
Bb
2026-04-20 14:56:27
0
youmiii102
~✨️Youmaaa🌺~☆ :
mvv🤍💞
2026-04-16 22:23:58
0
djibiyattassaye24
djibiyattassaye :
🥰🥰🥰
2026-04-16 19:59:29
0
aboubacarjdondbvdi1
Bah Yara :
🥰🥰🥰
2026-04-16 23:29:28
1
kadettesiraba
Kadète :
🥰🥰
2026-04-25 06:24:40
1
To see more videos from user @aitayara5, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov: Jungwon duduk di meja makan, mulutnya mengunyah namun tangannya ikut bekerja. Layar tablet bergulir pelan, sesekali mata menyipit ketika menemukan hal ganjil. Di seberang sana, kamu terus memperhatikannya dan tak lama kemudian pandanganmu berpindah pada bocah tiga tahun yang baru bangun dari tidurnya. “Mama~” rengek Jio, anakmu dan Jungwon. Langkah kaki kecil bergerak pelan, rambutnya berantakan dengan wajah bengkak, tak lupa boneka dinosaurus dalam genggaman. Sejenak Jungwon melepas tabletnya, memfokuskan perhatian pada sang putra. “Tiap bangun tidur selalu panggil Mamanya,” gerutu Jungwon. Kamu tertawa kecil lalu menghampiri Jio. “Aku ibunya. Aku juga yang bersamanya 24 jam, pasti dia akan selalu menuju padaku,” ucapmu pada Jungwon tanpa menatap. “Ck!” lelaki itu berdecak kesal, kembali melanjutkan aktivitasnya. “Good morning anak Mama...” sapamu pada Jio. Bocah itu langsung memeluk, membenamkan wajah pada rambutmu dengan rengekan khasnya. Sudut mata Jungwon melirik sekilas, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis. Pemandangan hangat pagi hari mengalahkan kopi panas dengan asap mengepul. Jam demi jam berlalu hingga langit mulai diselimuti kegelapan. Kamu duduk di sofa, mata fokus pada televisi sambil memeluk Jio yang berada di pangkuan. Entah kenapa seharian ini bocah itu enggan melepasmu bahkan sedetik. Ia terlalu lengket. Bahkan selalu merengek tak jelas ketika kamu ingin ke toilet. Malam itu udara perlahan sejuk, cahaya rembulan menyelusup masuk melalui tirai jendela. Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil di luar. Dengan cepat kamu berdiri—membawa Jio dalam gendongan untuk menyambut Jungwon. Pintu utama terbuka, Jungwon masuk sambil melepaskan jasnya. Keningnya berkerut melihat cengkeraman Jio yang begitu erat padamu. “Jio sakit?” tanyanya. Kamu menggeleng lalu tersenyum tipis. “Dia sangat lengket hari ini,” jawabmu.  Jungwon mendekat, ingin mengambil alih karena tahu kamu lelah seharian penuh dibuntuti bocah manja satu ini. Akan tetapi Jio enggan menyerahkan tubuh. Sebaliknya ia memelukmu erat dan merengek ketika kedua tangan Jungwon terselip di bawah pinggangnya. Saat makan pun bocah itu terus menempel padamu bagaikan perangko. Tiap kali Jungwon berusaha mengajakmu bicara, Jio akan selalu melemparkan tatapan sengit. “Ada apa dengan bocah nakal ini?” celetuk Jungwon.  Setelah makan, kamu mengantar Jio menuju kamarnya. Bocah itu berbaring di sebelahmu, kedua lengannya memeluk boneka dinosaurus dengan erat. “Mama harus bobo dengan Jio malam ini, ya?”  Mulutmu hendak terbuka dan menjawab, akan tetapi Jungwon lebih dulu menyahut. “Malam ini Mama harus bobo dengan Papa.” Lelaki itu bersandar pada kusen pintu, melihat reaksi Jio yang akan protes. Bocah itu memajukan bibirnya, langsung bangun dari posisinya. “Pokoknya Mama cuma punya Jio!” “Lalu yang bikin kamu siapa Papa tanya?” Mendengar balasan Jungwon membuat matamu melebar. Secepat kilat kamu menyambar Jungwon dengan tangan yang langsung membungkam mulutnya.  “Kamu sedang bicara dengan Jio!” ucapmu panik. Sedangkan bocah itu hanya menatap bingung ke arah kalian berdua. Jungwon melirik ke arahmu, menyeringai lalu mengecup telapak tanganmu. Alismu terangkat, lalu lelaki itu mendekat untuk berbisik, “Kamu harus kembali ke kamar setelah Jio tidur.” Setelah itu dia pergi meninggalkan pertanyaan menggantung pada Jio. Ketika kembali ke kasur bocah itu, “Siapa yang buat Jio, Mama?”  Kamu memalingkan wajah, menghembus napas gusar sebelum kembali menatap sang putra dengan senyum kikuk. “Jio sekarang harus bobo, okay?”  Dengan polos dia mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya. Malam semakin larut, dada mungil itu bergerak teratur.  Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, di sana berdiri Jungwon yang sepertinya menunggu dari tadi. “Hampir satu jam aku tunggu,” Jungwon masuk, melirik Jio yang terlelap. “Sekarang giliranku.” Tanpa basa-basi lengan Jungwon menyusup di bawah lutut dan punggungnya.  ( lanjut di komentar ) #pov #enhypen #jungwon #fyp
