Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@dabest.mami:
dabest mami | mid size girly
Open In TikTok:
Region: PH
Saturday 02 May 2026 21:29:29 GMT
1470
263
10
4
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.54MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.7MB
)
Watermark .mp4 (
1.14MB
)
Music .mp3
Comments
Deng🍒 :
Saan nyo po nabili skirt nyo? Hehe
2026-05-03 01:27:09
1
BRANDONN@101284 :
ganda suuuper
2026-05-03 08:50:52
1
jimmy :
I love u
2026-05-03 00:55:31
0
Jay-r :
ate🥺🥺
2026-05-07 11:47:07
0
Hovik :
🔥🔥🔥🔥🔥
2026-05-05 19:45:00
0
rolando28 :
🥰🥰💕💕😘
2026-05-02 22:58:40
0
SG Garcia 🇨🇦🇨🇭🇵🇭⚓🧑🏭 :
pa notice po lods love 10/10 😍🫶✨🤍🤍🍑
2026-05-03 05:25:36
0
To see more videos from user @dabest.mami, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
this damn madoka slander and ppl calling her 'midoka' genuinely pmo, like I thought we had moved past this ages ago but ig not😭😭#madokakaname #madokamagica #edit #puellamagicamadoka #magicalgirl
Nggak cuma sekedar hafalin skrip doang loh Sampe lompatan begini 😰 #fake #fakesituation #bts #btsfilm #paketsantet #filmpaketsantet #dikiriminpaketsantet #fyppppppppppppppppppppppp #paket #viral #horormovie #fikinaki #viralvideo
us baldies are safe..😔🤚🏻 #fyp #hairloss
pt 8: Keesokan paginya, matahari mulai meninggi, menyinari teras paviliun belakang yang terasa jauh lebih tenang daripada rumah utama. Semalam, atas izin dan permintaan kedua orang tuamu yang tidak tega melihat kondisinya, Edwards akhirnya menginap dan tidur di paviliun. Kamu melangkah keluar ke teras membawa secangkir teh hangat, menemukan Edwards sudah duduk melamun di atas kursi kayu panjang. Sinar matahari pagi menyoroti lebam di wajahnya yang kini mulai membiru. "Kamu... udah baikan, Ed?" tanyamu lembut sambil menyodorkan cangkir hangat itu kepadanya. Edwards sedikit tersentak dari lamunannya. Dia menoleh, menatapmu dengan sepasang mata elang yang kini jauh lebih tenang dan jernih dibanding semalam. Dia menerima cangkir itu, membiarkan kehangatannya berpindah ke telapak tangannya yang masih dibalut perban tipis hasil balutanmu semalam. "Gue jauh lebih baik kalau ada lo di dekat gue," bisik Edwards lirih. Sudut bibirnya yang terluka sedikit berkedut, mencoba membentuk senyuman tipis yang tulus khusus hanya untukmu. "Makasih buat semalam, Y/N. Dan... maaf karena udah bikin keluarga lo ikut repot gara-gara gue." Kamu tersenyum tipis, lalu mendudukkan dirimu di kursi kayu yang sama, tepat di sebelahnya. Kamu merapatkan posisi dudukmu, ikut memandangi halaman belakang paviliun yang sepi sebelum akhirnya menoleh kembali padanya. "Gak usah dipikirin soal itu, Ed. Ayah sama Ibu justru khawatir banget sama kamu," ucapmu sambil perlahan mengulurkan tangan untuk menyentuh pundaknya, memastikan bahwa dia benar-benar merasa aman di sini sekarang. Edwards mengangguk kecil. Dia membawa cangkir di tangannya ke depan bibir, lalu meminum teh hangat itu perlahan. Sensasi hangatnya seolah ikut mengalir, menenangkan badai yang berkecamuk di dalam dadanya sejak semalam. Setelah meletakkan kembali cangkir itu ke atas meja kayu, Edwards menyandarkan punggungnya. Dia mendongakkan kepala, menatap langit pagi yang bersih dan luas dari bawah atap teras paviliun. Sepasang matanya terpaku pada sekelompok burung yang sedang terbang beriringan, melesat bebas membelah awan tanpa ada yang menghalangi. "Lo tahu, Y/N?" bisik Edwards tiba-tiba, suaranya terdengar begitu mengawang dan sarat akan kerinduan yang mendalam. "Gue selalu iri setiap kali ngeliat burung-burung itu. Rasanya... gue cuma mau terbang bebas kayak mereka. Pergi jauh dari rumah itu, dari nama Vernandez, dan dari semua aturan gila yang bikin gue ngerasa kayak pajangan mati." Dia menoleh sedikit, beralih menatapmu dengan sorot mata yang melunak namun terasa begitu intens. "Gue cuma pengen jadi Edwards yang biasa. Edwards yang bisa nentuin jalannya sendiri, dan yang paling penting... Edwards yang bisa terus ada di samping lo tanpa harus mikirin apakah dunia bakal mengizinkan kita atau enggak." Kamu tertegun mendengar penuturan jujurnya. Kamu ikut menatap langit yang ditunjuknya tadi, merasakan secercah harapan sekaligus rasa sesak yang kembali mengulik dadamu. Kamu menggeser dudukmu menjadi lebih dekat, lalu menggenggam tangannya yang bebas, meremas jemarinya dengan lembut untuk meyakinkannya. "Kamu pasti bisa terbang bebas, Ed. Suatu hari nanti," ucapmu dengan nada suara yang yakin dan menguatkan. Kamu menatap lekat-lekat kedua matanya, mencoba menyalurkan seluruh sisa kekuatan yang kamu punya ke dalam jiwanya. "Mungkin gak sekarang, dan mungkin jalannya gak akan mudah. Tapi aku janji, sebelum hari itu datang dan kamu bener-bener bisa lepas dari semua beban itu, aku bakal tetap ada di sini. Di samping kamu, jadi tempat kamu pulang setiap kali sayap kamu ngerasa lelah." ——— Deru mesin motor Edwards memecah keheningan jalanan kota sore itu. Angin sejuk menerpa wajah saat motor sport hitamnya melaju dengan kecepatan sedang. Kamu yang duduk di jok belakang melingkarkan kedua tanganmu dengan erat di pinggang tegapnya, menyandarkan dagumu di pundak cowok itu, mencari kenyamanan yang akrab. [lanjut💬] #POV #MARTIN #CORTIS #martinedwards
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy