Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@sandore01: Áo Len Dệt Kim Nữ
Gấu Bự 🐻✨
Open In TikTok:
Region: VN
Monday 20 April 2026 08:03:23 GMT
1378
9
0
5
Music
Download
No Watermark .mp4 (
1.6MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.97MB
)
Watermark .mp4 (
1.69MB
)
Music .mp3
Comments
There are no more comments for this video.
To see more videos from user @sandore01, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
Pasar Madinah pada masa Rasulullah ﷺ bukan sekadar tempat transaksi. Ia adalah denyut nadi kota—tempat kaum muslimin belajar kejujuran, para pedagang menata hati, dan para sahabat berlatih hidup dalam cahaya syariat. Di antara deretan tenda kain dan aroma rempah-rempah, Rasulullah ﷺ sering berjalan, mengawasi, menegur, dan mengajarkan adab bisnis yang bersih dari tipu muslihat. Pada suatu pagi yang cerah, seorang pedagang kain bernama Nafi’ terlihat sibuk menarik perhatian pembeli. Di hadapannya tergantung kain-kain Yaman yang lembut, warnanya mencolok dan menarik mata. Seorang lelaki dari kabilah Aus, Hakim, datang mendekat, menatap salah satu kain dengan minat besar. “Berapa harga kain ini, wahai Nafi’?” tanyanya ramah. Nafi’ tersenyum, tapi sorot matanya menyimpan perhitungan cepat. Ia berkata, “Untukmu, hanya sepuluh dinar… jika tunai. Tapi jika kau ingin membayarnya bulan depan, harganya dua puluh dinar.” Hakim tertegun. “Jadi… mana harga sebenarnya? Sepuluh atau dua puluh?” Nafi’ menjawab dengan nada menggantung, “Terserah kau pilih nanti, yang penting sekarang kita sepakati dulu akadnya.” Hakim mengernyit. Ia tak memahami inti perjanjiannya. Ia khawatir diseret ke harga yang tak jelas. Dan yang lebih penting—ia merasa ada sesuatu yang tidak wajar pada cara tawar-menawar itu. Beberapa pedagang lain memperhatikan; sebagian dari mereka diam saja, karena metode semacam itu memberi keuntungan besar. Di antara kerumunan, lewatlah seorang sahabat yang terkenal sangat teliti dalam hal halal dan haram: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Melihat keganjilan itu, beliau mendekat. “Apa yang sedang kalian perdebatkan?” tanya beliau dengan suara lembut. Hakim menjelaskan dengan jujur. Abu Hurairah mengangguk serius—dan tanpa banyak kata, ia segera menuju Masjid untuk menanyakan langsung kepada Rasulullah ﷺ. Tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ keluar menuju pasar. Wajah beliau lembut, namun ada ketegasan yang membuat semua orang diam ketika melihatnya. Beliau berhenti di hadapan Nafi’ dan Hakim. Dengan suara yang tenang tapi tajam, Rasulullah ﷺ bersabda: “نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ” “Rasulullah ﷺ melarang dua jual beli dalam satu jual beli.” Nafi’ menundukkan kepala. Tapi Rasulullah ﷺ melanjutkan dengan penjelasan yang membuat pasar itu seakan ikut bernapas: “Janganlah engkau menjual kain ini dengan dua harga dalam satu akad. Jangan berkata, ‘sepuluh jika tunai, dan dua puluh jika hutang’ tanpa menentukan yang mana yang kalian sepakati. Itu adalah ketidakjelasan yang membuka pintu penipuan.” Beliau berpaling kepada para pedagang di sekitar. “Sesungguhnya perdagangan adalah amanah. Dan amanah tidak bercampur dengan tipu daya. Jual beli harus jelas: harganya jelas, syaratnya jelas, dan kerelaan kedua belah pihak jelas.” Rasulullah ﷺ menatap Nafi’—bukan untuk merendahkan, tetapi mendidik. “Jika engkau ingin menjualnya dengan harga berbeda antara tunai dan hutang, tentukan satu harga ketika akad terjadi. Itulah yang adil dan bersih dari keraguan.” Nafi’ mengangguk perlahan, wajahnya memerah karena malu namun hatinya lapang. Ia berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah… mulai hari ini aku tak akan lagi mencampur dua transaksi dalam satu akad. Aku tidak ingin hartaku bercampur sesuatu yang syubhat.” Rasulullah ﷺ tersenyum—senyum yang menenangkan dan penuh keberkahan. Pasar seperti kembali hidup setelah sekian menit terdiam. Hakim akhirnya membeli kain itu—dengan satu harga yang jelas dan disepakati bersama. Dan sejak hari itu, prinsip “dua jual beli dalam satu jual beli” menjadi pelajaran tersendiri bagi para pedagang Madinah. Kisahnya terus diceritakan, terus hidup di antara para sahabat, sampai diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dicatat oleh para ahli hadis. Sebuah kisah sederhana, namun menyelamatkan ribuan dari transaksi zalim. Jika kisah ini menyentuh hatimu, mari kirimkan shalawat untuk Rasulullah ﷺ. Tulis dikolom komen ya🤍 Allahumma Shalli 'ala Muhammad✨🌙 📚HR. Jami’ At-Tirmidzi no. 1231
Strategi Catur 4D Prabowo: Rahasia di Balik Status Karhutla & Misi Rusia
Can confirm the @Kate McLeod Body Stone is worth the hype!! Y’all can use AMANDA15 for 15% off on their site!! #KateMcLeodPartner
#tanzaniantiktok🇹🇿
Krispy Rice unboxing therapy 😏 #takeout #bts #behindthescene #sushitiktoks #fyp #foryou
nay đi hiền sí mấy chú mới thương#xuhuongtiktok #chuyencomatdat #chuyenco120kmh #viral #douyin
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy