@parammaries: ICBS 2026 is coming 🔥 650+ global brands, 13,000+ attendees, 55 countries 🌍 The whole café & beverage industry is gathering at KLCC and honestly… this is THE place to be if you’re into coffee, tea, matcha, or café culture ☕🍵 And yes — the Malaysia Open Coffee Championship 2026 is happening LIVE at the show ☕🏆 Plus there’ll be the Brewing Station, Unite Malaysian Taste Challenge 2026 (mixology competition 🍹), and a brand new Tea Segment this year. Whether you’re a café owner, barista, F&B professional, or just someone who loves café hopping, this is the place for you ✨ 📍 Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC) 🗓️ 7–9 May 2026 🕙 Trade Visitors 7 & 8 May 2026 : 10AM – 6PM 🕙 Trade & Public Visitors 9 May 2026 : 10AM – 5PM Register below or at @intlcbs for your FREE pass now! 🎟️ >> https://register.eps.net.my/register/ICBS2026

Parammaries ʕ•́ᴥ•̀ʔ
Parammaries ʕ•́ᴥ•̀ʔ
Open In TikTok:
Region: MY
Saturday 02 May 2026 11:40:04 GMT
2277
24
1
34

Music

Download

Comments

crystalc13795
crystalc13795 :
hi hi check email ya
2026-05-28 06:48:32
0
To see more videos from user @parammaries, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Nama Feri Amsari kembali menjadi perhatian publik di tengah dinamika hukum dan politik nasional yang kian kompleks. Akademisi asal Sumatera Barat ini dikenal sebagai salah satu suara kritis yang konsisten mengawal isu konstitusi, demokrasi, dan kekuasaan di Indonesia. Feri Amsari lahir di Padang pada 2 Oktober 1980, dengan latar keluarga dari Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Ia merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah lama menempatkan diri bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengamat tajam terhadap praktik ketatanegaraan di Tanah Air. Dari sisi akademik, Feri memiliki fondasi yang kuat. Ia meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Andalas dengan predikat cumlaude, kemudian melanjutkan studi Master of Laws (LL.M) di William & Mary Law School, Amerika Serikat. Keilmuan tersebut membawanya dikenal luas sebagai pakar hukum tata negara yang kerap dimintai pandangan dalam berbagai isu strategis nasional. Perannya semakin terlihat saat dipercaya memimpin Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas pada periode 2017–2023. Melalui lembaga ini, ia aktif mendorong kajian kritis terhadap kebijakan negara, termasuk isu pemilu, independensi lembaga, serta arah demokrasi Indonesia. Memasuki perkembangan terbaru, Feri Amsari tetap aktif di ruang publik. Ia rutin tampil dalam forum diskusi, seminar nasional, hingga media massa untuk memberikan analisis terhadap isu-isu aktual—mulai dari penegakan hukum, dinamika politik, hingga kualitas demokrasi yang terus menjadi sorotan. Namanya juga semakin dikenal luas setelah keterlibatannya dalam film dokumenter Dirty Vote. Dalam film tersebut, ia bersama sejumlah pakar hukum lainnya mengulas dugaan persoalan dalam proses demokrasi menjelang Pemilu 2024, yang kemudian memicu diskusi luas di tengah masyarakat. Tak berhenti di situ, belakangan Feri juga mendorong gagasan “kabinet bayangan” yang ikut menyita perhatian publik. Konsep ini pada dasarnya merupakan praktik dalam sistem demokrasi, di mana kelompok di luar pemerintahan membentuk semacam tim tandingan untuk mengawasi, mengkritik, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Menurut pandangan yang berkembang, gagasan kabinet bayangan dinilai sebagai bentuk penguatan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Dengan adanya pengawasan yang aktif dan berkelanjutan, diharapkan jalannya kekuasaan tetap berada dalam koridor konstitusi. Namun, wacana ini juga menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, karena dianggap belum lazim dalam praktik politik Indonesia. Di luar aktivitas publiknya, Feri tetap dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia aktif menulis di berbagai media nasional seperti Kompas, Singgalang, dan Haluan, dengan fokus pada isu hukum, politik, dan kenegaraan. Gaya tulisannya yang lugas dan argumentatif menjadikannya salah satu referensi penting dalam membaca situasi hukum di Indonesia. Jiwa aktivismenya sendiri telah terbentuk sejak masa kuliah. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Andalas, serta aktif dalam dunia jurnalistik kampus. Pengalaman tersebut membentuk karakter kritis yang terus ia bawa hingga kini. Di tengah perubahan zaman dan dinamika kekuasaan yang terus bergerak, Feri Amsari tetap menjadi salah satu figur yang konsisten menjaga nalar kritis publik. Bagi banyak kalangan, kehadirannya bukan sekadar akademisi, tetapi juga pengingat bahwa hukum seharusnya berdiri di atas kebenaran bukan sekadar mengikuti arah kekuasaan. Sumber: berbagai referensi profil publik, tulisan media nasional, dan pemberitaan terkini.
