@abdo_154487: لو جرحي منكوا تعبني 👎🏻🤷🏻‍♂️#تصميم_فيديوهات🎶🎤🎬 #foryoupage #مشاهير_تيك_توك #fyp #تصميمي❤️

عبدو 🥷🏻
عبدو 🥷🏻
Open In TikTok:
Region: EG
Saturday 18 April 2026 17:44:24 GMT
233326
13860
4
550

Music

Download

Comments

hassanmuhmmd0
حـــسـ🦅ـــون🥇 :
يسطا رد برايفت
2026-06-15 22:58:18
0
hanen.hana3
Hanen Hana :
قلبي ❤اختي اللي ليا
2026-04-21 20:25:08
0
user9981742838731
,ُالعلم 🏴‍☠️🤴🏼 :
❤️❤️❤️
2026-04-18 22:57:09
0
To see more videos from user @abdo_154487, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ Ada pertandingan yang hanya dimainkan dengan ego dan kaki: asal tendang. Ada pula pertandingan yang dimainkan dengan kaki dan pikiran. England versus Kroasia tampaknya termasuk kategori kedua. Di atas rumput hijau yang sama, dua filosofi sepak bola akan saling berhadapan. Yang satu datang membawa semangat zaman dengan kualitas pemain yang selalu bertabur bintang. Yang satunya lagi datang membawa kesabaran menunggu waktu. Yang satu ingin bergerak cepat, cerdas dan menciptakan peluang. Yang lain memilih menunggu saat yang tepat baru menyerang. England datang seperti arus listrik bertegangan tinggi. Mereka memiliki Harry Kane yang mampu mengubah setengah peluang menjadi gol. Mereka memiliki Bukayo Saka dan Anthony Gordon yang bergerak lincah seperti dua bilah pedang dari arah yang berbeda. Mereka memiliki Jude Bellingham yang berlari seolah tidak mengenal batas, serta Declan Rice yang menjaga keseimbangan permainan seperti seorang penjaga mercusuar di tengah badai. Jika sepak bola adalah seni bela diri, maka England memainkan kungfu dengan kualitas dan kecepatan tinggi. Lawan belum selesai membaca jurus pertama, jurus kedua dan ketiga sudah lebih dahulu tiba. Namun Kroasia bukan lawan yang mudah dibuat panik. Mereka adalah bangsa yang terbiasa bertahan di tengah tekanan. Dalam sepak bola, watak itu menjelma menjadi kesabaran. Di lini tengah masih berdiri Luka Modric, seorang maestro yang memahami bahwa pertandingan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang berlari paling cepat, melainkan oleh mereka yang paling memahami kapan harus bergerak. Di sampingnya ada Mateo Kovacic. Di belakangnya berdiri Josko Gvardiol. Mereka bukan sekadar pemain. Mereka adalah penjaga ritme yang membuat Kroasia tetap tenang ketika lawan mencoba mengubah pertandingan menjadi badai. Pertandingan ini sesungguhnya tidak akan ditentukan di kotak penalti. Ia akan ditentukan di ruang tengah lapangan. Di sanalah dua generasi akan saling menguji. Modric mewakili pengalaman yang telah kenyang menghadapi tekanan.  Bellingham mewakili keberanian generasi baru yang ingin mempercepat sejarah. Rice bertugas menjaga keseimbangan England, sementara Kovacic berusaha menjaga agar irama permainan tetap berada dalam kendali Kroasia. Sepak bola modern sering kali terlalu sibuk menghitung statistik. Jumlah umpan. Persentase penguasaan bola. Jumlah tembakan ke arah gawang. Padahal ada sesuatu yang tidak tercatat dalam lembar statistik, yaitu kemampuan menciptakan peluang dan mengendalikan suasana pertandingan. Di sinilah England vs Kroasia, memiliki kekuatan dan kelebihan masing-masing. England yang cepat menciptakan peluang, sementara Kroasia yang kesabaran menjemput peluangnya tidak selalu terlihat. Tim ini, tahu kapan harus memperlambat permainan. Mereka tahu kapan harus memancing lawan kehilangan kesabaran. Mereka memahami bahwa dalam pertandingan besar, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada kesalahan taktik. Tetapi England memiliki senjata yang berbeda. Mereka memiliki energi. Mereka memiliki keberanian. Mereka memiliki keyakinan bahwa pertandingan bisa diubah hanya dalam beberapa detik. Satu umpan terobosan dari Bellingham. Satu akselerasi dari Saka. Satu pergerakan Gordon di ruang kosong. Lalu Harry Kane menyelesaikannya dengan ketenangan seorang algojo. Itulah sebabnya saya melihat pertandingan ini sebagai pertarungan antara kecepatan yang cerdas versus kesabaran yang bijaksana. England ingin mempercepat waktu untuk meraih kemenangan. Kroasia ingin mengendalikan waktu menuju kemenangan. England ingin menciptakan ledakan. Kroasia ingin membangun irama. England ingin menyerang sebelum lawan berpikir. Kroasia ingin membuat lawan berpikir terlalu lama sebelum menyerang. Selebihnya tentang skor dan kemenangan akan ditulis oleh rumput, keringat dan waktu. *Oleh Bung Opickh
