| ~HP•FGI~ | :
"When yah" bukan sekedar dua suku kata yang meluncur ringan dari bibir, bukan pula bunyi kosong yang lahir tanpa makna, melainkan sebuah pengakuan jujur tentang kapan sebenarnya giliran aku bisa merasakan kehangatan yang sama di tengah rutinitas hari-hariku yang seringkali terasa berat dan melelahkan. Ia adalah serpihan harap yang terselip di antara jeda napas, sebuah cara paling halus untuk berkata bahwa aku pun ingin merasakan punya seseorang yang benar-benar bisa menjadi tempat pulang paling nyaman, yang bukan cuma ada di saat senang tapi juga menjadi sandaran paling kokoh saat badan ini rasanya sudah mau rontok sehabis kerja seharian di lapangan. Aku sering terdiam sendiri sambil membayangkan gimana rasanya punya sosok yang kehadiran sederhananya saja sudah cukup buat melunturkan semua beban pikiran dan rasa capek yang menumpuk tanpa sisa sedikit pun, karena di dalamnya ada kerinduan yang masih malu-malu dan impian yang belum siap berdiri tegak. Melihat orang lain bisa saling menatap dengan penuh ketulusan sering bikin aku bertanya-tanya kapan semesta mengizinkanku berdiri di tempat yang sama, merasakan hangat yang serupa, dan memeluk kebahagiaan yang tampak begitu mudah bagi orang lain. Tulisan ini sebenarnya cuma gema lirih di ruang batin yang mengetuk pelan dinding kesabaran, sebuah cara aku buat jujur kalau aku pun mendambakan satu perhatian kecil yang bisa jadi alasan terkuat untuk tetap semangat bertahan menghadapi kerasnya dunia luar. Aku belajar bahwa mungkin saat ini aku hanya perlu menatap dari jauh, bukan karena tak berani mendekat, tetapi karena mengerti bahwa ada keinginan yang hanya dititipkan untuk dirasakan sebelum benar-benar dimiliki. Aku akan tetap di sini, menghirup kenyataan dengan penerimaan yang tenang, sambil terus berharap suatu saat nanti kata "When yah" ini tidak lagi menjadi angan-angan yang larut dalam gelap, tapi berubah menjadi realita indah di mana aku akhirnya punya alasan untuk berhenti bertanya karena sudah menemukan jawabannya pada dirimu.
2026-05-01 13:43:03