@supinotriiste: @growth.supplements GORILA ESTÁ NA DENSIDADE MÁXIMA... #growtv #growthcy

SupinoTriste
SupinoTriste
Open In TikTok:
Region: BR
Tuesday 28 April 2026 11:51:21 GMT
1019
48
0
0

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @supinotriiste, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif. Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish). Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portfolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah. sumber: TWS News  @tradewithsuli  #kontencom #kontencomxtws
Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif. Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish). Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portfolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah. sumber: TWS News @tradewithsuli #kontencom #kontencomxtws

About