rah.mau :
Satu tahun lebih aku bertahan dengan lelaki yang berkali-kali berselingkuh. Aku memaafkan, memberi kesempatan, dan berharap dia berubah.
Sampai 17 Desember 2025, semuanya runtuh. Aku mengetahui dia foto prewedding dengan perempuan yang selama ini menjadi selingkuhannya. Saat itu, aku memilih pergi dan berhenti berkomunikasi.
Tapi dia masih mengejarku. Di bulan Maret, dia meminta kesempatan lagi. Aku hampir luluh—bahkan sempat ingin menerimanya di 1 April.
Sebelum itu, aku mencari tahu kebenarannya. Dan pada 29 Maret, aku menemukan bahwa dia belum selesai dengan selingkuhannya. Bukan hanya satu, tapi beberapa perempuan lain. Bahkan, hubungan mereka sudah sampai HS.
Saat aku bertanya “kenapa?”, dia menjawab karena aku yang pergi.
Apakah itu cinta?
Atau hanya alasan untuk membenarkan perselingkuhan?
Yang aku lihat bukan cinta.
Tapi nafsu yang dibungkus dengan alasan.
Di saat aku memilih menjaga, dia memilih mengkhianati.
Di saat aku bertahan, dia justru mencari banyak selingkuhan.
Di situ aku berhenti. Tidak lagi memberi kesempatan.
Dia memohon, bersujud di kakiku, bahkan mengancam akan bunuh diri. Tapi aku sudah tidak bisa lagi kembali.
Aku belum sepenuhnya sembuh. Lukanya masih ada.
Tapi aku tahu, aku tidak akan kembali ke orang yang berkali-kali menghancurkan aku.
2026-05-06 03:07:15