Pov: Jungwon duduk di meja makan, mulutnya mengunyah namun tangannya ikut bekerja. Layar tablet bergulir pelan, sesekali mata menyipit ketika menemukan hal ganjil. Di seberang sana, kamu terus memperhatikannya dan tak lama kemudian pandanganmu berpindah pada bocah tiga tahun yang baru bangun dari tidurnya. “Mama~” rengek Jio, anakmu dan Jungwon. Langkah kaki kecil bergerak pelan, rambutnya berantakan dengan wajah bengkak, tak lupa boneka dinosaurus dalam genggaman. Sejenak Jungwon melepas tabletnya, memfokuskan perhatian pada sang putra. “Tiap bangun tidur selalu panggil Mamanya,” gerutu Jungwon. Kamu tertawa kecil lalu menghampiri Jio. “Aku ibunya. Aku juga yang bersamanya 24 jam, pasti dia akan selalu menuju padaku,” ucapmu pada Jungwon tanpa menatap. “Ck!” lelaki itu berdecak kesal, kembali melanjutkan aktivitasnya. “Good morning anak Mama...” sapamu pada Jio. Bocah itu langsung memeluk, membenamkan wajah pada rambutmu dengan rengekan khasnya. Sudut mata Jungwon melirik sekilas, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis. Pemandangan hangat pagi hari mengalahkan kopi panas dengan asap mengepul. Jam demi jam berlalu hingga langit mulai diselimuti kegelapan. Kamu duduk di sofa, mata fokus pada televisi sambil memeluk Jio yang berada di pangkuan. Entah kenapa seharian ini bocah itu enggan melepasmu bahkan sedetik. Ia terlalu lengket. Bahkan selalu merengek tak jelas ketika kamu ingin ke toilet. Malam itu udara perlahan sejuk, cahaya rembulan menyelusup masuk melalui tirai jendela. Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil di luar. Dengan cepat kamu berdiri—membawa Jio dalam gendongan untuk menyambut Jungwon. Pintu utama terbuka, Jungwon masuk sambil melepaskan jasnya. Keningnya berkerut melihat cengkeraman Jio yang begitu erat padamu. “Jio sakit?” tanyanya. Kamu menggeleng lalu tersenyum tipis. “Dia sangat lengket hari ini,” jawabmu. Jungwon mendekat, ingin mengambil alih karena tahu kamu lelah seharian penuh dibuntuti bocah manja satu ini. Akan tetapi Jio enggan menyerahkan tubuh. Sebaliknya ia memelukmu erat dan merengek ketika kedua tangan Jungwon terselip di bawah pinggangnya. Saat makan pun bocah itu terus menempel padamu bagaikan perangko. Tiap kali Jungwon berusaha mengajakmu bicara, Jio akan selalu melemparkan tatapan sengit. “Ada apa dengan bocah nakal ini?” celetuk Jungwon. Setelah makan, kamu mengantar Jio menuju kamarnya. Bocah itu berbaring di sebelahmu, kedua lengannya memeluk boneka dinosaurus dengan erat. “Mama harus bobo dengan Jio malam ini, ya?” Mulutmu hendak terbuka dan menjawab, akan tetapi Jungwon lebih dulu menyahut. “Malam ini Mama harus bobo dengan Papa.” Lelaki itu bersandar pada kusen pintu, melihat reaksi Jio yang akan protes. Bocah itu memajukan bibirnya, langsung bangun dari posisinya. “Pokoknya Mama cuma punya Jio!” “Lalu yang bikin kamu siapa Papa tanya?” Mendengar balasan Jungwon membuat matamu melebar. Secepat kilat kamu menyambar Jungwon dengan tangan yang langsung membungkam mulutnya. “Kamu sedang bicara dengan Jio!” ucapmu panik. Sedangkan bocah itu hanya menatap bingung ke arah kalian berdua. Jungwon melirik ke arahmu, menyeringai lalu mengecup telapak tanganmu. Alismu terangkat, lalu lelaki itu mendekat untuk berbisik, “Kamu harus kembali ke kamar setelah Jio tidur.” Setelah itu dia pergi meninggalkan pertanyaan menggantung pada Jio. Ketika kembali ke kasur bocah itu, “Siapa yang buat Jio, Mama?” Kamu memalingkan wajah, menghembus napas gusar sebelum kembali menatap sang putra dengan senyum kikuk. “Jio sekarang harus bobo, okay?” Dengan polos dia mengangguk lalu kembali merebahkan tubuhnya. Malam semakin larut, dada mungil itu bergerak teratur. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, di sana berdiri Jungwon yang sepertinya menunggu dari tadi. “Hampir satu jam aku tunggu,” Jungwon masuk, melirik Jio yang terlelap. “Sekarang giliranku.” Tanpa basa-basi lengan Jungwon menyusup di bawah lutut dan punggungnya. ( lanjut di komentar ) #pov #enhypen #jungwon #fyp

About