parjuma modom :
Kemarin aku merasa begitu bangga saat menyebut namamu di depan orang-orang sekitarku, seolah dunia tahu bahwa aku memiliki seseorang yang membuatku beruntung hanya dengan hadirnya. Aku bercerita dengan mata berbinar, dengan senyum yang tak bisa aku sembunyikan, seolah kamu adalah alasan paling indah yang pernah aku punya. Tapi hari ini, semuanya terasa berbeda. Saat orang lain menanyakan tentangmu, aku hanya bisa tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan agar tak terlihat hancur, senyum yang kubangun hanya untuk menutupi kenyataan bahwa kamu bukan lagi bagian dari ceritaku. Aku berusaha menjawab singkat, seakan-akan tak ada yang berubah, padahal di dalam hatiku, semuanya sudah porak-poranda.
Mereka mungkin mengira aku baik-baik saja, tapi mereka tidak tahu bahwa setiap pertanyaan tentangmu adalah pisau kecil yang kembali menggores luka yang belum sembuh. Aku mencoba untuk tetap terlihat kuat, seolah kehilanganmu bukan sesuatu yang membuatku hampir runtuh. Namun, setiap kali namamu disebut, aku kembali diingatkan bahwa dulu aku begitu bangga memilikimu, dan sekarang aku hanya bisa menyimpan semua cerita tentangmu di dalam diam.
Ada perbedaan besar antara kemarin dan hari ini. Kemarin, namamu adalah kebanggaan. Hari ini, namamu adalah rahasia yang kusembunyikan rapat-rapat, agar tidak ada yang tahu betapa masih sakitnya aku kehilanganmu. Aku tersenyum agar dunia tidak melihat air mataku, aku diam agar mereka tidak tahu betapa besar rinduku. Dan aku terus bertahan, meski aku tahu, hanya aku sendiri yang benar-benar paham betapa beratnya menyebut namamu sekarang.
Mungkin inilah yang disebut kehilangan: dulu aku bangga menyebutmu keras-keras, sekarang aku hanya bisa berbisik lirih dalam doa๐, berharap suatu saat, namamu tidak lagi menyakitkan setiap kali terdengar๐
2026-05-02 04:14:22