@jontrader_com: comenta “PLAN” y te paso la info. ⚠️ Advertencia de riesgo Invertir en oro, bolsa o mercados financieros implica riesgo de pérdida de capital. Este contenido es informativo y educativo y no constituye asesoramiento financiero ni recomendación de inversión.

Jontrader
Jontrader
Open In TikTok:
Region: AD
Wednesday 06 May 2026 15:28:51 GMT
2370
79
15
39

Music

Download

Comments

ccoriba5
ccoriba :
Plan
2026-05-08 16:46:47
3
mativip1
Mativip :
Totalmente lo mejor es estar con familia si eres libre 🥰
2026-05-08 02:35:21
3
parezuprimo
parezuprimo :
Efectivamente 👏
2026-05-06 17:03:59
2
chicocrujiente
ChicoCrujiente :
Plan
2026-05-27 03:08:01
0
user7030590722167
user7030590722167 :
plan
2026-05-31 00:57:38
0
jorgehernandez0588
jorgehernandez3697 :
plan
2026-05-30 11:35:32
0
luis.quintana2505
Luis Quintana :
plan
2026-05-24 17:03:27
0
michael567100
Michael56 :
plan
2026-05-19 02:37:04
1
To see more videos from user @jontrader_com, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Bagian 3 | POV : Setelah percakapan di gerbang itu...Juhoon berubah. Bukan berubah jadi menjauh, bukan juga berubah jadi kehilangan rasa, justru sebaliknya—dia jadi jauh lebih berbahaya. Karena sekarang dia udah nggak ngejar kamu dengan cara yang terang-terangan lagi. Nggak ada lagi teriakan dari ujung koridor, nggak ada lagi alasan-alasan absurd cuma buat ngajak ngobrol, nggak ada lagi gangguan yang terlalu jelas sampai semua orang bisa lihat. Sekarang? dia main halus, dan entah kenapa, itu jauh lebih mematikan. Karena kalau dulu kamu masih bisa pura-pura kesal, sekarang dia bikin jantungmu berantakan tanpa melakukan apa-apa. Dan yang paling nyebelin...dia tahu persis efeknya. ——— Awalnya kamu nggak sadar. Kamu pikir semuanya biasa aja. Sampai suatu siang, saat rapat OSIS berlangsung.  Ruangan cukup ramai, laptop terbuka, slide presentasi terpampang di layar, dan pengurus OSIS duduk rapi di kursi masing-masing sambil memperhatikan materi yang sedang dibahas.  Dan di depan ruangan...kamu berdiri sambil menjelaskan program kerja, sedikit gugup. Tapi tetap berusaha terlihat tenang. Semua orang terlihat fokus ke layar, beberapa mencatat, beberapa mengangguk paham.  Semuanya berjalan normal. Sampai tanpa sengaja matamu melirik ke arah pintu kaca ruangan. Dan di situlah masalahnya dimulai, karena di balik kaca itu...ada Juhoon yang berdiri santai bersama beberapa teman basketnya, padahal harusnya dia ada di lapangan, harusnya latihan, harusnya sibuk dengan urusannya sendiri, tapi anak itu malah berdiri di sana—memperhatikan ke arah dalam ruangan, tepat ke arahmu, bukan ke layar presentasi, bukan ke pengurus OSIS yang lain, tapi beneran ke kamu, seolah-olah presentasi yang sedang berlangsung nggak lebih menarik dibanding ekspresi wajahmu saat menjelaskan sesuatu. Kamu mencoba mengabaikannya, berusaha tetap fokus, berusaha meyakinkan diri kalau mungkin dia cuma lewat, mungkin cuma kebetulan. Lalu mata kalian bertemu, dan saat itu juga...senyum Juhoon muncul, senyum yang terlalu santai, terlalu lebar, terlalu menyebalkan, seolah dia memang sedang menunggu kamu menoleh, seolah dia tahu kamu pasti akan melihatnya.  Dan sebelum kamu sempat bereaksi...dia mengangkat satu tangan—lalu melambaikannya pelan, santai. Kayak orang nggak punya dosa, kayak nggak sadar kalau kamu lagi presentasi di depan banyak orang, kayak nggak sadar kalau tindakan sesederhana itu berhasil bikin otakmu blank selama beberapa detik. Dan yang paling parah...dia masih sempat nyengir. Jantungmu langsung nggak karuan, kamu buru-buru buang muka, pura-pura fokus ke slide, pura-pura nggak melihat apa pun. Padahal wajahmu udah mulai panas, dan untung aja lampu ruangan nggak cukup terang buat memperlihatkan pipimu yang memerah. Dari luar sana...Juhoon memperhatikan reaksimu, lalu bahunya bergetar kecil. Dia ketawa, beneran ketawa ngelihat kamu, karena dia tahu persis kalau kamu salting.  ——— Yang lebih parah...terjadi sekitar seminggu kemudian. Dan kali ini, korbannya bukan cuma jantungmu, tapi juga harga dirimu. Sekolah lagi heboh-hebohnya urusan buku tahunan. Dari pagi sampai siang, koridor penuh siswa yang mondar-mandir. Ada yang sibuk benerin rambut, ada yang pinjam sisir, ada yang panik karena seragamnya kusut, ada juga yang dari tadi ngaca terus seolah hidupnya bergantung pada hasil foto hari itu. Dan, mau nggak mau...kamu termasuk salah satunya, bukan karena terlalu peduli. Tapi ya masa buat buku tahunan kamu keliatan jelek—pikirmu. Jadi hari itu kamu benar-benar niat. Rambut udah rapi, seragam udah disetrika  pita nama terpasang lurus. Pokoknya semua udah dipastikan aman, setidaknya menurutmu. Sekarang tinggal duduk manis di lapangan sambil nunggu giliran kelasmu dipanggil. ——— Angin siang berhembus pelan, suasana cukup ramai, teman-teman ngobrol di sana-sini, beberapa sibuk foto-foto sendiri, dan yang lain sibuk bercanda. Dan untuk pertama kalinya hari itu...kamu merasa tenang. Sampai suara yang sangat familiar itu muncul. —Cekrek— ( + 💬  )  #pov #juhoon #cortis #fyp #trending
