🌱 :
sebagai anak pertama, sebenernya kita tuh nanggung beban besar, karena kita, "harapan orang tua, pertama." yang mana saat kita punya adik harus bisa jadi "contoh baik" dan membuka "jalan benar" buat adik, pas anak pertama lahir "orangtua baru belajar." kita si sulung kalo mau bertanya ini itu, orang tua masih dalam kondisi "awam dan belajar." jadi secara gak sadar kita si sulung, yang jadi pembimbing mereka buat jadi orangtua yang bener tuh gimana, misalnya, orang tua 'mulai belajar cara ngurus anak sakit', 'mulai belajar mendidik anak kayak gimana', 'mulai belajar caranya ngubah kebiasaan lama karena sudah jadi orangtua gimana' dan lainnya, dan saat itu, si "sulung" inilah yang lihat setiap proses pembelajaran dan perubahan tersebut, dan ini juga yang menciptakan sifat dewasa dini di diri sulung, sangking pahamnya keadaan orangtuanya yang jatuh bangun dari awal keluarga kecil terbentuk si "sulung" udah kenyang sama yang namanya prihatin, karena setiap pendewasaan orang tuanya masih banyak hal error yang pasti dia jadi percobaan utamanya. sulung itu sayang ke orangtuanya, cuma gengsinya gede banget banget, kalo debat bukan berarti benci ke orangtua, lebih ke dia cape karena berusaha jadi 'arah benar' buat adiknya, dan 'harapan baik.' buat orangtuanya. kadang dari sikap keras kepala, diam dan galaknya, dia cuma lagi nyembuhin luka masa kecil yang dia dapatkan dari proses belajar orangtuanya untuk menjadi orangtua yang sekarang 'yang udah siap jadi orang tua di anak ke dua, ketiga dan kesekian' setiap anak punya luka masing-masing, menjadi orangtua gak mudah menjadi anak juga sama gak mudahnya. orang tua belajar, berkorban demi anak dan sang anak mencoba patuh sebagai tanda baktinya ke orangtua.
2026-04-23 10:53:19