yyaaa :
“When ya” bukan sekadar dua suku kata yang meluncur ringan dari bibir, bukan pula gema kosong yang lahir tanpa akar. Ia adalah serpihan cahaya yang terperangkap di sela napas, desir tipis yang menyusup di antara detak jantung dan jeda sunyi. Dalam kesederhanaannya, ia memikul beban yang tak tampak beban harap yang tak pernah benar-benar ingin menjadi beban, hanya ingin diakui keberadaannya, meski sekilas.
Ia hadir seperti bayang-bayang senja yang memanjang pelan di atas tanah yang lelah. Tak pernah mendesak, tak pernah menuntut ruang, namun tetap ada setia mengiringi langkah-langkah yang tak selalu tahu ke mana harus berpulang. “When ya” adalah bisikan yang lahir dari tatapan yang terlalu lama menetap pada sesuatu yang indah. Sebuah pengakuan yang setengah jadi, terucap namun tak sepenuhnya berani berdiri tegak di hadapan dunia.
Di dalamnya tersimpan kalimat yang tak selesai: "aku pun ingin."
Bukan ingin yang berteriak, bukan pula yang merampas. Hanya ingin yang duduk bersila di sudut hati, memeluk lututnya sendiri, memandang keluar jendela batin sambil membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tak pernah menjadi nyata. Ia seperti embun di pucuk daun fajar bening, gemetar, memantulkan cahaya sebentar sebelum akhirnya luruh tanpa riuh.
Namun “When ya” tak hanya tentang keinginan; ia adalah cermin kecil yang memperlihatkan ruang kosong di dalam diri. Ruang yang tak selalu kita sadari keberadaannya hingga kita melihat orang lain mengisinya dengan tawa, dengan kehangatan, dengan kebahagiaan yang tampak begitu sederhana. Dan dari ruang itulah lahir pertanyaan yang lebih sunyi daripada malam "kapan giliranku?"
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar meminta jawaban. Ia hanya ingin dipeluk, didengarkan, diakui bahwa ia ada. Ia mengetuk pelan dinding kesabaran, menguji kekuatan penerimaan yang kita bangun dari hari ke hari. Dalam heningnya, ia mengajarkan bahwa harapan tak selalu harus berubah menjadi kepemilikan. Ada rindu yang cukup menjadi nyala kecil di kejauhan, menerangi tanpa harus didekap.
Aku mengucapkannya, lalu terdiam dan dalam diam itulah aku belajar. Belajar bahwa tidak semua yang indah ditakdirkan untuk singgah.
2026-04-30 06:13:45