MoOd202 :
@MoOd202:ada satu masa, di mana aku mencintai seseorang dengan begitu utuh, tanpa syarat, tanpa jeda, dan hampir tanpa sisa untuk diriku sendiri. aku mempelajari dunianya, menerima luka-lukanya, memahami diamnya, bahkan mencintai bagian-bagian dirinya yang mungkin orang lain pilih untuk tinggalkan. aku ada, bukan hanya saat semuanya baik-baik saja, tapi juga saat dia tidak baik-baik saja. aku pikir, cinta seperti itu akan cukup… cukup untuk membuat kita saling memilih, berulang kali.
tapi ternyata, kehilangan aku… adalah pilihanmu. bukan karena aku pergi, tapi karena kamu yang memutuskan untuk tidak lagi bertahan. padahal aku tidak pernah berniat meninggalkan. aku selalu ingin tetap tinggal, tetap membersamai, tetap ada, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.
lalu sekarang, kamu dengan yang baru. tertawa, memulai lagi, seolah tidak ada yang pernah terjadi. sedangkan aku… masih di sini, merapikan sisa-sisa rasa yang bahkan belum sempat aku lepaskan sepenuhnya. aku bukan tidak ingin pergi, aku hanya belum selesai, belum selesai memahami kenapa semua berubah secepat itu, belum selesai menerima bahwa aku bisa begitu mudah tergantikan, dan belum selesai meyakinkan diriku sendiri bahwa semua yang pernah kita punya tidak sependek itu.
kadang aku masih bertanya-tanya tentang semua yang dulu pernah kamu beri. apakah itu nyata? atau hanya sesuatu yang terlihat indah karena aku terlalu percaya? kalau memang itu nyata, kenapa kamu bisa pergi semudah itu? tapi kalau itu hanya ilusi… kenapa rasanya begitu dalam, sampai aku masih membawanya sejauh ini?
yang paling menyakitkan bukanlah kamu bahagia, tapi aku yang belum utuh, masih berusaha berdiri di tempat yang sama saat kamu sudah melangkah jauh tanpa menoleh. dan mungkin, pada akhirnya aku akan benar-benar pergi juga, bukan karena aku berhenti mencintai, tapi karena aku akhirnya mengerti bahwa tidak semua yang kita jaga dengan sepenuh hati ditakdirkan untuk tetap tinggal.
2026-05-03 11:12:53