Bagian 3 | POV : Setelah percakapan di gerbang itu...Juhoon berubah. Bukan berubah jadi menjauh, bukan juga berubah jadi kehilangan rasa, justru sebaliknya—dia jadi jauh lebih berbahaya. Karena sekarang dia udah nggak ngejar kamu dengan cara yang terang-terangan lagi. Nggak ada lagi teriakan dari ujung koridor, nggak ada lagi alasan-alasan absurd cuma buat ngajak ngobrol, nggak ada lagi gangguan yang terlalu jelas sampai semua orang bisa lihat. Sekarang? dia main halus, dan entah kenapa, itu jauh lebih mematikan. Karena kalau dulu kamu masih bisa pura-pura kesal, sekarang dia bikin jantungmu berantakan tanpa melakukan apa-apa. Dan yang paling nyebelin...dia tahu persis efeknya. ——— Awalnya kamu nggak sadar. Kamu pikir semuanya biasa aja. Sampai suatu siang, saat rapat OSIS berlangsung. Ruangan cukup ramai, laptop terbuka, slide presentasi terpampang di layar, dan pengurus OSIS duduk rapi di kursi masing-masing sambil memperhatikan materi yang sedang dibahas. Dan di depan ruangan...kamu berdiri sambil menjelaskan program kerja, sedikit gugup. Tapi tetap berusaha terlihat tenang. Semua orang terlihat fokus ke layar, beberapa mencatat, beberapa mengangguk paham. Semuanya berjalan normal. Sampai tanpa sengaja matamu melirik ke arah pintu kaca ruangan. Dan di situlah masalahnya dimulai, karena di balik kaca itu...ada Juhoon yang berdiri santai bersama beberapa teman basketnya, padahal harusnya dia ada di lapangan, harusnya latihan, harusnya sibuk dengan urusannya sendiri, tapi anak itu malah berdiri di sana—memperhatikan ke arah dalam ruangan, tepat ke arahmu, bukan ke layar presentasi, bukan ke pengurus OSIS yang lain, tapi beneran ke kamu, seolah-olah presentasi yang sedang berlangsung nggak lebih menarik dibanding ekspresi wajahmu saat menjelaskan sesuatu. Kamu mencoba mengabaikannya, berusaha tetap fokus, berusaha meyakinkan diri kalau mungkin dia cuma lewat, mungkin cuma kebetulan. Lalu mata kalian bertemu, dan saat itu juga...senyum Juhoon muncul, senyum yang terlalu santai, terlalu lebar, terlalu menyebalkan, seolah dia memang sedang menunggu kamu menoleh, seolah dia tahu kamu pasti akan melihatnya. Dan sebelum kamu sempat bereaksi...dia mengangkat satu tangan—lalu melambaikannya pelan, santai. Kayak orang nggak punya dosa, kayak nggak sadar kalau kamu lagi presentasi di depan banyak orang, kayak nggak sadar kalau tindakan sesederhana itu berhasil bikin otakmu blank selama beberapa detik. Dan yang paling parah...dia masih sempat nyengir. Jantungmu langsung nggak karuan, kamu buru-buru buang muka, pura-pura fokus ke slide, pura-pura nggak melihat apa pun. Padahal wajahmu udah mulai panas, dan untung aja lampu ruangan nggak cukup terang buat memperlihatkan pipimu yang memerah. Dari luar sana...Juhoon memperhatikan reaksimu, lalu bahunya bergetar kecil. Dia ketawa, beneran ketawa ngelihat kamu, karena dia tahu persis kalau kamu salting. ——— Yang lebih parah...terjadi sekitar seminggu kemudian. Dan kali ini, korbannya bukan cuma jantungmu, tapi juga harga dirimu. Sekolah lagi heboh-hebohnya urusan buku tahunan. Dari pagi sampai siang, koridor penuh siswa yang mondar-mandir. Ada yang sibuk benerin rambut, ada yang pinjam sisir, ada yang panik karena seragamnya kusut, ada juga yang dari tadi ngaca terus seolah hidupnya bergantung pada hasil foto hari itu. Dan, mau nggak mau...kamu termasuk salah satunya, bukan karena terlalu peduli. Tapi ya masa buat buku tahunan kamu keliatan jelek—pikirmu. Jadi hari itu kamu benar-benar niat. Rambut udah rapi, seragam udah disetrika pita nama terpasang lurus. Pokoknya semua udah dipastikan aman, setidaknya menurutmu. Sekarang tinggal duduk manis di lapangan sambil nunggu giliran kelasmu dipanggil. ——— Angin siang berhembus pelan, suasana cukup ramai, teman-teman ngobrol di sana-sini, beberapa sibuk foto-foto sendiri, dan yang lain sibuk bercanda. Dan untuk pertama kalinya hari itu...kamu merasa tenang. Sampai suara yang sangat familiar itu muncul. —Cekrek— ( + 💬 ) #pov #juhoon #cortis #fyp #trending

About