Nama Feri Amsari kembali menjadi perhatian publik di tengah dinamika hukum dan politik nasional yang kian kompleks. Akademisi asal Sumatera Barat ini dikenal sebagai salah satu suara kritis yang konsisten mengawal isu konstitusi, demokrasi, dan kekuasaan di Indonesia. Feri Amsari lahir di Padang pada 2 Oktober 1980, dengan latar keluarga dari Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Ia merupakan dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas yang telah lama menempatkan diri bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengamat tajam terhadap praktik ketatanegaraan di Tanah Air. Dari sisi akademik, Feri memiliki fondasi yang kuat. Ia meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Andalas dengan predikat cumlaude, kemudian melanjutkan studi Master of Laws (LL.M) di William & Mary Law School, Amerika Serikat. Keilmuan tersebut membawanya dikenal luas sebagai pakar hukum tata negara yang kerap dimintai pandangan dalam berbagai isu strategis nasional. Perannya semakin terlihat saat dipercaya memimpin Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas pada periode 2017–2023. Melalui lembaga ini, ia aktif mendorong kajian kritis terhadap kebijakan negara, termasuk isu pemilu, independensi lembaga, serta arah demokrasi Indonesia. Memasuki perkembangan terbaru, Feri Amsari tetap aktif di ruang publik. Ia rutin tampil dalam forum diskusi, seminar nasional, hingga media massa untuk memberikan analisis terhadap isu-isu aktual—mulai dari penegakan hukum, dinamika politik, hingga kualitas demokrasi yang terus menjadi sorotan. Namanya juga semakin dikenal luas setelah keterlibatannya dalam film dokumenter Dirty Vote. Dalam film tersebut, ia bersama sejumlah pakar hukum lainnya mengulas dugaan persoalan dalam proses demokrasi menjelang Pemilu 2024, yang kemudian memicu diskusi luas di tengah masyarakat. Tak berhenti di situ, belakangan Feri juga mendorong gagasan “kabinet bayangan” yang ikut menyita perhatian publik. Konsep ini pada dasarnya merupakan praktik dalam sistem demokrasi, di mana kelompok di luar pemerintahan membentuk semacam tim tandingan untuk mengawasi, mengkritik, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Menurut pandangan yang berkembang, gagasan kabinet bayangan dinilai sebagai bentuk penguatan fungsi kontrol terhadap pemerintah. Dengan adanya pengawasan yang aktif dan berkelanjutan, diharapkan jalannya kekuasaan tetap berada dalam koridor konstitusi. Namun, wacana ini juga menuai pro dan kontra di tengah masyarakat, karena dianggap belum lazim dalam praktik politik Indonesia. Di luar aktivitas publiknya, Feri tetap dikenal sebagai penulis yang produktif. Ia aktif menulis di berbagai media nasional seperti Kompas, Singgalang, dan Haluan, dengan fokus pada isu hukum, politik, dan kenegaraan. Gaya tulisannya yang lugas dan argumentatif menjadikannya salah satu referensi penting dalam membaca situasi hukum di Indonesia. Jiwa aktivismenya sendiri telah terbentuk sejak masa kuliah. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Andalas, serta aktif dalam dunia jurnalistik kampus. Pengalaman tersebut membentuk karakter kritis yang terus ia bawa hingga kini. Di tengah perubahan zaman dan dinamika kekuasaan yang terus bergerak, Feri Amsari tetap menjadi salah satu figur yang konsisten menjaga nalar kritis publik. Bagi banyak kalangan, kehadirannya bukan sekadar akademisi, tetapi juga pengingat bahwa hukum seharusnya berdiri di atas kebenaran bukan sekadar mengikuti arah kekuasaan. Sumber: berbagai referensi profil publik, tulisan media nasional, dan pemberitaan terkini.

About