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━ Ada pertandingan yang hanya dimainkan dengan ego dan kaki: asal tendang. Ada pula pertandingan yang dimainkan dengan kaki dan pikiran. England versus Kroasia tampaknya termasuk kategori kedua. Di atas rumput hijau yang sama, dua filosofi sepak bola akan saling berhadapan. Yang satu datang membawa semangat zaman dengan kualitas pemain yang selalu bertabur bintang. Yang satunya lagi datang membawa kesabaran menunggu waktu. Yang satu ingin bergerak cepat, cerdas dan menciptakan peluang. Yang lain memilih menunggu saat yang tepat baru menyerang. England datang seperti arus listrik bertegangan tinggi. Mereka memiliki Harry Kane yang mampu mengubah setengah peluang menjadi gol. Mereka memiliki Bukayo Saka dan Anthony Gordon yang bergerak lincah seperti dua bilah pedang dari arah yang berbeda. Mereka memiliki Jude Bellingham yang berlari seolah tidak mengenal batas, serta Declan Rice yang menjaga keseimbangan permainan seperti seorang penjaga mercusuar di tengah badai. Jika sepak bola adalah seni bela diri, maka England memainkan kungfu dengan kualitas dan kecepatan tinggi. Lawan belum selesai membaca jurus pertama, jurus kedua dan ketiga sudah lebih dahulu tiba. Namun Kroasia bukan lawan yang mudah dibuat panik. Mereka adalah bangsa yang terbiasa bertahan di tengah tekanan. Dalam sepak bola, watak itu menjelma menjadi kesabaran. Di lini tengah masih berdiri Luka Modric, seorang maestro yang memahami bahwa pertandingan tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang berlari paling cepat, melainkan oleh mereka yang paling memahami kapan harus bergerak. Di sampingnya ada Mateo Kovacic. Di belakangnya berdiri Josko Gvardiol. Mereka bukan sekadar pemain. Mereka adalah penjaga ritme yang membuat Kroasia tetap tenang ketika lawan mencoba mengubah pertandingan menjadi badai. Pertandingan ini sesungguhnya tidak akan ditentukan di kotak penalti. Ia akan ditentukan di ruang tengah lapangan. Di sanalah dua generasi akan saling menguji. Modric mewakili pengalaman yang telah kenyang menghadapi tekanan. Bellingham mewakili keberanian generasi baru yang ingin mempercepat sejarah. Rice bertugas menjaga keseimbangan England, sementara Kovacic berusaha menjaga agar irama permainan tetap berada dalam kendali Kroasia. Sepak bola modern sering kali terlalu sibuk menghitung statistik. Jumlah umpan. Persentase penguasaan bola. Jumlah tembakan ke arah gawang. Padahal ada sesuatu yang tidak tercatat dalam lembar statistik, yaitu kemampuan menciptakan peluang dan mengendalikan suasana pertandingan. Di sinilah England vs Kroasia, memiliki kekuatan dan kelebihan masing-masing. England yang cepat menciptakan peluang, sementara Kroasia yang kesabaran menjemput peluangnya tidak selalu terlihat. Tim ini, tahu kapan harus memperlambat permainan. Mereka tahu kapan harus memancing lawan kehilangan kesabaran. Mereka memahami bahwa dalam pertandingan besar, kepanikan sering kali lebih berbahaya daripada kesalahan taktik. Tetapi England memiliki senjata yang berbeda. Mereka memiliki energi. Mereka memiliki keberanian. Mereka memiliki keyakinan bahwa pertandingan bisa diubah hanya dalam beberapa detik. Satu umpan terobosan dari Bellingham. Satu akselerasi dari Saka. Satu pergerakan Gordon di ruang kosong. Lalu Harry Kane menyelesaikannya dengan ketenangan seorang algojo. Itulah sebabnya saya melihat pertandingan ini sebagai pertarungan antara kecepatan yang cerdas versus kesabaran yang bijaksana. England ingin mempercepat waktu untuk meraih kemenangan. Kroasia ingin mengendalikan waktu menuju kemenangan. England ingin menciptakan ledakan. Kroasia ingin membangun irama. England ingin menyerang sebelum lawan berpikir. Kroasia ingin membuat lawan berpikir terlalu lama sebelum menyerang. Selebihnya tentang skor dan kemenangan akan ditulis oleh rumput, keringat dan waktu. *Oleh Bung Opickh

About