Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@pacboy_05: لا تحزن لأنك غير مرتبط فغيرك لا يستطيع التنفس لأن حبيبته بالصفحة 😂💔 #توباك #2pac🥀 #packingorders #2pacshakur #2pac @𝐒 𝐔 𝟏 𝐋 𝐓 𝐀 𝐍 @رايـــــــــزل || 𝑹𝑨𝑰𝒁𝑬𝑳 @الباك شاكور 🥷🎤
𝕡𝕒𝕔 𝔹𝕠𝕪🥷👑
Open In TikTok:
Region: SD
Sunday 26 April 2026 16:33:27 GMT
164488
11891
368
1119
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.76MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.76MB
)
Watermark .mp4 (
1.67MB
)
Music .mp3
Comments
آحـمـد :
الحب حب كره القدم وأقطع ✋
2026-06-25 11:46:28
129
ℬ𝓆𝓉𝓂𝓆𝓃🖤🥷🏻 :
الحب الحقيقي
2026-06-25 21:50:54
29
رِ :
احلفف على كل الي بتعاليق مرتبطين بس مايگولون
2026-06-26 04:28:13
5
حــســونــي || الزوي🖤🤙🏽 :
😂💔🖖🏽
2026-06-27 20:46:14
2
? /XXXYousif\? :
الحب هي الملاكمة
2026-06-27 10:56:38
1
(حـكشـه فكره والفكره لا تموت) :
المرا الوحيدا التي تستحق الحب هيا امي
2026-06-26 15:36:24
8
S e i F___1 :
🫡
2026-06-19 22:26:19
3
🇮🇹 :
الحب حب كره القدم وبس🫸
2026-06-25 22:40:25
7
SAINT 🏹 :
الحب الحقيقي😏😏😏
2026-06-27 10:13:19
4
™﴾★𝒮𝒰𝒫ℰℛ . 𝒮𝓉𝒶𝓇★﴿™ :
الشيء إلي مستحيل أعمله ﴿أرتبط😏﴾
2026-04-30 23:21:11
8
MOHAMMED 🫶 :
2026-06-25 21:18:44
2
A🫦🌚 :
اني عندي حبيبه وماخذ راحتي
2026-06-26 01:22:10
1
أبـو تركــي🎸 :
طيب بخصوص الاستوري ( رأيكم )
2026-06-25 22:31:48
3
ƘÅÌŚ💔⚽️ :
ندي لفيديو عادي ؟☹️
2026-06-27 21:06:39
2
To see more videos from user @pacboy_05, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
أحبك أكثر من روحي يا أغلى ما عندي❤️💙
Antena Sinal Digital amplificada. #antena #tiktokshop #achadinhos #oferta #tv
Comment changer le mot de passe du wifi
#POV | Mine, Even In Fear. | Namanya Sunghoon. Dia murid pindahan dari SMA di Korea Selatan yang datang ke sekolahku saat aku kelas 10 semester 1. Aku masih ingat hari pertamanya—cara dia berdiri di depan kelas dengan kepala tertunduk, suara pelannya saat memperkenalkan diri, dan bahasa Indonesianya yang masih kaku, seolah setiap kata adalah beban. “Hallo, namaku park sunghoon,” ucapnya singkat. Lalu diam. Sejak saat itu, aku tahu dia berbeda. Sunghoon pendiam, tertutup, terisolasi. Dia selalu menunduk, jarang bicara, dan lebih sering mengangguk daripada menjawab. Bahkan ketika aku pertama kali mengajaknya bicara. “Kok lo betah di sini?” tanyaku. Dia menoleh sebentar, lalu mengangguk. “Iya.” Hanya itu. Dia pintar—terlalu pintar—nilainya selalu sempurna tanpa pernah ia pamerkan. Dia tampan, kacamata di wajahnya justru membuat sorot matanya semakin dingin dan jauh. Tapi bukan itu alasan aku menyukainya. Aku tertarik karena sunghoon seperti orang yang tidak ingin dikenali, namun mustahil untuk tidak diperhatikan. Semakin dia menutup diri, semakin aku ingin tahu apa yang ia sembunyikan. Dan sejak hari pertama itu, hingga kini aku kelas 12, perhatianku tidak pernah benar-benar lepas darinya. -- Hari ini aku masih di sekolah—baru saja menyelesaikan pelajaran paling melelahkan—kimia. Kepalaku terasa berat, bau spidol dan rumus masih menggantung di udara kelas. Begitu bel berbunyi, aku bangkit dari kursiku dan membuka tas. Aku mengeluarkan dua kotak bekal. Jangan tanya satu untuk siapa—karena jawabannya selalu sama sejak dulu. Sunghoon. Aku berjalan ke mejanya tanpa ragu. Dia masih duduk di tempatnya, membaca, atau mungkin hanya berpura-pura membaca, karena tau aku akan mendekatinya. Aku meletakkan kotak bekal itu di atas mejanya, tepat di samping tangannya. “Ini,” kataku pelan. Sunghoon menoleh. Matanya sempat berhenti di wajahku, sepersekian detik saja, lalu turun ke bekal itu. Seperti biasa, dia tidak bertanya. Tidak menolak. Hanya mengangguk kecil dan menarik kotak itu ke arahnya. “Terima kasih, lain kali tidak perlu membuatkan aku ini” ucapnya sambil kembali menatap buku. Itu saja. Dan itu sudah cukup—setidaknya untuk hari ini. Walaupun dia berkata seperti itu, apakah aku akan berhenti? Tentu tidak. Aku memberinya bekal setiap dua hari sekali. Entah kenapa, dia selalu menerimanya. Tanpa komentar. Tanpa rasa ingin tahu. Seolah itu sudah menjadi rutinitas yang tidak perlu dijelaskan. Siang hari, saat istirahat kedua, aku mencarinya lagi. Aku selalu tahu di mana dia berada—di bangku yang sama, di sudut yang sama, dengan sikap tubuh yang sama. Aku menyerahkan minuman dingin yang masih basah oleh embun. “Biar nggak haus, diminum yaa ganteng,” ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku. Dia menerimanya dengan kedua tangan. Menunduk. Lagi. Aku memberikan apa pun yang bisa kuberikan padanya. Makanan. Minuman. Surat-surat pendek yang kutulis diam-diam. Bahkan syal yang kurajut sendiri saat malam, dengan benang warna netral—warna yang kupikir akan cocok dengannya. Aku selalu mengatakan hal yang sama. Tanpa rasa malu. “Gue suka banget sama lo, sunghoon.” dan Sunghoon selalu merespons dengan cara yang sama pula—diam. Kepala tertunduk. Tidak ada penolakan, tapi juga tidak ada jawaban. Namun aku tidak pernah menganggap itu sebagai akhir. Bagiku, diamnya sunghoon bukan penolakan—melainkan jarak. Dan jarak selalu bisa dipersempit kan? Aku tidak menyerah. Aku terus mengejarnya. Pelan. Konsisten. Sampai suatu hari, aku yakin, dia tidak akan bisa lagi berpura-pura bahwa aku hanyalah seseorang yang lewat begitu saja dalam hidupnya. -- Terkadang, dunia tidak pernah benar-benar adil pada sunghoon. Dia sering menjadi sasaran—terutama oleh teman seangkatan kami. Bukan karena dia berbuat salah, tapi justru karena dia tidak membalas. Karena diamnya dianggap kelemahan. Karena kepalanya yang selalu tertunduk membuat orang merasa punya kuasa atasnya. (+ in ch WA ya) #sunghoon #povs #enhypen #fypシ゚
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy