Khoirul Anam book story :
Langit di matanya
Alisnya terlukis tenang, seindah garis cakrawala yang tak pernah memaksa matahari untuk tenggelam.
Ada kedamaian di sana,
yang tak bisa dijelaskan hanya bisa dirasakan seperti pelukan angin sore yang jatuh pelan ke pundak yang lelah.
Lalu matanya... Tuhan seolah menitipkan langit sore dan pelangi usai hujan di dalam sana.
Benar kata orang,
ada mata yang bisa membuatmu percaya bahwa rumah bukan selalu tempat-tapi bisa saja sepasang tatapan yang membuatmu ingin tinggal.
Aku jatuh, bukan hanya pada parasnya, tapi pada segala diam dan caranya menatap dunia seolah semua luka pernah bersarang, tapi ia tetap memilih menjadi lembut.
Senyumnya...
bukan sekadar manis,
tapi seperti lagu lama yang pernah mengisi malam-malam kosongku.
la tak menyadari,
bahwa kehadirannya adalah alasan seseorang kembali menulis puisi-padahal sebelumnya suciah patah, dan berniat berhenti percaya pada cinta.
Senyumnya...
bukan sekadar manis,
tapi seperti lagu lama yang pernah mengisi malam-malam kosongku.
la tak menyadari,
bahwa kehadirannya adalah alasan seseorang kembali menulis puisi-padahal sebelumnya suciah patah, dan berniat berhenti percaya pada cinta.
Kalau suatu hari nanti ia bertanya, apa yang paling kurindukan?
Akan kujawab:
Langit yang ada di matamu-dan semua hal yang membuatku yakin bahwa kamu pernah jadi hal terindah, meski semesta belum mengizinkan kita untuk bersama.
2026-05-14 06:04:34