@glareline:

Glare line
Glare line
Open In TikTok:
Region: SA
Monday 27 April 2026 17:29:15 GMT
177094
1022
10
514

Music

Download

Comments

m30215
🇰🇼🩷M🇸🇦 :
ليش ماتحطون السعر
2026-08-09 14:12:40
0
dodii_646
💕 :
بكم ؟
2026-07-28 21:55:22
0
gognaa6
جيان الرويلي⭐️💜 :
من طلبت منهم؟؟
2026-10-09 22:29:10
0
foifotb0
Foif 🍓 :
للبيع
2026-04-28 19:19:58
1
remxix1
𝚁𝙴𝙴𝙼 :
كم
2026-04-27 18:24:23
0
shosha_041
Shruq🪶🩵. :
ب كم سعودي
2026-04-27 21:59:51
0
ward9944
ورد💗. :
بكم بالسعودي
2026-04-27 23:42:21
0
username_aa24
…. :
😍😍
2026-04-28 14:26:09
0
ams.blog
AMS :
😍😍😍😍
2026-04-28 23:02:17
0
To see more videos from user @glareline, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#junghwanpov (10) Kamu membuka mulut hendak bicara, tapi Junghwan lebih dulu bereaksi—bukan dengan kata-kata. Ia memutar matanya malas. Bahunya terangkat sedikit saat ia mendengus kesal, jelas terganggu melihatmu berdiri di sana, sok berada di tengah konflik yang bukan duniamu. Tatapannya menyapu dirimu dari atas ke bawah sekilas, cepat, lalu berpaling lagi. Ekspresinya mengatakan satu hal jelas: kamu ribet. Lawan Junghwan melepas kerah jaket itu dengan kasar.  Junghwan tetap diam. Ia hanya melangkah setengah ke belakang, mengambil botol minumnya lagi. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Seolah kehadiranmu tidak cukup penting untuk diberi reaksi lebih dari satu dengusan. Kamu berdiri kaku, tangan mengepal di sisi tubuhmu. Sorak sorai di garis akhir perlahan mereda, berubah jadi gumaman dan tawa-tawa kecil. Di tengah kerumunan itu, satu sosok justru tampak santai—lelaki dari kubu lawan, One. Ia berdiri dengan helm di tangan, matanya sempat mengarah padamu. “Heh… cewek itu,” gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan mengejek. Lebih ke tertarik. Berbeda dengan Junghwan. Laki-laki itu sudah berjalan menjauh. Punggungnya tegas, langkahnya pasti, seolah apa pun yang barusan terjadi tak layak dipikirkan. Kamu menatap punggung itu dengan kesal. “Nyebelin banget,” gerutumu lirih. Beberapa teman Junghwan terkekeh. Haga menghampirimu, wajahnya tidak ikut tertawa. “Udah. Pulang aja,” katanya pelan tapi tegas. “Ini bukan tempat buat lo.” Kamu mendengus, tapi akhirnya mengangguk. “Iya, iya. Aku tau.” Dengan vespa pink milikmu, kamu meninggalkan area itu. Jalanan makin sepi, lampu jalan jarang. Angin malam menusuk, membuatmu merapatkan jaket. Kamu mempercepat laju motor. Tiba-tiba cahaya lampu muncul dari belakang. Suara deru motor makin dekat. Napasmu memburu. “Sial… ” ucapmu panik sambil memutar gas. Percuma. Motor balap itu dengan mudah menyusul, lalu berhenti tepat di depanmu. Kamu mengerem mendadak. “Astaga…” napasmu tersengal. Sosok itu menatapmu dari balik helm. Tidak bergerak. Tidak bicara. Helm itu kemudian dilepas. Kamu langsung mengernyit. “Lo?” ucapmu refleks. One tersenyum kecil. “Tenang. Gue bukan begal.” “Ya siapa juga yang langsung percaya,” balasmu judes. “Minggir. Gue mau pulang.” One tertawa pelan, tidak tersinggung. Ia mengulurkan tangannya. “One. Cuma mau kenalan.” Kamu menatap tangannya beberapa detik. Tidak menyambut. “Gue nggak tertarik kenalan di jalan sepi tengah malam,” jawabmu dingin. One menarik kembali tangannya, senyumnya masih ada. “Fair.” Akhirnya One memberi jalan. Ia memberi isyarat singkat ke teman-temannya yang berhenti di belakang. Mesin motor kembali menyala, tapi alih-alih berbalik arah, One justru melajukan motornya sejajar dengan vespa pink milikmu. Kamu melaju pelan, tidak berkata apa pun. Tatapanmu lurus ke depan, tapi dari sudut mata kamu tahu—dia masih ada di sana. Sesekali kamu melirik ke samping. One tidak menatapmu berlebihan. Posisi motornya rapi, jarak dijaga. Tidak agresif. Tidak memaksa. Justru itu yang membuatmu semakin tidak nyaman. Kawasan mulai berubah. Jalanan besar berganti kompleks perumahan yang sunyi. Lampu rumah jarang menyala, suara malam terdengar lebih jelas. Di mulut gang, motor-motor lain berhenti satu per satu. “Di sini aja,” suara One terdengar singkat ke belakang. Teman-temannya tidak protes. Mereka berbalik arah tanpa banyak tanya. Tinggal One yang terus mengikuti, sampai benar-benar berhenti di depan rumahmu. Kamu mematikan mesin. Membuka helm dengan gerakan cepat. Begitu pagar digeser, kamu menoleh ke arahnya. “Udah. Pulang,” katamu dingin. “Gue nggak butuh dianter.” One tetap di atas motornya. Tidak turun. Tidak mendekat. “Gue cuma mau pastiin lo masuk rumah dengan aman.” Kamu mendengus kecil. “Aman atau nggak itu urusan gue.” Ia terdiam sejenak, lalu menjawab santai, “Iya. Gue tau, gue cuma pastiin aja.” Kamu menatapnya tajam. “Lo aneh. Tadi di arena hampir berantem, sekarang sok baik.” One tersenyum tipis. “Dua hal yang beda.” #junghwan #treasure
#junghwanpov (10) Kamu membuka mulut hendak bicara, tapi Junghwan lebih dulu bereaksi—bukan dengan kata-kata. Ia memutar matanya malas. Bahunya terangkat sedikit saat ia mendengus kesal, jelas terganggu melihatmu berdiri di sana, sok berada di tengah konflik yang bukan duniamu. Tatapannya menyapu dirimu dari atas ke bawah sekilas, cepat, lalu berpaling lagi. Ekspresinya mengatakan satu hal jelas: kamu ribet. Lawan Junghwan melepas kerah jaket itu dengan kasar. Junghwan tetap diam. Ia hanya melangkah setengah ke belakang, mengambil botol minumnya lagi. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Seolah kehadiranmu tidak cukup penting untuk diberi reaksi lebih dari satu dengusan. Kamu berdiri kaku, tangan mengepal di sisi tubuhmu. Sorak sorai di garis akhir perlahan mereda, berubah jadi gumaman dan tawa-tawa kecil. Di tengah kerumunan itu, satu sosok justru tampak santai—lelaki dari kubu lawan, One. Ia berdiri dengan helm di tangan, matanya sempat mengarah padamu. “Heh… cewek itu,” gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan mengejek. Lebih ke tertarik. Berbeda dengan Junghwan. Laki-laki itu sudah berjalan menjauh. Punggungnya tegas, langkahnya pasti, seolah apa pun yang barusan terjadi tak layak dipikirkan. Kamu menatap punggung itu dengan kesal. “Nyebelin banget,” gerutumu lirih. Beberapa teman Junghwan terkekeh. Haga menghampirimu, wajahnya tidak ikut tertawa. “Udah. Pulang aja,” katanya pelan tapi tegas. “Ini bukan tempat buat lo.” Kamu mendengus, tapi akhirnya mengangguk. “Iya, iya. Aku tau.” Dengan vespa pink milikmu, kamu meninggalkan area itu. Jalanan makin sepi, lampu jalan jarang. Angin malam menusuk, membuatmu merapatkan jaket. Kamu mempercepat laju motor. Tiba-tiba cahaya lampu muncul dari belakang. Suara deru motor makin dekat. Napasmu memburu. “Sial… ” ucapmu panik sambil memutar gas. Percuma. Motor balap itu dengan mudah menyusul, lalu berhenti tepat di depanmu. Kamu mengerem mendadak. “Astaga…” napasmu tersengal. Sosok itu menatapmu dari balik helm. Tidak bergerak. Tidak bicara. Helm itu kemudian dilepas. Kamu langsung mengernyit. “Lo?” ucapmu refleks. One tersenyum kecil. “Tenang. Gue bukan begal.” “Ya siapa juga yang langsung percaya,” balasmu judes. “Minggir. Gue mau pulang.” One tertawa pelan, tidak tersinggung. Ia mengulurkan tangannya. “One. Cuma mau kenalan.” Kamu menatap tangannya beberapa detik. Tidak menyambut. “Gue nggak tertarik kenalan di jalan sepi tengah malam,” jawabmu dingin. One menarik kembali tangannya, senyumnya masih ada. “Fair.” Akhirnya One memberi jalan. Ia memberi isyarat singkat ke teman-temannya yang berhenti di belakang. Mesin motor kembali menyala, tapi alih-alih berbalik arah, One justru melajukan motornya sejajar dengan vespa pink milikmu. Kamu melaju pelan, tidak berkata apa pun. Tatapanmu lurus ke depan, tapi dari sudut mata kamu tahu—dia masih ada di sana. Sesekali kamu melirik ke samping. One tidak menatapmu berlebihan. Posisi motornya rapi, jarak dijaga. Tidak agresif. Tidak memaksa. Justru itu yang membuatmu semakin tidak nyaman. Kawasan mulai berubah. Jalanan besar berganti kompleks perumahan yang sunyi. Lampu rumah jarang menyala, suara malam terdengar lebih jelas. Di mulut gang, motor-motor lain berhenti satu per satu. “Di sini aja,” suara One terdengar singkat ke belakang. Teman-temannya tidak protes. Mereka berbalik arah tanpa banyak tanya. Tinggal One yang terus mengikuti, sampai benar-benar berhenti di depan rumahmu. Kamu mematikan mesin. Membuka helm dengan gerakan cepat. Begitu pagar digeser, kamu menoleh ke arahnya. “Udah. Pulang,” katamu dingin. “Gue nggak butuh dianter.” One tetap di atas motornya. Tidak turun. Tidak mendekat. “Gue cuma mau pastiin lo masuk rumah dengan aman.” Kamu mendengus kecil. “Aman atau nggak itu urusan gue.” Ia terdiam sejenak, lalu menjawab santai, “Iya. Gue tau, gue cuma pastiin aja.” Kamu menatapnya tajam. “Lo aneh. Tadi di arena hampir berantem, sekarang sok baik.” One tersenyum tipis. “Dua hal yang beda.” #junghwan #treasure

About